Transformasi Helena Abidin Untuk Menemukan Diri
Helena Abidin memeluk perubahan dengan sayang. Sebab hidup adalah kata lain dari proses mencari, menemukan, dan meninggalkan.
16 Jul 2020




Dari suaranya yang menenangkan dan sorot mata penuh kasih itu terlontar satu kalimat bagaimana ia menggambarkan dirinya. “Saya adalah orang introver dengan kebijaksanaan, kasih sayang, semangat kreativitas, dan hati pemberontak, yang menikmati percakapan yang mendalam dan kuat,” kata Helena Abidin, Corporate Director sekaligus Leadership Wisdom Specialist Certified dan Meditation Instructor di Golden Space Indonesia, sebuah pusat transformasi, meditasi, dan healing. Sebelum singgah di sini, ia memiliki karier di dunia korporat selama seperempat abad. Ia meninggalkan kariernya sebagai anggota Board of Directors dan Direktur Pemasaran sebuah brand otomotif Eropa ternama selama 16 tahun.
 
Di sela kesibukannya berkarier, Helena telah melakukan yoga selama kurang lebih lima tahun. Lalu ia mulai bermeditasi dengan lebih serius dan konsisten. Awal 2018, ia mantap mengubah arah hidupnya melalui transformasi besar. Helena mengikuti program Awaken The Divine You dari The Golden Space Indonesia. Pada saat bersamaan, ia merasa terpanggil untuk melakukan hal yang lebih besar dalam hidupnya. Maka, awal tahun 2019 ia menjadi mitra bisnis The Golden Space Indonesia dan mengambil peran untuk memperkenalkan program mindfulness kepada dunia korporat.
 
“Sudah lama saya mempertanyakan, siapa diri saya sesungguhnya? Apa yang harus saya lakukan di dunia ini? Dua pertanyaan ini terus saya gali saat menekuni prinsip personal branding,” ujarnya. Sebagai orang yang punya perhatian terhadap prinsip personal branding, ia percaya hal itu harus otentik dan murni dari dalam diri.
 
“Proses transformasi diawali dengan langkah keluar dari kenyamanan hidup kita yang sudah terbangun sekian lama. Kekuatan diri pada tahap ini sangat penting. Akan banyak tantangan dan resistensi, dan bagi sebagian besar orang menakutkan. Meditasi hadir sebagai alat,” Helena menjelaskan. Tahapan selanjutnya ialah memantapkan langkah hidup dengan komitmen penuh untuk maju dalam sebuah perubahan. Perlu sebuah keberanian untuk tetap melangkah walau diri kadang diselubungi ketakutan.
 
“Kemudian, memasuki tahap transformasi. Kita kembali ke lingkungan sebelumnya sebagai diri kita yang baru. Masa ini memerlukan dukungan komunitas atau support system. Biasanya lingkungan lama akan mencoba menarik kita kembali kepada diri kita yang lama,” ia melanjutkan. Saat ini, Helena sedang berada dalam tahap berikutnya yaitu transmisi di mana ia membimbing dan membantu orang lain menjadi seorang agen perubahan. Tahap ini memerlukan visi yang lebih besar serta keberanian,” ujarnya.

 
 
 


Tentu saja segalanya tak pernah menjadi mudah seperti mengedipkan mata. Para sahabat bahkan keluarga terdekat mempertanyakan dan meragukan keputusannya. “Mereka menganggap saya tidak normal. Banyak teman-teman kerja merasa panik terhadap langkah saya meninggalkan dunia korporat, mereka diam-diam memonitor akan seperti apakah saya jadinya nanti. Saya bergelut dengan rasa takut, khawatir, dan emosi lainnya sepanjang perjalanan ini,” kisahnya. Tetapi, Helena tidak bergeming. Ia tetap melangkah maju. Sebab ia percaya dan mengikuti bisikan hatinya. Saat kebanyakan orang lebih mendengar apa yang orang katakan, ia memilih mendengar suara hatinya sendiri. Rasa takut dan gusar yang menghinggapinya disadari berasal dari ego serta pikiran. Hal tersebut menjadi latihan untuk memperkuat langkahnya ke depan.
 
Seraya terus berjalan mengikuti kata hati, ia telah melepaskan dan menemukan. Helena melepaskan kehidupan yang menuntut kesempurnaan. “Menjalani hidup seperti itu membuat saya menjadi bitchy, dingin, dan merasa sepi. Hati saya tertutup. Tidak bisa mengekspresikan serta menerima cinta kasih,” katanya. Namun, rupanya bukan hanya hidup serba sempurna yang ia lepaskan. “Saya juga meninggalkan kebutuhan impresi diri dan sanjungan orang lain. Termasuk kebutuhan membuat orang lain senang, keinginan menjadi pahlawan yang berdasarkan ego, untuk selalu sibuk karena merasa diri orang penting, serta untuk selalu berpacu dengan waktu,” ia menuturkan.
 
