
Dalam hidup yang terus bergerak, rumah sering kali berubah menjadi sesuatu yang samar. Bukan lagi tempat untuk kembali, melainkan perasaan yang sesekali muncul lalu menghilang. Di titik inilah Homesick, EP terbaru dari mikah, lahir. Sebuah trilogi yang tidak hanya menceritakan perjalanan fisik lintas kota dan negara, tetapi juga perjalanan batin seorang musisi yang belajar memahami dirinya sendiri.
Ide EP ini datang di musim panas, saat mikah ingin menciptakan karya yang lebih terhubung secara emosional. Ia memasuki studio tanpa arah yang terlalu pasti, hanya dengan keinginan untuk menulis sesuatu yang jujur. Dari sesi itu, lahirlah lagu “Homesick”, sebuah titik awal yang terasa berbeda dari karya-karyanya terdahulu. Untuk pertama kalinya, mikah tidak menulis tentang cinta atau relasi dengan orang lain, melainkan tentang dirinya sendiri, tentang rasa rindu yang tak bisa ia jelaskan, bahkan kepada dirinya sendiri.
Cerita itu kemudian berkembang menjadi tiga bagian. Escape membuka kisah dengan potret masa kecil mikah di Hawaii, tempat yang ia kenang sebagai ruang penuh kebahagiaan. Hidup terasa ringan, hangat, dan nyaris sempurna. Namun di balik semua itu, selalu ada dorongan untuk pergi, sebuah perasaan sunyi bahwa dunia yang lebih besar sedang menunggu di luar sana. Escape bukan tentang meninggalkan kebahagiaan, melainkan tentang keberanian untuk mencari sesuatu yang belum memiliki nama.

Perjalanan itu berlanjut ke In Between. Saat mikah benar-benar meninggalkan Hawaii dan masuk ke kehidupan kota besar, ekspektasi bertabrakan dengan realita. Alih-alih kepuasan, yang datang justru rasa sepi. Hari-hari yang dulu diisi tawa berubah menjadi rutinitas yang kaku dan berorientasi pada pekerjaan. Dalam lagu ini, mikah menyederhanakan perasaannya menjadi satu kalimat yang terasa sangat jujur, “It’s just me and my suitcase.” Bukan simbol, bukan metafora, hanya kenyataan hidup seorang musisi yang terus berpindah, dengan koper sebagai satu-satunya hal yang selalu ikut serta.

Bagian penutup, Dream, menjadi ruang refleksi yang lebih abstrak. Awalnya dirancang sebagai titik balik, lagu ini seharusnya menandai kembalinya rasa rumah. Namun seiring proses kreatif berjalan, maknanya bergeser. Dream justru berbicara tentang jarak, tentang rumah yang masih terasa jauh dan hanya bisa disentuh lewat mimpi. Secara musikal, lagu ini terdengar paling pop dan terbuka, seolah menyimpan harapan. Namun di baliknya, terselip perasaan yang lebih rapuh, sebuah pengakuan bahwa tidak semua pencarian memiliki akhir yang jelas.
Menariknya, proses menulis Homesick justru membawa mikah pada pemahaman baru tentang rumah. Ia menyadari bahwa rumah bukan lagi sebuah lokasi geografis, melainkan kumpulan pengalaman yang ia bandingkan sepanjang hidupnya, tawa yang pernah ia rasakan, orang-orang yang pernah mengisi hari-harinya, serta kepuasan sederhana dalam keseharian. “Rumah bukan lagi sebuah lokasi. Rumah adalah pengalaman, tawa, dan orang-orang di sekitarku,” ujarnya.
Kini, hidup di Shanghai, mikah merasa lebih membumi dari sebelumnya. Rasa rumah yang dulu ia kejar justru ia temukan setelah berhenti berlari. Kota ini, dengan ritme dan kehidupannya, memberinya ruang untuk merasa nyaman dan bahagia. Sebuah ironi yang manis, dengan menuliskan rasa rindu, ia justru menemukan tempat untuk menetap.
Pengalaman berpindah-pindah juga membentuk bahasa musikal mikah. Dari China, ia menyerap kecintaan pada balada melankolis dan aransemen orkestra yang megah. Bunyi violin, cello, dan crescendo yang emosional kini menjadi elemen penting dalam karyanya. Bahkan cara ia bernyanyi, falsetto yang lembut dan rapuh, semakin terasa menonjol, seolah memperkuat cerita yang ingin ia sampaikan.

Pada akhirnya, Homesick bukanlah tentang mikah semata. EP ini adalah undangan sunyi bagi pendengarnya untuk menoleh ke dalam diri sendiri. Tentang memori yang dirindukan, tentang versi hidup yang telah berlalu, dan tentang pencarian rasa pulang yang mungkin tak pernah benar-benar selesai. Seperti yang ia harapkan, Homesick bukan meminta untuk dipahami, melainkan menjadi ruang bagi siapa pun untuk merasa dimengerti.
“Aku lebih ingin pendengar memahami diri mereka sendiri lewat lagu-lagu ini, bukan memahamiku,” tutup mikah.