Lewat Kakoa Chocolate Sabrina Mustopo Majukan Kualitas Coklat Indonesia
Coklat Indonesia masih dianggap biji-biji coklat lokal berkualitas rendah. Lewat Kakoa Chocolate Sabrina Mustopo membalikkan kenyataan tersebut.

Usianya baru menapak ke 30, namun tekat kuat Sabrina Mustopo telah membawanya pada posisi CEO di Kakoa Chocolate, sebuah perusahaan coklat 100% produksi Indonesia yang berasal dari perkebunan coklat milik petani kecil di Lampung, Sumatera. Perusahaan yang ia bangun bersama rekan kerjanya ini memiliki dua misi yang selalu ia tegaskan kapan pun ia ditanya, pertama, menciptakan coklat Indonesia bertaraf world-class yang kompetitif di pasar global, kedua, meningkatkan taraf hidup petani coklat Indonesia.

Sabrina Mustopo yang lulus dari Cornell University di Amerika Serikat dalam bidang international agriculture and rural development membangun perusahaan Kakoa Chocolate bersama Simon Wright (mereka pernah sama-sama bekerja di McKinsey & Company di tahun 2014, mereka meninggalkan profesi mereka sebagai konsultan pertanian. “Setelah enam tahun saya memerintah banyak orang untuk berbuat ini itu, saya malah berpikir apakah saya bisa melakukan apa yang saya perintahkan itu pada diri saya sendiri?” ujarnya berbinar. “Saya mau lihat apakah saya bisa melintas batas dari seorang konsultan pindah ke tahap implementasi dan langsung turun ke lapangan.”

Ironisnya, Sabrina bukanlah pecinta coklat. “Saya tak tahu apa-apa tentang coklat kecuali memang ia berasal dari biji kakao,” ungkapnya dengan sedikit rasa heran terhadap apa yang telah ia lakukan. Ketika Sabrina sadar bahwa Indonesia adalah penghasil biji kakao terbesar ke tiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana, dan menemukan isu bahwa biji-biji coklat Indonesia dianggap berkualitas rendah, kemudian para petaninya masih berjuang keras untuk bertahan hidup, Sabrina terbuka mata, jiwa sosialnya berdegup kencang, ia melihat sebuah tantangan sekaligus juga potensi untuk membalikkan kenyataan yang ada.

Sejak tahun 2014, Kakoa Chocolate telah memfasilitasi lebih dari 60 petani coklat untuk mengikuti program pelatihan selama 8 minggu guna peningkatan budi daya coklat berkualitas baik, mereka belajar manajemen tanam dan bagaimana menjaga ecosystem lahan yang sehat. Dengan bantuan World Wildlife Fund, Kakoa Chocolate bekerja sama dengan para petani di area konservasi seperti di Bukit Barisan Selatan di Lampung, di tempat yang di kelilingi alam perawan, tempat yang masih didiami badak, harimau dan gajah.

Misman, 45 tahun, seorang petani coklat dari kampung Sedayu di Lampung, salah satu yang sudah berpartisipasi dalam program pelatihan yang digelar Kakoa Chocolate bulan Oktober 2014 lalu. Menurutnya, hampir semua petani di Sedayu menanam kakao tetapi mereka tidak tahu bagaiman merawatnya dengan benar. “Lima tahun terakhir ini, pohon-pohon kakao kami terkena hama dan kami tidak tahu bagaimana menanggulanginya. Saya merasa sangat bersyukur ketika Sabrina datang dan menawarkan pelatihan lalu membeli kakao kami dengan harga yang lebih tinggi. Ini membuat petani bersemangat untuk menanam lagi. Sejak kami dilatih oleh Kakoa, sekarang kami bisa berbagi ilmu dengan petani lain di kampung”, ujar Misman. Kakoa Chocolate memang membeli biji kakao dari petani ini dengan harga yang lebih tinggi dari  harga pasaran biji kakao. (TITANIA VEDA) Foto: Rizky Rezahdi

 



JOIN OUR COMMUNITY