Cita Rasa Menyatukan Cinta Ivan Wibowo dan Grace Dharmawan
Dua hati yang bertemu di dapur tak serta merta bertaut dalam cinta, tetapi perjalanan yang bergulir perlahan menjadikan semua indah pada waktunya.




Cinta tak mesti hadir pada pandangan pertama. Chef Ivan Wibowo, salah satu pendiri restoran Benedict di Grand Indonesia, merasa biasa-biasa saja saat pertama kali bertemu Chef Grace Dharmawan, pendiri Salz/Zucker pop-up dessert bar yang kini telah menjadi istrinya. Pertemuan pertama itu terjadi di Mozaic Restaurant, Ubud, Bali. Ivan yang saat itu meniti karier dalam dunia kuliner di AS, sedang mencari pengalaman memasak di Mozaic lalu ‘dipasangkan’ dengan Grace yang sudah bekerja di restoran milik Chef Chris Salans tersebut. Tugas Ivan adalah ‘menjadi bayangan’ Grace dan belajar banyak hal dari perempuan asal Surabaya itu.
 
Mereka saling membantu di dapur Mozaic, berbagi pengalaman dan lelucon. Grace mengingat bagaimana Ivan menolong dirinya saat tangannya terkena panas saat memasak, dan ada masanya ketika ia mengajak pria asal Semarang itu ke gereja bersama namun tidak terlaksana. Meski begitu, keduanya tak lupa bertukar nomor telepon pada hari terakhir masa magang Ivan. Baru enam tahun kemudian hubungan istimewa mulai bersemi. Ivan menelepon Grace yang waktu itu bekerja di Melbourne, dan mereka bertemu di Jakarta tidak lama kemudian.
 
Pasangan ini sepakat bahwa Ivan lah yang lebih dahulu jatuh hati pada Grace. Perjalanan ke Pasar Ikan Muara Angke bagi sang pria adalah tempat kencan paling menarik untuk chef, meski sang perempuan tidak menganggapnya sebuah kencan resmi dan mengatakan bahwa masa pacaran dimulai di sebuah kafe di Melbourne. Keduanya lantas harus menjalani hubungan jarak jauh, yang menurut Grace rahasia suksesnya adalah saling percaya dan tidak membiarkan munculnya prasangka. “Harus terus saling menghubungi dan bertukar kabar terbaru sesering mungkin. Saling mengirim pesan dan foto-foto lucu itu sangat berarti,” Grace berbagi kiatnya.
 
Perbedaan waktu tak luput menjadi kendala hubungan jarak jauh pasangan juru masak ini di awal hubungan mereka. Meski berusaha selalu berkomunikasi, ada saja masa-masa ketika keduanya demikian sibuk dengan pekerjaan masing-masing sampai tak sempat saling menghubungi. Kalau sudah begitu, mereka akan menghitung hari-hari yang harus dilalui sampai bertemu lagi, dan mengobrol dengan video call sampai berjam-jam untuk ‘membayar’ hari-hari yang dilalui tanpa komunikasi. Bukan hal yang mudah, menginvestasikan waktu dan tenaga untuk terus menjaga hubungan tetap mesra. Tapi semua itu sudah berhasil dilalui Grace dan Ivan, dan berbuah pinangan di Ubud, tempat mereka pertama kali bertemu.
 
Pasangan yang murah senyum ini pun memilih Pulau Dewata untuk mengikrarkan janji sehidup semati. Takdir mempertemukan keduanya untuk pertama kali di Bali, dan mereka telah memimpikan hari pernikahan yang bagaikan liburan terindah, berlatar pemandangan alam yang menakjubkan, dikelilingi orang-orang terdekat. Impian itu terwujud di sebuah resor yang berdiri di sebuah tebing di Uluwatu, dengan tema perayaan yang disepakati keduanya tanpa perdebatan: Farm to Table, berpadu serasi dengan nuansa musim gugur untuk prosesi pemberkatan. Elemen dekorasi pun didominasi buah-buahan, sayur-sayuran, dan tumbuh-tumbuhan bumbu ketimbang bunga.
Air mata bahagia berganti dengan senyum dan tawa, saat keponakan Ivan yang bertugas membawakan cincin pernikahan, menolak memberikannya kepada pastor. Rupanya bocah laki-laki berusia lima tahun itu sudah diberi pesan bahwa cincin harus diserahkan kepada Paman Ivan, tetapi di altar justru pastor yang meminta cincin tersebut. Pastor pun harus membujuk sang bocah hingga mau menyerahkan cincin.

Hangatnya kenangan hari pernikahan di benak pasangan chef ini, menemani hari-hari baru menjalani hidup bersama. Kejutan manis didapat Grace saat mengetahui banyak kebiasaan Ivan yang tak ia tahu sebelumnya, dan perbedaan misalnya dalam hal kerapian. “Saya kaget ternyata kami punya banyak perbedaan, padahal selama berpacaran yang saya tahu kami banyak kesamaan,” kata Grace. Untunglah suaminya menyadari, mereka harus belajar menyesuaikan diri dengan satu sama lain. “Bicara soal cucian baju, Grace itu memisah-misahkan berdasarkan warna. Ada warna putih, warna terang, dan warna gelap. Kalau saya sih dicampur saja. Tapi sekarang, saya bisa memisah-misahkan cucian seperti Grace… hahaha…”
Memiliki banyak kesamaan dan menjalani profesi serupa, bukan jaminan pernikahan berjalan sangat mulus. Pasangan ini mengakui bahwa ada ego yang terkadang lebih dominan daripada cinta. Dan setelah berhasil melewati hubungan jarak jauh beberapa tahun, ketika hidup berdampingan pun masih pula sesekali terjadi miskomunikasi, yang harus selalu dicari jalan keluarnya. “Semua chef memiliki egonya sendiri-sendiri, dan terkadang kami ingin melakukan sesuatu sekehendak hati, tapi pasangan mengusulkan cara lain. Perdebatan pun terjadi. Pada akhirnya kami harus terus belajar saling mendengar dan menekan ego, karena sebetulnya kami saling membutuhkan,” Ivan menyimpulkan. (MUT) Foto: Dok. Grace & Ivan
 

 

Author

DEWI INDONESIA