Memperingati Hari Perempuan Internasional, Simak Eklusif Interview Dewi Dengan 6 Ikon #PowerfulWomen
8 Maret menjadi peringatan hari perempuan internasional, untuk merayakannya Dewi mengulas kembali eksklusif interview bersama para tokoh perempuan Indonesia yang berjasa dan berkarya.

Alanda Kariza
1 / 6
Grace Natalie 
Dari profesi wartawan yang memperkaya pengetahuannya, kini ia berjuang di medan politik untuk Indonesia yang lebih baik. Grace Natalie dikenal sebagai presenter berita di televisi nasional.  Delapan tahun berkarier sebagai wartawan ditelevisi, Grace lantas bergabung dalam Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Sebuah lembaga survey dan konsultasi politik, di mana hasil surveinya kerap menjadi acuan media massa, partai politik, dan pengambil kebijakan.
 
Grace menduduki posisi Chief Executive Officer. Di sini Grace kemudian mengenal politik lebih dalam. Grace Natalie mendirikan Partai Solidaritas Indonesia bersama Isyana Bagoes Oka, Raja Juli Antoni, dan Sumardy. Didirikan tahun 2014, Partai Solidaritas Indonesia, disingkat PSI, membawa identitas yang berasaskan kebajikan dan keragaman.
 
Baca juga: Kiprah Politik Grace Natalie Demi Tanah Air 
 
Alanda Kariza
Di usianya yang masih sangat muda Alanda Kariza sudah menjadi aktivis dan pembicara di acara-acara internasional Alanda Kariza menekuni ilmu Ekonomi Perilaku (behavioural economics) di University of Warwick, di Inggris dengan beasiswa sepenuhnya dari Pemerintah Inggris Raya. Alanda juga terpilih menjadi pimpinan perempuan pertama di organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia di United Kingdom (PPI UK) sejak organisasi tersebut berdiri pada tahun 1970-an.
 
Mereka menjadi tuan rumah simposium internasional yang dihadiri pelajar Indonesia dari 54 negara, membahas bagaimana anak-anak muda bisa memanfaatkan ekonomi dan industry kreatif untuk mengoptimalkan bonus demografi di tahun 2030 mendatang. Tahun 2009, Alanda kemudian menjadi satu-satunya wakil Indonesia di antara 60 orang terpilih untuk merepresentasikan Indonesia di ajang Global Changemakers Guildford Forum 2009. Ia juga mewakili Indonesia dalam Global Changemakers di G-20 London Summit. Alanda turut menginisiasi Indonesian Youth Conference sebagai media bagi anak muda Indonesia untuk menyampaikan aspirasi. 
 
Baca juga: Penulis dan Aktivis Alanda Kariza dengan Segudang Prestasinya 
 
Lisabona Rahman 
Bagi Lisa, film Tiga Dara (1956) telah mengubah hidupnya. Film karya Usmar Ismail ini bercerita tentang percintaan dan drama keluarga. Lisa pertama kali menontonnya pada tahun 2007, keadaan film yang sudah memprihatinkan membuatnya terdorong untuk menekuni seni restorasi film.
 
“Antara tahun 2011 dan 2012, saat saya mulai kuliah di sana, Yayasan Pusat Film Indonesia mengirim Tiga Dara ke Belanda untuk direstorasi. Yayasan ini berdiri sebelum saya meninggalkan Indonesia. Saya turut mendirikannya. Orlow Seunke, salah seorang pendiri yang aktif, mengupayakan restorasi itu,” kenangnya.
 
Lisa sempat bekerja paruh waktu di laboratorium film di Bologna Italia, disana ia merestorasi film-film dari berbagai negara dari yang umurnya 15 tahun hingga 100 tahun. Pada tahun 2015, film Tiga Dara di bawa ke laboratorium di Bologna untuk mengalami perubahan nasib, “Ternyata saya bisa ikut membantu prosesnya dengan ilmu yang sudah saya miliki.”
 