Dengan lepaskan itu semua, ia menemukan sesuatu yang tak ternilai. “Saya temukan kebebasan serta kebahagiaan yang mendalam dan hangat dari dalam diri sendiri. Saya bebas dan bahagia menjadi diri saya yang otentik, senantiasa dalam kecukupan, merasa sangat cantik karena inner beauty, bijaksana, penuh cinta dan juga super powerful. Saya membangun karakter diri berdasarkan kebijaksanaan, keberanian, keadilan, dan self-mastery. Setiap hari adalah untuk melayani, memimpin, dan menciptakan,” ungkapnya. Begitulah pula cara Helena memaknai hidup. Baginya, warisan hidup dibangun setiap hari melalui tindakan dan kekuatan karakter.
 
Terdapat perbedaan cara pandang Helena yang dulu dan sekarang dalam melihat dunia. “Dulu, saya melihat dunia dan manusia seperti terkotak-kotak, terbelah, terpisah. Saat ini saya melihatnya sebagai sebuah kesatuan yang tak terpisahkan. Bumi, manusia, hewan dan segala sesuatu yang berada di sekitar kita adalah satu yang tak terpisahkan dan kita harus memberikan respek dan cinta kasih bagi semuanya,” kata perempuan yang pernah mendapatkan Award for Distinguished Service in Support of The People of Indonesia dari Habitat for Humanity Asia Pacific tahun 2017. Penghargaan ini diberikan atas kontribusinya dalam proyek Women Build yang memberdayakan perempuan untuk membangun rumah bagi keluarga kurang mampu.

 
 
 


Maka boleh dikatakan Helena sedang berbahagia. Jika diihat dari definisi kebahagiaan menurutnya, yakni ketika ia merasakan kebebasan, kecukupan, dan kelimpahan dari dalam diri. Pada akhirnya, apapun bentuknya, kebahagiaan ditentukan oleh diri kita sendiri. Di lain sisi, Helena merasa sukses ketika dapat membantu seseorang menemukan kekuatan baru di dalam dirinya sehingga ia bisa menjadi seorang agen perubahan bagi orang lain. Perubahan bisa dimulai dari hal sederhana. Seperti yang ia lakukan pada selembar kertas kecil. Ia suka membuat tulisan tangan cantik berisi pesan-pesan positif. Kemudian, ia meninggalkannya di tempat-tempat yang dikunjungi misalnya kafe, toilet, atau kantor. Siapa tahu, dari tulisan sederhana tersebut bisa menyemangati seseorang yang menemukan dan membacanya, yang mungkin sedang berada dalam masa sulit.
 
Kini, bersama Golden Space Indonesia, Helena kembali ke dunia korporat lewat misi yang berbeda. Dengan pengalamannya sebagai pemimpin dan eksekutif serta transformasi dialaminya, ia membantu pemimpin bisnis dan eksekutif melalui pelatihan mendalam agar mereka dapat memimpin bisnis dan tim secara lebih intuitif dan compassionate. “Bisnis di masa krisis dan pandemi saat ini membutuhkan pemimpin yang intuitif dan compassionate. Dalam masa normal, kepiawaian kepemimpinan sudah cukup membawa mereka untuk sukses. Tapi, saat di mana mereka menghadapi sebuah kondisi yang penuh ketidakpastian, mereka harus dapat mengambil tindakan dan kebijakan dengan mengandalkan intuisi. Dengan compassion, seorang pemimpin dapat mengambil keputusan dan tindakan dengan mempertimbangkan aspek dampak yang positif,” ujarnya.

Petualangannya masih berlanjut. Bisa jadi ini hanya awalan babak baru kehidupan Helena. Ia juga belum selesai dengan dirinya sendiri, “Perjalanan saya hanya akan selesai jika sudan benar-benar sampai titik akhir,” ungkapnya. Masih ada yang ingin ia capai. “Saya ingin melihat diri saya berada di ranah internasional di mana saya bekerja sama dengan global high performance leaders untuk bersama-sama membangun misi besar untuk kemanusiaan,” tutupnya. (WAHYU SEPTIYANI) Foto: Dok. pribadi.

 

 


Topic

Profil

Author

DEWI INDONESIA