Ini Makna Tersembunyi Batik Presiden Joko Widodo
Dalam perayaan Hari Batik Nasional 2019, Presiden Joko Widodo mengenakan batik dengan motif Tambal Pamiluto. Batik ini ternyata memiliki makna tersembunyi.
4 Oct 2019




Perayaan Hari Batik Nasional yang berlangsung di Puro Mangkunegaran pada 2 Oktober 2019 tentu menjadi momen spesial bagi batik Indonesia. Batik sebagai sebuah warisan tak benda, sebenarnya bukan hanya soal tekstil. Tapi lebih dari itu, batik merupakan tradisi yang penuh dengan cerita di belakangnya.

Dalam kesempatan perayaan itu, Presiden Joko Widodo memilih mengenakan batik motif Tambal Pamiluto. “Momen ini menunjukkan komitmen kita untuk memastikan generasi muda mencintai batik. Komitmen itu akan terus kita pegang,” kata Presiden Joko Widodo, Rabu, 2 Oktober 2019.

Motif Tambal Pamiluto merupakan motif yang menyatukan banyak motif batik dalam satu kain, seperti motif batik Sekar Jagad. Mulai dari truntum hingga parang bersanding dengan cantik dalam satu kain. Tambal Pamiluto merupakan salah satu motif khas milik Puro Mangkunegaran.

Jika diterjemahkan, Tambal Pamiluto memiliki arti terpikat. Ini menandakan Presiden Jokowi ingin masyarakat Indonesia juga terpikat dengan batik. 

“Motif semacam ini menyiratkan semangat persatuan. Sekar Jagad itu menyatukan banyak motif dalam satu kesatuan. Tentu pesan yang ingin disampaikan pemakainya juga sama,” kata desainer Era Soekamto yang hadir dalam perayaan Hari Batik Nasional 2019.

Menurut Era, Presiden Jokowi seringkali memanfaatkan batik sebagai bahan diplomasi dalam beragam kesempatan. “Contohnya, waktu itu Presiden Jokowi pernah mengenakan batik dengan motif wayang saat bertemu dengan para pemimpin Keraton dan Kerajaan di Indonesia. Ini merupakan simbol kalau Jokowi bersedia untuk berkompromi dengan menjadi wayang bagi para pemimpin kerajaan yang bertemu dengannya.”

Puncak Perayaan Hari Batik Nasional 2019 diselenggarakan di Solo. Dalam peringatan itu, sekitar 500 pembatik melakukan prosesi membatik di halaman Istana Mangkunegaran, Solo. (Subkhan J. Hakim) Foto: Djarum Bhakti Budaya.


 
 
 

 

Author

DEWI INDONESIA