Baca juga: Jejak Penebusan Sinematik Lisabona Rahman 
 
Sakdiyah Ma’ruf 
Di tengah geliat dunia komedi di Indonesia, Sakdiyah Ma’ruf, muncul membawa angin segar. Sakdiyah menjadi satu dari sedikit stand-up comedian perempuan di Indonesia. Yang bikin ia istimewa, ketika melawak Sakdiyah mengarahkan leluconnya berupa kritik terhadap kelompok ekstremis. Lelucon yang berasal dari kemarahan dan ketakutan terhadap kekerasan dan budaya patriarki yang melekat dalam hidupnya sejak ia kecil.
 
 Tahun 2009, Sakdiyah menemukan dvd Robin William’s Live on Broadway dan menontonnya beberapa kali. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menyuarakan kemarahan dan melawan ekstremisme melalui komedi. Di tahun itu pula, Sakdiyah untuk pertama kalinya melawak dengan stand-up comedy di acara kampus. Lalu menemukan akun twitter Pandji Pragiwaksono, stand-up comedian Indonesia, dan mengikuti audisi Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV.
 
Baca juga: Sosok Sakdiyah Ma’ruf dan Optimismenya dalam Humor
 
Hannah Al Rashid 
Perkenalan Hannah Al Rashid terhadap pencak silat sudah terjadi sejak ia masih balita. Sang ayah, Aidinal Al Rashid, merupakan seorang pendekar Pencak Silat Bugis – Makassar, yang kemudian pindah ke Inggris pada 1970-an. Di sana, Aidinal Al Rashid tetap dengan setia menjaga adat dan budaya Indonesia, lalu mendirikan federasi silat di Inggris. Hannah kecil bersama dengan sang kakak kemudian mulai berlatih silat. Keseriusan akan silat baru dimulai ketika menginjak usia remaja, namun dengan cerita lucu dibaliknya.
 
Pencak silat sebagai salah satu cabang dari martial art dunia mengajarkan banyak hal bagi Hannah. Selain menemukan kebugaran dan memperkuat otot tubuhnya, ada makna yang tersimpan lebih dalam. Dari pencak silat, Hannah belajar mengenai egaliter antara laki-laki dan perempuan, solidaritas, bertarung tanpa menyerah, disiplin, dan percaya diri. Lebih jauh lagi, melalui pencak silat, Hannah belajar mengenai pelestarian budaya. Saat berdiri di sasana dengan membawa nama Indonesia, Hannah merasa seperti wanita Bugis seutuhnya, yang bertarung tanpa menyerah.  
 
Baca juga: Kisah Hannah Al Rashid dalam Mengenal Dunia Pencak Silat 
 
Inayah Wahid 
Inayah adalah anak ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dengan Sinta Nuriyah. Tiga kakaknya yaitu Alissa Wahid, Yenny Wahid, dan Anita Wahid. Anak-anak perempuan Gus Dur, tumbuh dengan ajaran bahwa mereka berhak melakukan apapun, asal bertanggung jawab. Nay mengaku, ia yang paling ‘provokatif’. Saat di bangku sekolah, ia pernah bolos satu bulan. Ayahnya dipanggil pihak sekolah. “Sampai di rumah bapak mengajak berdialog, ‘Kamu nantinya mau ngapain? Orang hanya bisa jadi pintar kalau belajar dan kerja keras.’ Dia nggak marah, tapi menjelaskan apa yang dibutuhkan untuk menjadi sukses.”
 
Inayah juga hendak melakukan napak tilas perjalanan Gus Dur. Dari Mesir tempat ayahnya kuliah, lalu sampai ke Eropa. Nay ingin menyelami apa yang pernah dilakukan dan dikunjungi ayahnya. “Saya yakin bahwa bapak menjadi orang yang egaliter, bijak, dan berpengetahuan luas salah satunya karena beliau rajin traveling. Setiap perjalanan itu membuka pikiran dan mengasah kepekaan kita sebagai manusia. Sehingga kita sanggup memahami apa itu kehidupan dan manusia secara utuh,” ujarnya, menutup pembicaraan.
 
Baca juga: Perjuangan Inayah Wahid untuk Indonesia yang Lebih Baik, Seperti yang Diimpikan Sang Ayah
 
(AU) Foto: dok. DEWI

 



JOIN OUR COMMUNITY