LOG IN  |  REGISTER

Seni Kontemporer Indonesia di Brisbane


Pelan tapi pasti, seniman-seniman rupa kontemporer Indonesia terus menjejakkan nama di dunia seni rupa dunia. Kali ini, mereka ‘mentas’ di Brisbane, Australia.
Dewimagazine News

Uji “Hahan” Handoko, Wedhar Riyadi, Edwin Roseno, Ruangrupa, Fiona Tan, Tromarama, Tintin Wulia diundang untuk berpartisipasi dalam 7th Asia Pacific Triennial of Contemporary Arts (APT7). Acara ini berlangsung sejak 8 Desember 2012 hingga 14 April 2013 di Queensland Art Gallery / Gallery of Modern Art (QAGOMA) di Brisbane, Australia. Tak hanya karya mereka saja, karya dari beberapa seniman Asmat juga dipamerkan dalam ajang tiga tahunan yang tahun ini menginjak kali ke-20 penyelenggaraannya. Meski menyandang kata ‘contemporary’ dalam namanya, APT7 juga menyediakan tempat untuk tampilnya karya seni dan arsitektural Papua Nugini.

Menurut Suhanya Raffel, Direktur Pelaksana QAGOMA, APT7 merupakan satu-satunya ajang seni rupa berkelas dunia yang dengan khusus mengetengahkan karya-karya dari seniman kontemporer Australia, Asia, dan Pasifik yang menangguk perhatian besar dari penikmat seni berbagai negara. Kota yang berada di sisi tenggara Australia ini, menurut Suhanya Raffel, memang dikenal sebagai salah satu destinasi seni utama di Australia. Dalam setiap penyelenggaraan, lebih dari 50.000 pengunjung internasional datang ke ajang seni itu. Raffel, dalam siaran pers yang dilansir menjelang pembukaan APT7 pada Sabtu (8/8) esok, mengatakan, “Kami bangga bisa menampilkan karya para seniman Indonesia bersama dengan karya 75 seniman dan kelompok seniman lain dari 27 negara lainnya.” Keikutsertaan Indonesia ini atas dukungan Institut Australia-Indonesia di bawah Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia. Suhanya pun mempersilakan orang Indonesia untuk datang,"Alami pameran yang menarik dan beragam ini!" (ISA), Foto: Ni Luh Sekar

Pameran Lukisan Chris Suharso di Art:1
Semesta di atas kanvas Chris Suharso hanya berisi keindahan dan kedamaian.
40 Ekspresi Wajah dari Tisu Toilet
Sampah yang berubah menjadi karya seni.
Kolaborasi Musisi Indonesia
Menumbuhkan cinta tanah air melalui musik.
Mengembalikan Semangat Patriotisme Bersama Barry Likumahuwa
Dalam sajian lagu-lagu kemerdekaan, even bertajuk Generasi Synergi for Unity ini diadakan dengan menggandeng duo BubuGiri dan Nikki Thierry.

 
 
  > KOMENTAR
 
  Tulis Komentar Forum
200 karakter tersedia

** Dengan meng-klik tombol "kirim" berarti anda telah menyetujui Privacy Policy & Disclaimer kami.
K I R I M  
 


HIGHLIGHTS
pameran lukisan chris suharso di...
Semesta di atas kanvas Chris Suharso hanya berisi keindahan dan kedamaian.
4 macam tempat pertunjukan flame...
Seni musik dan tari berpadu postur serta wajah rupawan tertuang pada Flamenco.
tiga gerakan kepedulian pada kan...
World Health Organization menyatakan bahwa 70% dari kematian yang diakibatkan ol...
       JOIN OUR COMMUNITY
                   
INTERACTIVE
tren rambut pendek: feminin vs edgy
Dari gaya rambut Anne Hathaway yang manis atau potongan ultra modern ala Miley Cyrus, yang mana pilihan Anda?
your valentine foot fetish : tod's flat appeal vs jimmy choo’s sexy heel
Merayakan Valentine bersama pasangan, utamakan kenyamanan atau penampilan?
inspirasi riasan: minimalis vs tampilan seksi
Dari karpet merah Golden Globes 2013, gaya riasan Rosie Huntington atau Claire Danes yang akan Anda tiru?
INSIDE DEWI WEDDING
elemen dekorasi penyemarak pesta
Kebaruan yang membuat suasana pesta kian berkesan.
pertimbangkan ini saat memilih b...
Pastikan bunga di genggaman membuat tampilan Anda kian memesona.
antisipasi “kondisi darurat”
Perangkat wajib bagi pengantin wanita di hari pernikahan.

ABOUT US            SUBSCRIBE            PRIVACY POLICY            TERM & CONDITION

Copyright © 2014 Dewimagazine.com. All rights reserved.