Cerita Misbah Surbakti dan Suka Duka Noken Pustaka di Papua
Walau berbagai kesulitan menghadang dalam menjalani Noken Pustaka di Papua, Misbah Surbakti tetap semangat salurkan minat membaca.



Semangat membaca turut menyala di tanah Papua. Aksi mengantarkan buku-buku dengan menggunakan Noken dan alat angkut lainnya untuk anak-anak dan masyarakat Papua. Noken sendiri merupakan sebuah tas kerajinan Papua yang dibuat dari rajutan serat kulit kayu dan anyaman daun pandan hutan. Biasanya dipakai untuk menyimpan dan membawa hasil kebun ke pasar. Noken juga kerap dipakai sebagai tas sekolah dan tas kerja di Papua. Gerakan Noken Pustaka didirikan oleh Misbah Surbakti pada 15 Desember 2015 silam. Ia selalu ingin menumbuhkan keinginan membaca dan sekaligus mengatasi masalah minimnya ketersediaan buku bagi anak-anak. Misbah Surbakti menggagas Noken Pustaka setelah dirinya mendapat dukungan dari seorang budayawan Nirwan Arsuka untuk menyebarkan buku-buku ke daerah yang sulit mendapatkan akses pustaka hpndi Kabupaten Manokwari, Papua.
Satu kali dalam satu minggu, relawan Noken Pustaka membawa dan mengantarkan buku-buku untuk anak-anak di ‘Para-para’ (Gazebo) di perkampungan. “Anak-anak sangat senang dan semangat membaca, terutama buku-buku cerita rakyat bergambar, majalah, dan komik kartun”, cerita Misbah saat dihubungi dewi melalui telepon. Di dalam tas Noken Pustaka berisi buku-buku pelajaran SD, SMP, dan SMA. Ada pula buku novel untuk remaja, komik untuk anak-anak, buku resep masak, buku sejarah dan biografi, serta berbagai majalah. Buku-buku tersebut merupakan donasi dari yayasan, komunitas buku, perusahaan penerbit, dan teman-teman penulis yang terhubung dengan Noken Pustaka melalui media sosial Facebook.
Upaya Misbah bersama Noken Pustaka tak lepas dari pandangan negatif orang lain. “Orang kerap mengira kami ini menjual buku. Ada juga yang menduga relawan Noken Pustaka mengerjakan proyek pemerintah. Sesungguhnya, apa yang kami lakukan bukan untuk uang dan upah”, ungkapnya. Namun ada kebahagiaan tak terukur yang ikut mengiringi perjalanan Noken Pustaka. “Ketika kami datang, anak-anak berteriak kepada teman-temannya ‘Baca buku..” dengan wajah ceria. Ada yang berebut, ada yang sekaligus memegang lebih dari satu buku, ada juga yang langsung membaca sambil duduk di ayunan. Menyenangkan sekali melihat itu semua”, cerita Misbah.   
Rasa senang anak-anak menyambut datangnya buku diikuti tantangan serupa kendala bagi Misbah dan tim Noken Pustaka. Sangat sedikit jumlah buku cerita rakyat bergambar untuk anak-anak dan jarak jauh yang menyulitkan penyebaran buku. “Yang bisa kami lakukan saat ini yaitu memperpendek jarak jangkauan. Untuk itu, kami punya relawan Rumah Baca atau pos Noken di setiap kecamatan. Ia mengatur relawan-relawan lain yang berada di kampung-kampung setiap kecamatan”, cerita Misbah. Sementara tim relawan Noken Pustaka harus kreatif mengelola pemakaian buku untuk mengatasi terbatasnya buku bacaan untuk anak. “Selain membaca buku, anak-anak dilibatkan dalam permainan setelah kegiatan membaca. Mereka membuat karya-karya sederhana sebagai pembelajaran dari apa yang telah dibaca. Sambil kami terus berupaya menambah jumlah koleksi buku Noken Pustaka Papua”, ujar pria yang juga aktif sebagai guru SMP di Manokwari, Papua Barat. (RR) Foto: Dok. Misbah Surbakti.
 

 




JOIN OUR COMMUNITY