Cinta Happy Salma Terhadap Dunia Sastra
Sastra mempunyai arti dan penjelasannya sendiri untuk seorang Happy Salma.

Happy Salma mempunyai alasan mengapa ia jatuh cinta kepada dunia sastra. Sastra aselalu bicara tentang kehidupan manusia dengan sifat-sifatnya serta alam semesta, dan tentu termasuk masalah-masalhnya. Happy merasa beruntung sekali memiliki guru yang memperkenalkannya pada sastra. Karya sastra pertamanya adalah Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana yang ia baca saat duduk di kelas 5 Sekolah Dasar. Keteguhan Happy Salma mengembangkan industri teater Indonesia dimulai dari kecintaanya pada sasta. “Teater adalah pilihan untuk mengalihwahanakan sastra. Pilihannya ada film atau panggung. Saya merasa lebih cocok memilih panggung.” Katanya.
 
Nama dan wajah Happy Salma sudah tidak asing lagi untuk penikmat dunia hiburan Indonesia. Wanita kelahiran 4 Januari 1980 ini mengawali kariernya ketika menjadi finalis ajang pemilihan model Gadis Sampul. Beranjak dewasa, Happy merambah dunia sinetron dan film. Namanya semakin harum setelah meraih Piala Citra untuk kategori Pemeran Pendukung Wanita Terbaik di Festival Film Indonesia 2010 dan Indonesia Movie Award untuk perannya dalam film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita. Happy menyumbangkan ide cerita yang akan diangkat ke atas pentas melalui Titimangsa Foundation, tak jarang ia pula yang melakonkan peran di cerita tersebut. Anda mungkin ingat peran Happy sebagai Nyai Ontosorohdi tahun 2016 silam dalam pementasan Bunga Penutup Abad, yang diadaptasi dari roman Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Happy juga berperan dalam Monolog Inggit, yang dipentaskan sebanyak delapan kali dalam kurun waktu 2011-2014. (NTF) Foto: Adiansa Rachman
 
 

 



JOIN OUR COMMUNITY