Babak Baru Panggung Mode: Pergulatan Antara Kalender dan Relevansi Fashion Show
Relevansi gelaran peragaan busana dan kalender koleksi mode dipertanyakan. Di era digital yang serba cepat, perlukah hal-hal lama tersebut tetap dipertahankan?
23 Jun 2020


 

Peragaan Saint Laurent Fall Winter 2020 di Paris Fashion Week. Foto: Getty Images.


Saint Laurent memberikan pengumuman mengejutkan pada akhir April 2020. Rumah mode yang sudah eksis selama puluhan tahun ini memutuskan untuk tak menggelar peragaan busana apapun hingga akhir tahun, terutama dalam kaitannya dengan agenda Paris Fashion Week.

“Selama bertahun-tahun, kita sudah sama-sama tahu bahwa sesuatu harus berubah. Sekarang waktunya. Tidak ada alasan untuk mengikuti kalender yang dikembangkan bertahun-tahun lalu saat semuanya kini sudah berbeda,” kata Direktur Kreatif Saint Laurent Anthony Vaccarello secara eksklusif kepada WWD.

“Saya tak lagi mau terburu-buru membuat koleksi hanya karena ada deadline. Musim ini, saya akan mempresentasikan koleksi jika saya sudah merasa siap untuk melakukannya,” ujar Vaccarello. Langkah ini, kata Vaccarello, dilakukan karena perkembangan pandemi COVID-19 yang melanda dunia dan membuat banyak orang harus tetap di rumah untuk mengurangi penularan virus. “Ini memaksa kita secara tiba-tiba mengubah kebiasaan, sikap, dan interaksi kita dengan orang lain.”

Keputusan Saint Laurent kemudian juga diikuti beberapa rumah mode lain. Rumah mode pria, Ermenegildo Zegna misalkan, memutuskan untuk tidak menggelar peragaan busana lagi di sisa kalender tahun 2020. “Selalu ada waktu untuk semuanya. Ini waktunya untuk berpikir secara berbeda tentang masa depan,” kata CEO Ermenegildo Zegna Group, Gildo Zegna.

“Saya selalu ingin menggunakan format alternatif untuk bisa mengkomunikasi proses kreatif saya kepada penonton yang lebih luas,” kata Alessandro Sartori selaku Direktur Artistik Ermenegildo Zegna. Untuk itu, koleksi Ermenegildo Zegna XXX musim semi dan musim panas 2021 akan memperkenalkan konsep phygital, yang memadukan antara perangkat jalur digital dan juga kehadiran fisik. Ini menjadi sebuah sejarah unik dari rumah mode yang sudah berdiri selama 110 tahun itu.  

Di sisi lain, sebuah pakta baru bertajuk #rewiringfashion tercipta di dunia mode untuk mempertanyakan relevansi sistem dunia mode saat ini. Dipimpin oleh desainer Dries Van Noten dan didukung oleh Prabal Gurung, Missoni, Erdem, Anya Hindmarch, Jason Wu, Craig Green, Haider Ackerman dan masih banyak nama lainnya, pakta ini menawarkan proposal baru bagi industri mode.

Tidak hanya desainer yang bergabung dalam pakta ini, peritel semacam Lane Crawford hingga situs belanja online MyTheresa juga ikut serta. Ada tiga agenda besar yang coba ditawarkan oleh mereka. Yang pertama yaitu menghubungkan kalender mode dengan musim yang lebih relevan.

Presentasi koleksi saat ini dianggap terlalu jauh jangka waktunya dan menghilangkan keinginan para pembeli untuk memiliki pakaian yang dipresentasikan. Belum lagi, label fast fashion biasanya sudah terlebih dahulu mencuri desain para desainer yang dipresentasikan di peragaan sebelum koleksi asli mereka masuk ke butik.

Agenda kedua yaitu mempertanyakan format peragaan busana. Para inisiator dari #rewiringfashion mengatakan kalau seharusnya desainer diberikan kebebasan dalam melakukan presentasi dalam beragam bentuk, di luar format yang selama ini dikenal. Peragaan busana saat ini juga sebaiknya dikemas sebagai acara yang memikat konsumen, menciptakan awareness, dan juga memicu ketertarikan konsumen untuk membeli koleksi saat sampai di butik. Selain itu, mereka juga mengusulkan agar tidak ada kewajiban bagi desainer atau rumah mode untuk menggelar peragaan pada musim tertentu. 

