Adaptasi Feminisme Kini
Inilah bentuk feminisme yang dapat Anda temui saat ini.

Chanel
1 / 5
Hal paling sederhana dalam mengadopsi feminisme dilakukan melalui aksi kasatmata seperti tema feminis di fashion show. Karl Lagerfeld melakukannya untuk presentasi Chanel musim panas 2015. Pada penutupan show-nya, para model berjalan membawa spanduk berisi pesan-pesan moril seakan menyentil stereotip yang kerap mengkonotasikan bahwa para “feminis sejati” pantang terlihat modis atau feminin. Bentuk lain diadaptasi melalui penggunaan slogan-slogan. Layaknya yang dilakukan Dior pada kaus bertuliskan ‘We Should All Be Feminists’, yang lalu dibalas oleh Prabal Gurung dengan kaus ‘Yes, We Should All Be Feminists’ pada presentasi musim dingin 2017 di New York.

Kebijakan lebih taktis bisa dilihat dari penempatan wanita di posisi-posisi strategis pada label-label raksasa yang selama ini dipimpin oleh pria. Tahun 2014, Hermès untuk pertama kalinya menunjuk desainer wanita, Nadège Vanhee-Cybulski, sebagai kepala artistik sekaligus penerus nama-nama legendaris seperti Martin Margiela, Jean-Paul Gaultier, dan Christophe Lemaire. Keputusan radikal serupa juga diambil oleh Dior yang identik dengan pemimpin pria, ketika di tahun 2016 mengumumkan Maria Grazia Chiuri sebagai pemimpin kreatif wanita pertama dalam sejarah rumah mode tersebut.

Korporasi raksasa pun terlibat dengan membuat kampanye yang mendukung kesadaran akan isu kekerasan terhadap wanita. Kering Foundation untuk kelima kalinya membuat kampanye White Ribbon (kali ini bros didesain oleh Stella McCartney dan didistribusikan ke seluruh butik Kering) sebagai bagian dari International Stop Violence Against Women Day. Di tahun 2016 silam, program pengumpulan dana berbasis media sosial via #BeHerVoice kembali digagas untuk membantu wanita korban kekerasan domestik dan seksual. Sementara itu, Metropolitan Museum of Art juga telah mengumumkan untuk melakukan pameran yang memberikan penghargaan kepada Rei Kawakubo. Ia menjadi desainer wanita pertama yang masih hidup yang karyanya dipilih menjadi tema pameran di Met Gala.

Hampir dalam waktu bersamaan, suhu panas politik di Amerika membuat Business of Fashion menggagas #tiedtogether movement. Sebuah gerakan yang menyuarakan kesatuan—terlepas dari gender, ras, seksualitas, dan agama—yang diikuti oleh sejumlah desainer seperti Prabal Gurung, Tommy Hilfiger, Thakoon, Phillip Lim, dan Diane von Fürstenberg yang mengikatkan bandana putih pada model mereka. Langkah lebih radikal dilakukan Tory Burch, Marc Jacobs, Public School dan DKNY dengan mendesain baju yang berisi dukungan terhadap kandidat presiden wanita, Hillary Clinton.

Meski tak semua rumah mode mau terlibat terlalu politis, namun hubungan hangat antara mode dan feminisme semakin familier. Sejumlah rumah mode memilih tokoh publik yang dikenal vokal akan isu-isu kesetaraan gender sebagai ambasador atau duduk mengisi kursi barisan depan show mereka: dari Coach dengan Chloë Grace Moretz, Carven dengan Solange Knowles, dan Dior dengan Natalie Portman. Atau ketika memercayakan visual kampanyenya pada fotografer wanita, menggantikan dominasi fotografer pria di dunia mode—sebut saja Harley Weir untuk Céline dan Stella McCartney serta Coco Capitán untuk Gucci dan Paco Rabanne.

