Karya Tulisan AS Laksana, Sang Penulis
AS Laksana masuk sebagai salah satu daftar men to watch pilihan dewi.




Buku cerita pendek pertamanya, Bidadari yang Mengembara, terbit pada 2004 dan meraih penghargaan Buku Sastra Terbaik dari majalah Tempo. AS Laksana, sang penulis, dipuji mahir berakrobat dengan tata bahasa, piawai meramu humor, kelisanan, dan budaya massa dalam prosa. Sebelum menggeluti sastra, lelaki yang biasa disapa Sulak ini pernah bekerja sebagai wartawan tabloid Detik yang dibreidel di masa presiden Soeharto berkuasa. Pada 2013,  ia menerbitkan buku cerita pendek lagi, Murjangkung, Cinta yang Dungu dan Hantu-Hantu, dan kembali meraih penghargaan Buku Sastra Terbaik dari majalah Tempo. Buku yang sama masuk Lima Besar Khatulistiwa Literary Award 2013.  
 
Awal September ini, buku terbarunya Si Janggut Mengencingi Heru Cakra diluncurkan. Menjadi penulis yang konsisten dengan karya-karya yang ditunggu pembaca ternyata tidak memuaskan jiwanya.  Bertolak dari rasa prihatin terhadap dunia penulisan di Indonesia, Sulak dan dua temannya lantas mendirikan sekolah menulis kreatif Jakarta School pada 2004. “Menulis adalah latihan terbaik untuk memperbaiki cara berpikir. Ketika menulis, seluruh proses berpikir kita dilibatkan, ada mengingat, menganalisis, berobservasi, berlogika. Karena di sekolah tidak ada pelajaran menulis, maka rata-rata orang tidak terlatih berpikir,” katanya. Ia juga aktif mengajar di kelas-kelas menulis yang diselenggarakan berbagai lembaga di Jawa dan di luar Jawa. Sejumlah anak muda yang mengikuti kelas menulisnya kini membentuk generasi penulis baru di Indonesia.
 
Kegiatan rutinnya sejak 2009 ialah menulis untuk kolom tetapnya “Ruang Putih” di suratkabar Jawa Pos.  Kolomnya yang muncul setiap minggu itu termasuk kolom media terpopuler di Indonesia. Tulisan-tulisannya bernada satir, dengan cakupan tema yang luas, dari politik hingga sastra, dari kebijakan hingga sepak bola.
(LC) Foto: Dok.Dewi.
 

 



JOIN OUR COMMUNITY