Agenda ketiga yaitu meliputi perlawanan terhadap periode diskon yang dianggap terlalu panjang saat ini. Termasuk melawan diskon dalam musim seperti Black Friday, Singles Day dan Cyber Monday. Ini dianggap penting untuk tetap menjamin para pelaku industri tetap bisa menuai untung.

 

 

Suasana dalam salah satu peragaan Ermenegildo Zegna. Foto: Dok. Zegna.


Untuk itu, dunia mode tanpa panggung peragaan kini sangat mungkin menjadi masa depan baru bisnis mode secara global. Panggung mode yang dibangun dengan mahal untuk pekan mode--contoh saja, bagaimana Chanel membuat pantai hingga hutan tropis di Grand Palais beberapa waktu lalu--hingga ongkos bepergian ratusan dan ribuan undangan dari seluruh dunia untuk berkumpul di Paris, Milan, New York, hingga London selaku empat pekan mode terbesar di dunia kini dianggap eksesif.

Belum lagi cinderamata yang disediakan untuk mereka yang menonton, ataupun berapa banyak kertas yang digunakan untuk mencetak catatan koleksi bagi mereka yang hadir? Berapa besar jejak karbon yang dibutuhkan ratusan orang untuk berkumpul dari seluruh dunia dalam sebuah peragaan rumah mode besar? Atau, seperti yang diutarakan oleh Anthony Vaccarello, untuk apa kita menaati sebuah kalender yang dibuat di masa lalu, saat situasinya saat ini sudah berbeda?

Pertanyaan-pertanyaan itu kini berkecamuk dalam benak banyak orang yang terjun dalam bisnis mode. Akan tetapi, tiga platform besar pekan mode dunia sudah mengirimkan sinyal, kalau presentasi koleksi secara digital mungkin dilakukan. London Fashion Week menggelar pekan mode secara online untuk pertama kalinya sepanjang 40 tahun sejarahnya.

Paris Fashion Week dan Milan Fashion Week juga memutuskan untuk menggelar presentasi koleksi secara digital. Dua pekan mode ini juga bertukar jadwal. Jika biasanya Paris menjadi penutup rangkaian pekan mode, kini Milan yang menjadi penutup pada Juni mendatang.    

Paris Fashion Week untuk koleksi pria dijadwalkan akan berlangsung pada 9-13 Juli 2020 dengan konsep konten berupa video saja. Ini berbeda dengan London yang menawarkan kemungkinan konten yang lebih beragam dan bahkan mengizinkan desainer womenswear untuk ikut serta dalam pekan digital yang mereka adakan. London sendiri akan menggelar pekan mode digital pada 12-14 Juni 2020, dan Milan pada 14-17 Juli 2020.

Dalam agenda digital ini, Paris Fashion Week disebut lebih terstruktur untuk kepentingan bisnis ketimbang hanya berupa parade konten. Vogue melansir kalau Paris Fashion Week kemungkinan besar akan menuju ke arah yang lebih serius, mirip seperti pekan mode secara fisik. Bahkan mereka juga menyediakan virtual showroom bekerjasama dengan platform Sphere.  

Sementara itu Corine Roitfeld lewat program CR Runway miliknya mencoba sebuah konsep yang disebut runway from home. Bekerjasama dengan amfAR dan juga YouTube sebagai platform utama, Corine menghimpun sejumlah besar supermodel dunia untuk memperagakan busana high-fashion dari rumah mereka sendiri. Tercatat Eva Herzigova, Karlie Kloss, Halima Aden, Alessandra Ambrosio, Joan Smalls, Irina Shayk hingga Ashley Graham ikut serta dalam peragaan dari rumah untuk donasi COVID-19 ini.

Di Asia, peragaan busana secara online, atau menonton siaran langsung peragaan bukanlah sesuatu yang baru. Tokyo Fashion Week yang membatalkan agenda peragaan koleksi musim gugur dan musim dingin pada Maret 2020 lalu, memutuskan untuk segera memindahkan peragaan dalam format digital. Langkah berani Tokyo sepertinya menjadi dasar pengambilan keputusan pekan mode dunia lainnya untuk melakukan langkah serupa. Begitu juga dengan Shanghai Fashion Week yang merilis versi digital peragaan mereka dan menjadi contoh beberapa pekan mode lain untuk melakukan langkah serupa. (Subkhan J. Hakim) Foto: Getty, Zegna

Artikel ini sebelumnya juga tayang di Majalah Dewi Edisi Juni 2020


 










 

 


Topic

Runway, Peragaan Busana

Author

DEWI INDONESIA