Hunian Tak Bersekat Tamara Wibowo
Untuk hunian pribadinya, arsitek Tamara Wibowo menyuguhkan relasi tanpa batas antara eksterior dan interior.

1 / 5
“Menurut saya, karya arsitektur selalu mengambil bagian dari alam, sehingga seharusnya bias memberi kembali kepada alam. Caranya adalah dengan menciptakan desain yang berfokus pada alam dan menghadirkan unsur alam,” ujar arsitek Tamara Wibowo.

Penjelasan Tamara seakan menjadi filosofi yang melandasi visi hingga eksekusi rancangannya.Tidak hanya diaplikasikan pada proyek-proyek yang ditanganinya dalam naungan studio desain Tamara Wibowo Architects yang didirikannya pada 2015.Tetapi juga terwujud secara paripurna pada hunian pribadinya, yakni Bukit Kopi Residence, yang terletak di Semarang, Jawa Tengah.
Rumah seluas 600 meter persegi ini berdiri di atas lahan seluas 1.000 meter persegi. Secara gamblang Tamara menyampaikan bahasa arsitektur yang mengedepankan sinergi dan harmonisasi antara area outdoor dan indoor. “Di rumah ini, setiap bukaan diberi frame yang dilapisi kayu sehingga pemandangan yang tampak di luar seperti dibingkai dari dalam rumah,” ungkap Tamara.
Seluruh material yang digunakantersajisecara natural, seperti kayu jati dengan finishing natural, beton poles di lantai, dan acian mentah di dinding. “Hal ini dilakukan untuk menciptakan arsitektur yang jujur dan apa adanya. Arsitektur yang memiliki integritas dari karakter materialnya,” ujar Tamara.

Beton poles lantai dan acian mentah di dinding tidak hanya menarik dipandang mata tetapi juga mudah untuk dimiliki karena praktis tidak memerlukan perawatan. Tidak seperti dinding yang dicat atau wallpaper, dinding acian polos tidak perlu dicat ulang saat kotor atau diganti setiap lima tahun. Namun kayu jati memang perlu refinishing natural setiap dua tahun sekali terutama yang menghadap ke barat dan timur karena paparan sinar matahari yang lebih intens dibandingkan sisi yang menghadap utara dan selatan. 

Dalam proses perancangan, lokasi lahan yang berada di sudut jalan direspons dengan dua fasad rumah yang transparan untuk membaurkan eksterior dan interior hunian. Vegetasi yang sudah ada di lokasi, salah satunya pohon mangga yang telah tumbuh puluhan tahun, turut dimanfaatkan sebagai titik tolak berkembangnya gagasan-gagasan desain.
Tamara tetap memikirkan kebutuhan masing-masing anggota keluarganya. Ketika rumah dirancang, ketiga anak Tamara masih berusia tiga hingga delapan tahun. Karena itu ia perlu memikirkan aktivitas yang senang dilakukan anak-anak, terutama yang berada di luar rumah, seperti bermain sepak bola dan berlarian. Begitu pula dengan kegiatan anak di dalam rumah seperti di ruang main.

Bukit Kopi Residence menghadirkan pengalaman arsitekturdan interior yang sungguh mengesankan melalui interaksi dua arah antara eksterior dan interior. Hasilnya adalah atraksi visual dan kenyamanan yang tiada tara. BagiTamara, rumah adalah tempat yang sangat pribadi untuk penghuni. Rumah mencerminkan pribadi penghuni dari kebiasaan, hobi, dan juga filosofi hidup mereka. Dari situ, dapat terlihat bagaimana sikap penghuni terhadap alam maupun terhadap ruang-ruang di dalam rumah.
 
Hermawan K
Foto: Fernando Gomulya
 
 
 
 

 




JOIN OUR COMMUNITY