Dibalik Kelezatan Dry Age Steak di AB Steak by Chef Akira
Chef Andri Dionysius bercerita ide dibalik konsep dry age steak

1 / 3
“Ketika Anda mencicipinya, Anda akan tahu mengapa kita menggunakan teknik dry age,” tutur Chef Andri Dionysius dengan senyum lebar, ketika ditanyai mengapa ia memilih konsep dry Age steak with Japanese and Korean style cooking untuk restoran AB Steak.
 
Teknik dry age merupakan teknik penyimpanan daging yang sudah digunakan sejak ratusan tahun lalu oleh masyarakat Eropa. Teknik ini dilakukan dengan menyimpan daging di lemari pendingin khusus di mana temperatur dan kelembapannya dimonitor dengan seksama, kemudian dibiarkan selama beberapa hari, di mana kadar air daging akan berkurang membuat rasa autentik dari daging tersebut lebih tajam.
 
Tidak hanya membantu mengembangkan rasa, tapi juga membuat tekstur daging menjadi lebih lembut, seakan meleleh di mulut ketika Anda memakannya. Aroma yang ditawarkan tidak berbau amis namun menawarkan aroma yang sedikit cheesy. “Kita mencoba menggunakan potongan daging yang berbeda, dan mencoba dry age pada rentang waktu yang berbeda pula.” Chef Andri menyajikan potongan wagyu rib eye yang telah di dry age selama 120 hari.
 
Aroma khas yang dikeluarkan ketika daging menyentuh panggangan membuat antisipasi memuncak. Sebelum memanggangnya, Chef Andri memberikan taburan lada hitam dan himalayan pink salt untuk menunjang rasa daging. Hidangan yang terkesan sederhana ini dapat membuat orang berdecak kagum ketika mencicipinya.
 
“Bagi saya, makanan harus dapat memberikan kenikmatan agar dapat dikenang oleh orang. Inilah cara bagaimana orang-orang akan mengingat masakan Anda dan kembali lagi ke restoran Anda. Menjadi baik tidaklah cukup, namun Anda harus dapat meninggalkan kesan kepada mereka,” tutupnya. (AU) Foto: dok. Adelli Arifin
 

 




JOIN OUR COMMUNITY