Perjalanan Low-Rise Jeans, Dari Bumster Hingga Populernya Tren Y2K
Low-rise jeans kembali lagi. Ini perjalanan trennya dari Alexander McQueen hingga Y2K.
17 Jan 2022



Celana jenis low-rise, termasuk low-rise jeans, sebenarnya sama saja dengan hipsters atau rap-pants. Ini merupakan celana dengan garis pinggang rendah, yakni berada sekitar 8-10 cm di bawah pusar, yang dipakai di pinggul. Sempat tren di akhir dekade 90-an hingga awal 2000-an, low-rise jeans kini kembali lagi ke permukaan. Ini perjalanan tren low-rise jeans, dari debut-nya hingga kemunculannya kembali baru-baru ini.
 

Tren low-rise yang berawal dari “bumsters”

Alexander McQueen memperkenalkan celana low-rise pertama kali dalam koleksinya di tahun 1996. Waktu itu celana low-rise ini disebut bumsters—celana yang dipakai begitu rendah di bawah pinggul, hingga garis bokong pemakainya terlihat jelas. Kepada Guardian ia mengatakan bahwa pakaian ikonik ini tentang sanjungan dan sensualitas.
 
 “Saya ingin membuat tubuh tampak lebih semampai, bukan sekadar menunjukkan bokong. Bagi saya, bagian tubuh ini—bukan bokong, melainkan bagian bawah tulang belakang—adalah yang paling erotis dari tubuh seseorang, baik itu laki-laki maupun perempuan,” jelasnya.
 

Puncak popularitas low-rise jeans

Britney Spears, Keira Knightley, dan Kate Hudson memakai low-rise jeans di puncak popularitas tren ini.

Setelah Alexander McQueen, desainer Tom Ford—yang waktu itu merupakan Direktur Kreatif  Gucci—merancang koleksi Spring/Summer 1998 yang termasuk low-rise items. Jika dalam rancangan McQueen, “bumster” menyorot garis bokong pemakainya, dalam presentasi koleksi Gucci ini menujukkan tali pakaian dalam atau thong yang dikenakan para modelnya.
 
Sekitar awal 2000-an, low-rise jeans banyak dipakai para selebriti seperti Keira Knightley, Jennifer Lopez, dan Britney Spears. Di tahun 2006, Kate Hudson tampil di acara Total Request Live (TRL) dengan gaya yang ikonik: memadukan celana low-rise jeans dengan vest putih. Pada periode ini pula berbagai merek pakaian retail mulai menjual low-rise jeans, membuat tren ini semakin populer yang menjangkau berbagai kalangan.
 

Tergantikan oleh tren skinny jeans

Seperti berbagai tren sebelumnya, kejayaan low-rise jeans pun mencapai masa senjanya di sekitar tahun 2008. Tren ini tergantikan dengan munculnya skinny jeans dan jeans legging yang juga dikenal sebagai “jegging.” Pada periode ini, menunjukkan tali pakaian dalam atau thong dengan memakai low-rise jeans mulai dianggap tak lagi menarik.
 

Kembalinya low-rise jeans

Missoni spring 2022; Vaquera spring 2022; Molly Goddard spring 2022; MSGM spring 2022; Blumarine spring 2022.

Popularitas low-rise jeans mulai naik kembali dalam dua tahun belakangan ini, mengikuti tren celana panjang dengan siluet baggy dan oversized. Rumah mode seperti Missoni, Vaquera, MSGM, dan Molly Goddard, misalnya, memunculkan kembali tren yang sempat populer di akhir 90-an hingga awal tahun 2000-an ini. Sederet model-selebriti seperti Bella Hadid, Kendall Jenner, dan Emily Ratajkowski juga terlihat sering mengenakan low-rise jeans ini di berbagai kesempatan.
 
Sama seperti tren tas nilon, kembalinya low-rise jeans juga merupakan bagian dari populernya gaya Y2K yang digemari generasi Z. Tren ini mencakup gaya di era ’90-an hingga awal ke pertengahan dekade 2000-an, yang merupakan perpaduan budaya pop dengan kemajuan teknologi dari era millennium, sehingga menghadirkan gaya berpakaian yang futuristik dengan sedikit sentuhan retro. Misalnya tas baguette dan warna perak, bahan yang mengilap, dan low-rise jeans yang juga dikenal dengan sebutan hipsters jeans.

 
***
 
Low-rise jeans ini memang ikonik, tetapi ia juga merupakan sebuah statement piece. Dibanding high-waisted jeans yang lebih klasik, memakai low-rise jeans seolah menantang pemakainya untuk menunjukkan bagian pinggang dan perut yang kerap menjadi insecurities banyak orang. Namun di era yang serba inklusif seperti sekarang, sepertinya tren ini akan bisa diadaptasi dengan lebih kreatif oleh para penggemar mode. Bagaimana menurut Anda?

Mardyana Ulva
Foto: Vogue, Garage, Denimology

 

 

 


Topic

Fashion

Author

DEWI INDONESIA