Terobosan Kevin Kumala untuk Pulau Dewata
Untuk keluar dari bencana sampah plastik, Indonesia perlu terobosan baru. Kevin Kumala mengajak kita semua ikut dalam perjuangannya.



Sejak kecil, Kevin Kumala menghabiskan banyak waktu di pulau Bali untuk berselancar dan menyelam. Pada tahun 1998, Kevin hijrah ke Amerika Serikat untuk menimba ilmu. Sejak saat itu, ia hampir tak pernah mendatangi tempat yang punya arti khusus untuk dirinya itu. Sebelas tahun kemudian, kejenuhan melandanya. Saat itu ia sedang kuliah jurusan kedokteran, setelah sebelumnya menyelesaikan pendidikan strata satu jurusan biologi di University of Southern California. Ia lalu mengambil cuti dari kuliahnya untuk menenangkan diri.
           
“Saya tidak punya niat apa-apa ketika itu selain break,” ujarnya. Ia ingat kembali pada cintanya terhadap Bali. Kevin lantas pergi ke sana, tempat yang ia pikir lebih menunjang untuk mengosongkan pikiran dan menenangkan diri dibanding hiruk-pikuk Jakarta. Kaget! Itu reaksi pertamanya saat tiba di Pantai Kuta. Memorinya akan pantai yang bersih, tanpa polusi, dengan pasir putih, sudah tiada lagi. “Pantai itu sudah tidak bisa lagi dipakai untuk berjemur, surfing, snorkeling, atau body board,” begitu ia berkata. Selain banyaknya pedagang yang memenuhi area pantai, yang membuatnya frustasi adalah jumlah sampah plastik. Sebagai peselancar dan penyelam, sampah plastik di lautan sangat berpengaruh terhadap keseimbangannya. Ia lalu menelusuri permasalahannya, apakah ini hanya terjadi di Pantai Kuta saja atau di seluruh Bali.

Indonesia selalu disoroti sebagai polutan plastik kelautan terbesar kedua di dunia, Kevin berbagi informasi ketika bertemu dengan Dewi di kantornya di Jakarta Selatan. Sementara, menurut Kevin, tindakan yang kita ambil masih jauh sekali dari solusinya. “Saya melihat belum ada pihak swasta yang memiliki terobosan untuk bisa membantu kita keluar dari epidemik ini,” ia berkata. Indonesia memiliki beban berat tapi Kevin optimis. Ini adalah sebuah kesempatan.

Tahun 2013, Avani Eco resmi berdiri, perusahaan start-up berbasis sains. Selama tiga tahun ia melakukan riset, tidak hanya bahan-bahan aman yang bisa digunakan untuk mengganti plastik tetapi juga perilaku konsumen. Berapa banyak orang yang membawa tas belanja sendiri, berapa banyak orang yang menggunakan sedotan dari bahan stainless steel atau kaca, dan berapa banyak sampah plastik yang didaur ulang  di Indonesia. Itu adalah sedikit dari hal-hal yang ia pertanyakan.

Banyak orang bicara tentang 3R yaitu Reuse, Reduce, Recycle.Namun dengan komitmen Indonesia untuk mengurangi sampah plastik hingga 70 persen di tahun 2030, kita perlu gebrakan baru. Menurut Kevin, kita perlu satu R yang baru yaitu Replace. “Dengan Replace, kita tidak mengubah gaya hidup, penampakannya tetap sama,” ujarnya. Kantong plastik tetap terlihat seperti kantong plastik, begitu pula dengan sedotan dan takeaway box. Yang diubah adalah material benda-benda tersebut.Sementara dengan 3R,kita perlu mengubah gaya hidup seperti harus meniatkan diri untuk membawa kantong belanja sendiri. Mengubah perilaku konsumen ini membutuhkan edukasi yang panjang, kemewahan yang tidak dimiliki Indonesia saat ini. (Nofi Triana Firman)

Foto: Junarta Taufik
Pengarah Gaya: Sasya Amanda
 

 
 

 




JOIN OUR COMMUNITY