Ketika Isu Gender Menjadi Tantangan Lahirnya Ilmuwan Perempuan
Siapa bilang sosok perempuan tidak mampu berprestasi di dunia sains?
14 Nov 2021



Tidak dipungkiri, memang, bahwa jumlah ilmuwan perempuan di dunia tidak terlalu banyak. Menurut Dr.Itje Chodijah, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Kemendikbudristek, datanya menunjukkan hanya ada 44,2% peneliti perempuan. Meski tidak berbeda terlalu jauh, tapi ia menyatakan bahwa jumlah ini masih di bawah dari jumlah peneliti laki-laki.
 
Hal ini disebabkan masih ada anggapan bahwa dunia sains dan menjadi seorang ilmuwan atau peneliti adalah profesi yang identik dengan kaum laki-laki dan dirasa kurang ‘ramah’ terhadap perempuan, yang sering dirasa lebih cocok untuk berada di rumah. Padahal, apapun itu profesinya, sepertinya tidak perlu ada pengotak-ngotakan gender.
 
Mengutip pernyataan yang dilansir di World Economic Forum Report 2017, merampungkan masalah ketimpangan gender dalam sebuah profesi membutuhkan waktu hampir 200 tahun. Banyak hal yang harus dilakukan dan dibuktikan untuk menghilangkan stereotip bahwa dunia sains hanya cocok untuk laki-laki.

 
 
Tidak heran jika pada akhirnya lahirlah banyak agenda pendukung untuk meningkatkan jumlah ilmuwan, termasuk di Indonesia. Seperti yang dilakukan oleh L’Oreal-UNESCO for Women in Science. Program For Women in Science (FWIS) ini nyatanya telah diselenggarakan secara internasional selama lebih dari 20 tahun di lebih dari 25 negara. Berkat program ini, telah lahir 1600+ peneliti yang didukung. Di Indonesia sendiri, selama 17 tahun, program For Women in Science Nasional diselenggarakan bekerja sama dengan Komisi Indonesia untuk UNESCO (KNIU). Tidak tanggung-tanggung, program ini juga didukung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), dan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI).
 
Hingga tahun 2021, L’Oreal –UNESCO For Women in Science Nasional telah memberikan fellowship dan dukungan dana kepada 63 ilmuwan perempuan dan 5 di antaranya bahkan merupakan international fellowships.
 
Untuk L’Oreal-UNESCO for Women in Science National Fellow 2021, sudah terpilih 4 peneliti perempuan Indonesia. Mereka adalah Febty Febriani, Ph.D, Fransiska Sri Herwahyu Krismastuti, Ph.D, Dr.Magdalena Lenny Situmorang, dan Peni Ahmadi, Ph.D.
 
Program ini merupakan bentuk nyata untuk meningkatkan jumlah ilmuwan perempuan, termasuk juga di Indonesia. Hal ini juga diamini oleh Ir. Suharti, Sekretaris Jenderal Kemendikbudristek yang menganggap bahwa agenda ini mampu memberdayakan perempuan di dunia sains. Baginya, publikasi prestasi ilmuwan perempuan harus terus ditingkatkan untuk menciptakan kesetaraan gender. (RJ) Foto: Pexels, L’Oreal.
 

 


Topic

Culture

Author

DEWI INDONESIA