Bangkitnya Elegansi Melalui Piano Karya Raul Renanda
Berkenalan dengan Awakening, piano karya Raul Renanda desainer interior dalam negeri, Raul melahirkan Awakening dengan kepercayaan bahwa Indonesia mampu membuat piano yang baik.

1 / 3
Ada yang terpikirkan oleh Raul Renanda ketika sejumlah klien memintanya mencari piano yang tepat untuk diletakkan di dalam rumah. Bagi Raul, ini bukan perkara mudah. Tak banyak piano yang ia anggap sesuai dengan desain modern karyanya. Terlebih lagi ia jatuh hati pada alat musik tersebut sejak lama. Bila waktu luang tiba, Raul segera duduk di depan grand piano yang ada di ruang keluarga rumahnya dan mulai memainkan nada-nada dalam aliran musik Jazz. Sesekali ia mengarang lagu. Belakangan Raul menyisakan waktu untuk menggambar desain piano. Ketimbang memberi referensi label piano bertaraf internasional kepada klien, Raul percaya bahwa Indonesia bisa mendesain piano berkualitas. Ia pun memulai langkahnya.
“Mengapa kita bisa mendesain gitar tetapi tidak membuat piano? Saya rasa ini karena mindset. Orang bisa saja menjadi tidak yakin setelah melihat kebesaran merek piano asal luar negeri. Pemikiran tersebut perlu dilawan. Awalnya saya berpikir apakah perlu membongkar piano di rumah. Ataukah hanya perlu mendesain cover untuk eksteriornya, atau mungkin hanya perlu mendesain ketiga kakinya. Saya tetap mencoret-coret kertas dengan desain piano yang ada di benak saya tanpa tahu persis bagaimana desain itu akan diwujudkan,” kata Raul. Gambar itu dilihat kawan Raul, Tompi, seorang dokter kecantikan dan penyanyi yang akhirnya menyarankan Raul agar bertemu musisi Aksan Sjuman untuk memperlihatkan gambarnya.
Raul skeptis tetapi tetap menemui Aksan. “Dalam waktu 10 menit dari perkenalan awal kami, saya merasa sedang berbincang dengan teman lama. Muncul kepercayaan di sana. Aksan tertarik dengan desain piano saya dan kami sepakat untuk merealisasikannya,” tutur pemilik brand Raul Renanda Design yang bergerak di bidang interior, arsitektur, seni lukis, dan kini musik.
Keyakinan Raul membulat setelah ia mencoba memainkan piano akrilik yang ada di Sjuman, showroom alat musik milik Aksan. Ketika itu Raul baru mengetahui bahwa dalam pembuatan piano, Aksan bekerjasama dengan Frankie Lioe, satu-satunya master piano tersertifikasi di Indonesia, sempat bekerja di Steinway & Sons, dan memiliki toko restorasi piano di Hamburg, Jerman. Frankie generasi kedua Lioe, orang Indonesia pertama yang membuka toko piano di dalam negeri.
 “Kami fokus untuk membuat fitur yang berbeda dari segi desain,” tutur Raul. Awakening, demikian Raul menyebut nama piano dengan seri SR 1928. “Sjuman Renanda 1928. Angka ini sebetulnya ialah cerminan sisi romantisme terhadap peristiwa Sumpah Pemuda 1928. Ketika itu Indonesia belum ada tetapi sudah ada lagu Indonesia Raya. Musik itu pemersatu. Kini lewat Awakening, kami menjalani tantangan baru yang ada di zaman ini yakni untuk memperlihatkan konsep desain kita ke ranah internasional.”
Kini Awakening masih dalam proses pembuatan. Tubuh sepanjang 2.75 meter akan berbalut kayu lapis yang mengilap. Di dalamnya tersimpan komponen –komponen asal negeri sendiri dan beberapa benda dari produsen perangkat pembuat piano berkualitas asal Eropa.
Beberapa waktu lalu sebuah pameran desain interior di Jakarta menampilkan prototip Awakening yang terbuat dari besi. Ia diletakkan di ujung ruang pamer dan dikelilingi banyak orang. Terutama bila Raul sedang memainkannya. Awakening menjadi penghibur manis dalam ekshibisi itu. Bentuknya cukup abstrak seperti susunan lempengan es di Kutub Selatan yang menyerupai kapal. Runcing, kokoh, tetapi tetap elegan. Tak heran bila ekspresi yang muncul saat melihatnya adalah alis yang terangkat disusul decak kagum.
Pekerjaan rumah penting bagi Raul dan Aksan sekarang ialah menentukan karakter suara Awakening. Akankah dia menjadi lembut atau lantang, serta komposer dan jenis lagu apa yang sesuai untuk dimainkan. “Kami harus menyelaraskan jiwa.” (JAR) Foto: dok. Raul Renanda.
 

 




JOIN OUR COMMUNITY