Kisah Cinta dan Museum Rahasia
Papermoon Puppet Theatre mementaskan Secangkir Kopi dari Playa, tentang sepasang kekasih yang terpisah oleh peristiwa politik.

Selama tiga hari sejak Senin (30/9) hingga Rabu (2/10) kemarin, kelompok teater boneka asal Yogyakarta ini mementaskan pertunjukan bertema cinta dengan latar tragedi politik yang terjadi di Indonesia pada 1965. Karya yang pertama kali diproduksi pada Desember 2011 di Yogyakarta itu dipentaskan ulang di Jakarta dan menjadi bagian dari pekan “Budaya dan Konflik” yang digelar pada 29 September hingga 6 Oktober 2013. Program ini merupakan agenda tetap Goethe Institute yang diadakan setiap tahun.

“Kami sudah dua kali tampil dalam program ini. Pertama kali pada 2011, mementaskan Mwathirika yang memang juga berlatar kejadian 1965,” kata Iwan Effendi, seniman yang juga direktur artistik Papermoon Puppet Theatre. Namun kendati berlatar kejadian politik, baik Mwathirika maupun Secangkir Kopi dari Playa sama sekali tidak diberati pesan atau gugatan politik. “Kami hanya ingin melihat dari sisi korban yang terpaksa menderita atas sesuatu yang bahkan mungkin tidak mereka pahami penyebab dan situasinya seperti yang dialami Tupu di Mwathirika, atau Pak Widodo dan Bu Widari dalam Secangkir Kopi dari Playa,” ujar Maria Tri Sulistyani, penggagas teater yang juga penulis naskah dan sutradara yang biasa disapa Ria Papermoon itu.   

Konsep Secangkir Kopi dari Playa yang dipentaskan di sebuah tempat rahasia dan dibatasi hanya 30 penonton untuk tiap kali pertunjukan, justru membuat penasaran penonton yang membludak hingga Goethe Institute harus membuat dua kali pertunjukan tambahan dari empat yang dijadwalkan. Menariknya, alih-alih membeli tiket untuk bisa menonton pertunjukan yang diadakan di sebuah rumah di bilangan Menteng yang disulap Papermoon Puppet Theatre jadi Museum Pahit Manis itu, para penonton diwajibkan membawa sebuah benda kenangan yang akan ditukar dengan tiket menonton. “Ini kami lakukan untuk menambahi koleksi Museum Pahit Manis yang rencananya akan kami teruskan proyeknya hingga tahun depan untuk pertunjukan terbaru kami,” kata Iwan. Museum Pahit Manis didefinisikan oleh Iwan dan Ria sebagai sebuah tempat yang menyimpan benda-benda kenangan yang ingin dilupakan oleh banyak orang.

Meski difiksasikan oleh Ria, kisah pertunjukan yang melibatkan empat orang puppeteers termasuk Ria itu diadaptasi dari kisah nyata sepasang kekasih yang harus terpisah oleh konflik politik pada 1965 itu. “Cerita tentang Pak Widodo Suwardjo ini saya dengar dari seorang teman. Pak Wi adalah mahasiswa yang terpilih mengikuti tugas belajar ke rusia pada awal dekade 1960an karena hubungan baik Indonesia dengan negara tersebut. Pak Wi ketika itu telah memiliki kekasih bernama Widari. Pecahnya G30S, membuat sebagian besar mahasiswa yang sedang bersekolah di Rusia dicabut kewarganegaraannya karena dianggap komunis dan tak bisa pulang ke Indonesia. Dari situlah cerita cinta sedih itu bermula,” tutur Ria.

Bagi Ria, proses pembuatan Secangkir Kopi dari Playa memberinya pengalaman batin yang sangat menyentuh. “Saya jadi terhubung baik dengan Pak Wi yang sampai kini masih melajang dan tinggal di kota Playa, Kuba sebagai ahli metalurgi, maupun dengan Bu Widari yang sudah menikah, punya dua putra dan empat orang cucu. Bahkan ketika pertunjukan kedua di Jakarta pada Senin (30/9) lalu, Bu Widari menyempatkan datang dan menonton. Saya dan teman-teman grogi sekali. Di akhir acara, saya dan Bu Widari berpelukan lama. Matanya berkaca-kaca,” kisah Ria. (ISA), Foto: ISA         

 



JOIN OUR COMMUNITY