Pengalaman Traveling Fotografer Nicoline Patricia Malina ke Destinasi Eksotis Dunia
Tibet, India, Turki adalah segelintir destinasi eksotis dunia yang pernah disambangi fotografer Nicoline Patricia Malina.
20 May 2015


Sosok fotografer Nicoline Patricia Malina tak mudah ditemui. Profesinya sebagai fotografer kerap membawanya berkeliling ke berbagai negara. Dalam waktu satu bulan saja, ia bisa berada di benua berbeda. Beruntung siang itu dewi berhasil menemuinya di toko miliknya, Alska. Di sana banyak terdapat pajangan, aksesori, dan peranti makan yang berasal dari Tibet, India, Yunan, Turki, dan Afrika Selatan. Benda-benda tersebut melambangkan simbol berkat, keberuntungan, dan filosofi masyarakat setempat, dan Nicoline pun mampu menceritakan asal usul dari setiap barang.

Suatu ketika, fotografer Nicoline Patricia Malina mendapat kesempatan memotret di Tibet dan mengunjungi beberapa kota seperti Lhasa dan Shiatse. Di Shiatse, Nicoline merasa bahwa kota itu bercerita tentang Tibet yang sebenarnya. Terletak enam jam dari Lhasa, pusat kota Tibet.  Sesampainya di sana, ia bagai menemui sebuah dataran kosong dengan pemandangan yang menakjubkan. “Penduduk di sana mungkin hanya sekitar 200 orang dan mereka juga kaum nomaden,” katanya. Ia lantas memerhatikan ekspresi orang-orang lokal yang ia temui di sana. “Mereka terlihat bahagia. Tibet bukan negara maju, bahkan bukan negara berkembang. Tapi saya melihat orang-orang di sana hidup apa adanya. Mereka menjalani apa yang ada di hadapan mereka tanpa beban. Mereka tidak sibuk mengejar sesuatu.

Di kesempatan lain fotografer Nicoline Patricia Malina yang akrab disapa Nic, bertandang ke Rishikesh, India. Ketika itu ia hanya diberitahu bahwa akan memotret di dekat sungai. Ia tak menyangka kalau sungai itu ialah Sungai Gangga di mana penduduk Rishikesh menaruh lilin sembari berdoa setiap sorenya. Lima hari menghabiskan waktu di India untuk pertama kalinya, Nic memahami Rishikesh ialah tempat bagi mereka yang hendak memperdalam yoga dan beribadah.

Ketika bepergian bersama orangtuanya ke Yunan, ia terpana dengan sebuah kota bernama Shangri La. Lanskapnya mengingatkan Nic pada Tibet, negara yang membuatnya selalu ingin kembali. Setelah Shangri La, ia mengunjungi Dali, kota di Yunan yang tak kalah terkenal. Di sana terdapat desa kerajinan indigo. “Indigo adalah warna favorit saya. Ia berasal dari material natural sehingga tidak menimbulkan sesuatu yang membahayakan. Saya selalu suka dengan segala sesuatu yang natural dan organik,” ujarnya. Baginya, kain idigo itu juga merupakan tradisi kerajinan tangan yang telah berusia ratusan tahun.

Dari tempat-tempat yang dikunjunginya, fotografer Nicoline Patricia Malina selalu membeli berbagai benda yang memiliki makna terhadap nilai-nilai di daerah setempat. Oleh karena itu ia membuka Alska sebagai tempat yang menandakan apresiasi terhadap kreasi kerajinan tangan masyarakat di berbagai belahan bumi. Semakin ia bepergian, semakin ia merasa tenang, “Saya sangat menikmati segala sesuatu yang ada di sekitar saya. Traveling membuat saya merasa damai.” Ada hal yang juga ia pelajari dari kegiatan favoritnya tersebut. Bahwasanya tidak akan ada sebuah negara yang membuat para pelancongnya merasa benar-benar nyaman seratus persen karena sebuah tempat hanya memberi kenyamanan bagi penduduk aslinya. Karenanya Nic juga senantiasa beradaptasi dan menikmati tempat-tempat yang didatanginya. (JAR) Foto: Melvin Roberto- NPM Photography, dok.Nicoline

 

Author

DEWI INDONESIA