Biophilia: Membayangkan Ulang Hubungan Kita dengan Bumi dalam Tiga Babak

Terinspirasi dari metode kolaboratif surealis Exquisite Corpse, pameran ini menyatukan berbagai suara seniman dalam satu tubuh kolektif—seperti ekosistem yang saling terhubung.
Pameran ini terinspirasi dari permainan surealis Exquisite Corpse, sebuah metode kolaboratif di mana banyak orang berkontribusi secara bergantian untuk menciptakan satu karya bersama.

Ada satu permainan surealis bernama Exquisite Corpse. Dalam permainan ini, beberapa orang menciptakan satu karya bersama, tanpa tahu sepenuhnya apa yang dikerjakan orang sebelumnya. Hasilnya sering terasa acak, terputus-putus, bahkan tidak selaras. Namun justru dari potongan-potongan itulah sebuah ‘tubuh’ utuh lahir.

Pameran Biophilia: Exquisite Corpse mengambil semangat itu. Tidak ada satu suara tunggal. Tidak ada satu narasi yang dominan. Setiap karya berdiri dari pengalaman pribadi, tetapi hanya bisa dimengerti sepenuhnya ketika dibaca sebagai bagian dari keseluruhan.

Seperti ekosistem.

Advertisement

Di sini, seni diposisikan sebagai tindakan kolektif; cara bersama-sama membayangkan ulang hubungan kita dengan bumi. Bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai bagian dari sistem yang sama. Pameran ini bergerak dalam tiga babak: Ibu Bumi, Ekstraksi, dan Setelah Bumi.

Dan setiap babak terasa seperti cermin.

Babak I: Ibu Bumi. Ketika Tanah Bukan Sekadar Tanah

Lewat karya dengan judul nyentrik “Jimat Anti Tuyul”, Anang Saptoto mengajak kita melihat kembali hubungan ekologis yang tersembunyi dalam kerja-kerja domestik sehari-hari.

Di banyak budaya, bumi disebut sebagai ibu. Tetapi dalam babak ini, Ibu Bumi bukan metafora manis. Ia adalah entitas hidup yang menyimpan ingatan, luka, dan waktu.

Kita lahir dari tanah, hidup bergantung padanya, dan suatu hari kembali kepadanya. Batas antara tubuh manusia dan tubuh bumi tidaklah tegas. Ketika tanah rusak, kita pun ikut terguncang.

Karya Teguh Ostenrik, Domus Anguillae, menghadirkan patung yang diletakkan di bawah laut dan perlahan berubah menjadi terumbu karang buatan. Laut, karang, dan organisme lain ikut membentuknya. Karya ini tidak pernah benar-benar selesai tanpa partisipasi alam. Seperti rahim ibu, ia menjadi ruang perlindungan dan pertumbuhan.

Sementara itu, Anang Saptoto membawa kita ke dapur neneknya. Melalui Jimat Anti Tuyul, ia menunjukkan bagaimana praktik sehari-hari seperti memasak, menyimpan jimat dari cabai dan bawang di laci uang, adalah bentuk relasi ekologis yang sering dianggap remeh.

Bagi banyak perempuan, dapur bukan sekadar ruang domestik. Ia adalah ruang perawatan. Dan di sanalah hubungan manusia, makanan, tanah, dan kepercayaan terjalin. Babak ini mengingatkan kita: bumi bukan sumber daya. Ia adalah relasi.

Babak II: Ekstraksi — Ketika Ibu Dijadikan Objek

Arahmaiani kembali menggunakan huruf arab gundul untuk menyampaikan kritik terhadap kerusakan lingkungan, yang menyatu dengan kritik terhadap sistem kekuasaan dan ideologi.

Namun hubungan itu berubah.

Dalam babak kedua, bumi tidak lagi disebut ibu. Ia menjadi “lahan”, “deposit”, “proyek”. Sesuatu yang bisa dipetakan, dibagi, dibor, dan dimiliki. Ekstraksi bukan hanya soal tambang atau pengerukan. Ia juga cara berpikir—yang melihat tanah sebagai benda mati tanpa suara.

