Lezat dan Sustainable di Fishbone Local
Restoran di area Canggu, Bali, yang mengolah bahan-bahan segar dengan tanggung jawab terhadap lingkungan.

BBQ Corn
1 / 8
Popularitas area Canggu yang terletak di sebelah selatan Bali semakin besar di satu dua tahun terakhir ini, terutama di kalangan yang peduli akan kesehatan dan wellness. Hal ini terlihat dari maraknya bermunculan studio yoga serta restoran-restoran yang menawarkan beragam masakan berbasis holistik dan keseimbangan, mulai dari jus, vegan, raw food, hingga organik.

Di antara jajaran restoran ini, Fishbone Local pun menancapkan ‘durinya’. Di bawah naungan Brett Hospitality Group, perusahaan yang berbasis di Bali arahan Dominique Brett, founder dan pengusaha restoran, dengan Isabella Rowell, seorang veteran di dunia perhotelan, dan Brant Bauer, seorang venue developer. Restoran dan bar yang baru berdiri di awal tahun 2018 ini menawarkan hidangan laut yang mengutamakan kesegaran, yang diolah dengan cara sederhana namun modern dan kontemporer—dengan kata lain, tanpa terlalu banyak basa-basi. Benjamin Cross, chef yang sudah memiliki nama lewat kreasinya di Ku De Ta dan Mejekawi, menjadi sosok di balik hidangan Fishbone Local.

Ya, menilik deretan menu yang ditampilkan, semua terlihat ‘jujur’ dan tanpa embel-embel yang terlalu pretentious. Maka menu yang disusun pun tidak terlalu ekstensif, dengan penjelasan pendek yang precise. Mayoritas, sekitar 90%, merupakan hidangan laut, dengan pengecualian menu Korean Fried Chicken dan Angus Beef Burger, serta menu side dish yang terdiri dari beragam olahan sayuran seperti Vietnamese Slaw dan Fatoush Salad, olahan kentang, serta nasi bagi mereka yang lidahnya ‘Indonesia banget’.

Menu yang ditawarkan berotasi setiap harinya, mengikuti ketersediaan bahan di pasar, dan mengambil inspirasi dari budaya barbeque atau pengolahan dengan cara dipanggang yang identik dengan Bali. Pengaruh cita rasa lokal di menu pun terasa, seperti Pan Seared Barramundi atau Tuna Tostada dengan bumbu sambal matah, yang bersanding dengan hidangan bercita rasa global seperti Tuna Poke Bowl atau Fish Taco.

Saat Dewi berkunjung, Dewi memulai makan siang dengan menu rekomendasi Prawn Toast, yaitu roti tawar berlapis olahan udang yang digoreng, dengan taburan cabai dan wijen—sebuah hidangan Cina modern yang populer dan direkreasi. Rasanya gurih dengan tekstur renyah; akan sangat cocok dinikmati bersama segelas bir dingin!

Untuk hidangan utama, tersaji Seared Tuna Loin serta Fish Tacos. Daging tuna yang tebal dimasak setengah matang, menghasilkan tekstur yang lembut dan menunjukkan kualitas kesegarannya karena tidak amis sama sekali. Saus chimichurri dan perasan jeruk nipis yang segar dan ringan membalut kesegaran ikan tanpa menutupinya secara berlebihan. Sementara Fish Taco merupakan potongan fillet ikan berbalut adonan tepung yang digoreng, dan disajikan dalam kulit taco dengan nanas panggang dan saus chipotle yang manis dan asam, serta taburan radish \yang menambah kerenyahan dan kesegarannya.

Sebagai peneman hidangan, Dewi memilih Grilled Chinese Broccoli atau sayur kalian panggang bertabur bawang putih goreng, dan Bbq Corn atau jagung bakar bertabur keju parmesan, cabai, dan jeruk nipis. Meskipun ‘hanya’ berupa side dish, kualitas kesegarannya tetap nyata. Jagung bakar menjadi favorit karena cita rasanya yang gurih dan kaya.

Jangan lewatkan pula sajian koktail di sini. Fishbone Local memiliki racikan klasik yang diberi twist rasa lokal, seperti dengan penggunaan jeruk limau, pandan, dan jeruk bali. Para penggemar gin boleh berbahagia karena pilihannya, terutama gin Australia, cukup banyak di sini. Selain koktail, tersedia pula wine dan bir, serta kombucha atau air kelapa bagi mereka yang tidak mengonsumsi alkohol. 

Bahan-bahan yang digunakan di Fishbone Local diambil dari sumber-sumber yang bertanggung jawab dan terpercaya. Restoran ini bekerja sama dengan Bali Sustainable Seafood, sebuah perusahaan social di Denpasar yang tidak hanya melakukan upaya untuk mengurangi dampak ekologis dari penangkapan ikan di laut, tetapi juga memastikan bahwa industri kecil dan menengah yang dijalankan oleh para nelayan lokal menjadi berkembang lewat sistem perdagangan yang adil.

Konsep sustainability tercermin pula pada desain restoran yang sleek. Dengan konsep semi outdoor yang luas, bangunan serba putih dengan detail raw concrete dan batu bata yang terekspos terlihat menyatu dengan effortless dan elegan dengan lingkungan sekitarnya. Material-material daur ulang, seperti meja dari kayu daur ulang, keranjang menu dari jarring ikan, serta perangkap kepiting yang dibuat menjadi penutup lampu, menghiasi restoran berkapasitas 100 tempat duduk ini. Suasana yang rileks membuat Anda betah berlama-lama, baik saat menikmati hidangan ataupun menyesap koktail di area bar.
(Margaretha Untoro) Foto: Dok. Fishbone Local
 

 



JOIN OUR COMMUNITY