Respons kritis akan kontribusi mode untuk penetrasi semangat feminisme diberikan Winda Malika Siregar. Terlebih menyoal isu-isu mendasar, misalnya ketimpangan kebijakan bagi buruh wanita di industri garmen. “Menjadi seorang feminis tidak berarti Anda harus lantang dan membenci, tapi lebih kepada mendengar suara sesama dan mengedepankan welas asih. Sadarlah tentang latar belakang setiap produk mode, atau mengapa tren ini dan itu terjadi. Pelaku dan pencinta mode dapat memulai dari tidak lagi melahirkan tren yang terlalu cepat (fast-fashion) yang mempekerjakan wanita dan kelas sosial bawah dengan upah minimum,” tegas Winda. “Tentu dengan lebih menghargai dan mempekerjakan wanita di posisi papan atas dunia mode, penetrasi semangat feminisme lebih baik. Tapi hal ini tidak ada artinya bila tidak dibarengi semangat pembaruan di para pekerja mode yang tidak terlihat layar, para pekerja yang tidak terdengar suaranya, dan mereka yang datang dari ras, agama, gender, atau suku berbeda. Menciptakan tren yang akhirnya hanya memperbudak wanita mapan untuk gelap mata terus-menerus membeli thoughtlessly ketika menggunakan mode sebagai moda ekspresinya, adalah hal yang merusak semangat feminism di dunia mode itu sendiri.”

Hal senada diungkapkan oleh Vivian Idris. “Problem ini berakar dari sistem kapitalisme yang dianut oleh banyak korporasi. Akan lebih mudah bagi perusahaan untuk tidak memenuhi hak-hak pegawai wanita yang hamil dan dalam kondisi khusus lainnya. Tapi tugas employer bukan hanya meraup sebesar-besarnya keuntungan dari pegawai, melainkan wajib memerhatikan kesejahteraannya.” Vivian juga mengungkapkan, banyak hal yang bisa dilakukan di berbagai lini. Untuk pencinta mode misalnya, bisa berpartisipasi memberikan dukungan secara langsung maupun tidak langsung dari berbagai saluran yang ada, Non-Governmental Organization (NGO) yang menyuarakan hak-hak wanita dan buruh, media sosial, menulis di blog pribadi, tidak membeli pakaian dari sweatshop manufacturer, atau membeli pakaian dari label yang punya good policy terhadap pekerjanya. “Untuk pelaku bisnis mode, bisa berbuat jauh lebih banyak dengan pendekatan dan kebijakan kerja yang ‘women friendly’. Hal ini mulai dilakukan oleh beberapa label pakaian kecil serta besar, dan bukan saja menguntungkan pekerjanya tapi juga perusahaan. Riset membuktikan bahwa penjahit wanita ternyata lebih produktif ketika mereka bekerja di rumah. Kualitas kerja meningkat karena konsentrasinya lebih tinggi ketika kewajibannya sebagai ibu dan istri tetap terlaksana dan tidak segan bekerja lembur,” jelas Vivian.

Mode telah menjadi benang merah yang mendukung penetrasi semangat feminisme di masyarakat modern—meski masih banyak pekerjaan rumah dalam mendistribusikan kesetaraan hak kaum wanita. “Akhirnya dunia mode bisa melihat bahwa tujuan feminisme adalah untuk kebaikan bersama bukan sekadar jargon atau koar-koar semata. Saya percaya bahwa keputusan yang diambil oleh perusahaan-perusahaan raksasa ini tidak semata mengikuti tren, tapi juga melihat banyak keuntungan dengan menganutnya. Seperti memberikan kesempatan pada wanita untuk memimpin rumah mode raksasa yang sedianya digawangi oleh pria, if she is so competent and will bring the company to its peak, why not they employ a woman boss or designer. Kontribusinya tentu sangat besar, sebab dunia mode selain politik praktis adalah sebuah kultur yang melingkupi kehidupan setiap manusia (setiap orang perlu pakaian) dan sangat populer di mata media. Menyuarakan feminism lewat fashion membuat outreach feminism menjadi luas, tidak hanya monopoli para aktivis, akademis, dan pemerintah,” tutup Vivian. (RW) Foto: Dok. Chanel, Dior, Prabal Gurung, Mondadori, dewi
 

 




JOIN OUR COMMUNITY