Ada karya Arahmaiani yang menghubungkan kerusakan lingkungan dengan kekerasan ideologis. Ekstraksi, militerisasi, dan fundamentalisme dilihat sebagai sistem yang sama-sama menghilangkan suara; baik itu suara manusia maupun bumi. Ia menekankan pentingnya keberagaman dan hidup berdampingan sebagai kebutuhan ekologis sekaligus etis.

Kolaborasi antara Studio Birthplace dan Kinan Tegar melalui Earth Defender mengingatkan bahwa dalam kosmologi Dayak, tanah adalah ibu dan sungai adalah darah. Merusak tanah berarti memutus hubungan antar generasi.

Fitri DK, lewat karya-karya yang terinspirasi perjuangan Kendeng, menolak melihat bumi sebagai korban pasif. Dalam Mantra Ibu Bumi dan Selamatan Bumi, ia menghidupkan kembali ritual dan perlawanan sebagai bentuk tanggung jawab moral.

Di sini, Ibu Bumi tidak digambarkan lembut dan pasrah. Ia memberi, tetapi juga bisa menolak. Ia menyimpan luka dan menuntut pertanggungjawaban.

Sebagai perempuan, kita tahu bagaimana rasanya ketika tubuh dianggap selalu memberi tanpa batas. Ekofeminisme mengingatkan bahwa cara bumi diperlakukan sering kali serupa dengan cara tubuh perempuan dieksploitasi—dianggap selalu tersedia. Babak ini adalah pengingat bahwa pembangunan tanpa empati adalah kekerasan.

Babak III: After Earth — Hidup di Dunia yang Sudah Berubah

Alih-alih membuang pot-pot dari tanaman yang mati, Cynthia Delaney Suwito justru mengumpulkannya. Pot-pot itu menjadi semacam arsip pribadi tentang upaya merawat yang tidak selalu berhasil.

Babak terakhir ini tidak membayangkan dunia tanpa bumi. Ia membayangkan dunia setelah kerusakan terjadi. Babak ini tidak menawarkan solusi heroik. Ia menawarkan kejujuran.

Bumi tidak lagi utuh. Ia terfragmentasi, dimediasi oleh teknologi, dan dibentuk oleh sistem manusia. Pertanyaannya bukan lagi bagaimana kembali ke masa lalu, tetapi bagaimana hidup dalam kondisi yang telah berubah.

Reza Kutjh merekam perubahan pesisir selatan Jawa akibat pembangunan bandara. Lahan pertanian berubah menjadi tambang pasir dan infrastruktur. Manusia tidak ditampilkan secara langsung, tetapi jejaknya ada dalam lanskap yang retak.

Mater Design Lab mengolah limbah cair tahu menjadi kertas biodegradable. Mereka tidak ‘kembali ke alam’, tetapi mencoba menciptakan sistem baru yang lebih bertanggung jawab.

Cynthia Delaney Suwito menumpuk pot-pot tanaman mati dalam instalasi vertikal. Ia tidak menyembunyikan kegagalan merawat. Ia mengarsipkannya. Di tengah kehidupan urban yang jauh dari tanah, kita sering mencoba merawat kehidupan melalui pot dan ruang kecil.

Ada kesedihan, tetapi juga ketekunan.

Sementara Dabi Arnasa, lewat Mirror and the Fire Lily, menghadirkan bunga yang tumbuh setelah kebakaran. Bukan penghapusan luka, tetapi kelanjutan hidup dalam bentuk baru.

***

Pada akhirnya, “Biophilia” tidak memberi jawaban pasti. Ia mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah kita masih melihat bumi sebagai ibu? Ataukah kita telah menjadikannya objek? Dan jika kerusakan sudah terjadi, bagaimana kita hidup dengan tanggung jawab itu?

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Untuk Perempuan yang Menjadi Rumah bagi Perempuan Lain

Next Post

In Situ / In Vitro, tentang Ekologi, Mitologi, dan Harapan

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.