Fenomena Tren Gigi Cantik
Dunia estetika gigi kini menawarkan berbagai solusi untuk membuat gigi Anda tampak cantik.



Pada umumnya masyarakat hanya mengenal dunia kedokteran gigi dari segi medisnya saja seperti perawatan gigi berlubang, perawatan saraf, pembersihan karang gigi, perawatan gusi bengkak dan berdarah, dan sebagainya. Hal ini terjadi karena dahulu orang-orang berdatangan ke klinik gigi karena mengalami keluhan-keluhan seperti ini, bukan untuk mempercantik gigi. Pernyataan ini dibenarkan oleh drg. Devya. Pada tiap bidang spesialisasi kedokteran gigi memiliki segi estetikanya masing-masing. Apalagi bila masalah yang dihadapi adalah susunan gigi yang tak rapi, gigi terlalu kecil atau besar, gigi kuning dan sebagainya, maka dibutuhkan penanganan yang lebih terarah.
 
Masyarakat belum memahami bahwa cosmetic dentistry bisa menjadi solusi atas segala persoalan penampilan. Serupa seperti prosedur kosmetik lainnya, cosmetic dentistry bertujuan untuk mempercantik. “Caranya dengan mengubah bentuk gigi sedemikian rupa sehingga seseorang dapat menonjolkan personalitinya, mengubah yang tidak proporsional menjadi lebih proposional. Pada bidang ini, dokter bertugas memaksimalkan bentuk gigi untuk mendukung elemen lainnya sehingga seseorang terlihat lebih cantik. Dengan catatan, tanpa mengorbankan segi kesehatannya,” ungkap drg. Astrid Khatalia, Sp. Pros dari Escalade Dental Care Specialist. Contoh yang sederhana adalah seperti membuat gigi yang kuning menjadi lebih putih dan sehat. “Namun, sayangnya banyak masyarakat belum teredukasi dengan baik tentang melakukan prosedur kosmetik gigi yang tepat. Gigi terlalu putih, veneer terlampau tebal dan sebagainya,” lanjutnya.
 
Pada awalnya, dunia estetika gigi didesain untuk mengatasi gigi yang rusak. “Dulu orang datang ke dokter gigi karena giginya rusak. Sekarang fenomenanya bergeser. Mereka datang ke klinik gigi karena ingin cantik,” pungkas drg. Devya dan drg. Astrid kepada dewi pada sesi temu yang berbeda. Ini terjadi karena kini kosmetik gigi ditunjang dengan teknologi yang semakin maju. Kualitas bahan-bahan yang digunakan untuk melakukan restorasi pada gigi juga semakin baik. “Misalnya saja, dulu, rasa ngilu muncul para orang yang melakukan bleaching. Sekarang rasa ngilu itu berkurang drastis. Veneer juga tersedia dua macam, direct dan indirect,” ungkap drg. Devya. Pada perawatan orthodonti juga serupa. Braces atau kawat gigi hadir dalam bentuk yang beragam, bentuk dan bahannya bermacam-macam, ada yang bening dan lebih halus sehingga pasien nyaman mengenakannya. Bahkan, bisa dicopot lalu dipasang kembali sesuai kebutuhan.
 
Selain itu, masyarakat mengenal dunia kosmetik gigi karena muncul fenomena atau tren gigi cantik. Diakui drg. Astrid, beberapa orang datang ke kliniknya dengan kondisi gigi yang sehat. “Tapi karena tren, mereka datang dan meminta untuk di-veneer misalnya, padahal ini tidak perlu dilakukan. Perlu perhitungan yang sangat matang untuk melakukan veneer. Tak jarang saya menolak melakukan prosedur ini karena secara medis giginya masih dalam kondisi baik dan sehat. Usianya juga masih sangat muda, sekitar 22 tahun. Saya menawarkan opsi lain yang realistis, seperti cukup menggunakan braces agar lebih rapi atau melakukan whitening saja agar warna gigi lebih cemerlang,” ceritanya. “Gigi akan digunakan seumur hidup, jadi jangan ambil jalan pintas untuk terlihat cantik,” lanjutnya. (MEL) Foto: dok. Billy Jayadi
 

 




JOIN OUR COMMUNITY