Seni dalam Desain Interior
Kongres Himpunan Desainer Interior Indonesia mengulik hubungan antara seni dan desain.

Desain memang tak pernah berdiri sendiri. Itulah yang memicu diskusi dalam rangkaian Kongres XIII Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) pada 20-22 Maret 2013 silam. Dalam riuh rendah acara pemilihan ketua HDII yang periode 2013-2015 yang kini dipegang oleh Francis Surjaseputra, diskusi dengan tema Design without Border pun digelar. Tiga narasumber kreatif dihadirkan demi memaparkan dunia kreativitas yang kian tak terbatas.

Seniman Irawan Karseno yang terkenal akan goresan abstraknya membuka sesi kala mengungkapkan ‘lompatan’ interior Indonesia yang seharusnya menjadi superioritas di Indonesia. Bagaimana seharusnya interior menjadi dominasi yang diperkaya dengan kekayaan seni dan goresan lokal yang mampu bersaing di dunia internasional. Menurut pengamatannya, ia pun mengungkapkan betapa besarnya kesadaran masyarakat Indonesia untuk menyerbu aneka karya lokal saat ini.

Lain lagi dengan sosok perupa grafis Tris Neddy Santo yang hari itu hadir bersama seniman Rotua Magdalena Pardede Agung. Seniman yang dikenal akan goresan berobyek perempuan dan alam ini juga menuturkan ‘hebatnya’ media grafis di berbagai ranah seni. “ Grafis ialah cikal bakal semua motif yang Anda saksikan di mana pun. Tak hanya di selembar kertas, tetapi juga d berbagai media. Grafis jugalah cikal bakal semua motif yang Anda lihat di dunia interior, termasuk wallpaper,”  ungkap Rotua. Sebagai bukti, Tris lantas menampilkan aneka kreasinya yang menerjemahkan goresan seni grafis ke dalam berbagai media furnitur. Dari dinding hingga sofa, sungguh memaparkan bukti kedinamisan seni dan desain yang tanpa batas. Sampai kemudian rangkaian talkshow pun ditutup dengan pembahasan mengenai kebenaran fakta dan mitos di dunia desain, yang disampaikan oleh Amien, seorang konsultan dan ahli feng shui. (MA) Foto: dok. HDII, dok. MA


 



JOIN OUR COMMUNITY