Aku, Wastra, dan Kisah: Pagelaran Budaya Matahari dari TIMUR di PIK Jakarta

Wastra Nusantara, kreativitas 2.000 anak, dan narasi perempuan hadir dalam pagelaran “Aku Wastra dan Kisah” oleh MDT di PIK Jakarta.

Merayakan Warisan Wastra, Perempuan, dan Harapan Anak Bangsa

Matahari dari TIMUR (MDT) kembali menghadirkan pagelaran budaya tahunannya yang ketiga bertajuk “Aku, Wastra dan Kisah” pada 22 November 2025 di Sunset Pier, Riverwalk Island Pantai Indah Kapuk, Jakarta. Pertunjukan ini menjadi ruang temu antara wastra Nusantara, narasi perempuan, dan karya ribuan anak Indonesia dalam satu lanskap artistik yang menyentuh.

Diprakarsai oleh Laura Muljadi pada 17 Agustus 2022 bersama dua advisor awalnya, Rinaldy Yunardi dan Aoura Chandra, MDT lahir dari keyakinan bahwa budaya adalah bahasa kehidupan yang harus terus dijaga agar tetap bertumbuh.

Advertisement

Tahun ini, MDT memperkuat misinya melalui peluncuran aktivasi inklusif “Dongeng dari Kain: Aku, Wastra dan Kisah – 2000 Anak 2000 Karya”, yang menghimpun karya anak-anak dari berbagai latar belakang, termasuk penyandang disabilitas dan diaspora. Seluruh karya tersebut dibukukan dalam Buku Jejak Harapan cetakan Bintang Sempurna sebagai dokumentasi kreatif generasi muda Indonesia.

Simfoni Pembuka: Film, Musik, dan Perayaan Perempuan

Acara dibuka dengan pemutaran film dokumenter “Perjalanan: Kain dan Kehidupan”, yang merekam denyut nadi para perempuan penenun Sumba. Tayangan ini menjadi gerbang emosional menuju kolaborasi musik oleh JFlow, Adit Marciano, Moe, Adinda Cresheilla, Dhea Fandari, dan Laura Muljadi.

Suasana semakin magis ketika Isabella Adinda Russo, putri Laura Muljadi, membuka panggung sambil membawa kain hasil karya anak-anak dan tampil mengenakan rancangan Balqis Safira. Keenam penari muda: Dhea Tanya, Syella Afsari, Narelle, Caca, Intan, dan Fanny — menambahkan dimensi gerak yang lembut dan penuh energi muda.

Acara dipandu oleh Agustin Ramli dan Adinda Cresheilla, sementara narasi disampaikan secara inklusif dalam lisan dan bahasa isyarat oleh perempuan-perempuan inspiratif: Ira Duaty, Farhannisa Nasution, Margareta Astaman, Devina Bertha, Jennifer Natalie, Gestary, Zahfira, dan Monica.

Seluruh tata panggung dan koreografi yang apik ini dijahit rapi oleh Inet Leimena bersama tim, koreografer Meyta Rizki Sari, serta Putu Anadita selaku Penata Musik.

Empat Babak: Aku, Kisah, Kasih, dan Wastra

Panggung utama menyajikan empat segmen yang masing-masing membawa pesan substansial:

1. “Aku” oleh GHEA RESORT

Sebagai perayaan atas 45 tahun perjalanan Ghea Panggabean, GHEA RESORT oleh Amanda & Janna menampilkan koleksi bertema Sumba. Motif Mamuli, simbol rahim dan kekuatan perempuan, dihadirkan dalam siluet modern yang elegan.
Figur perempuan ikonis yang turut membawakan koleksi ini antara lain: Maudy Koesnadi, Endhita, Dara Warganegara, Naila Alatas, Tiffany Hendrawan, Yuanita Haryadi, Prinka Cassy, Nadine Chandrawinata, dan Kimmy Jayanti.

2. “KISAH” oleh BY ARRA

Desainer Mita Hutagalung, melalui label BY ARRA, menyoroti urgensi pelestarian budaya Sabu Raiju yang berada di ambang kepunahan. Mengangkat motif Èi dan Hi’je, koleksi ini menjadi pengingat identitas yang kuat.

Pesan tentang ketangguhan perempuan Sabu ini dibawakan dengan anggun oleh Renata Koesmanto, Nadia Mulya, Artika Sari Devi, dan Eyvel.

3. “KASIH” oleh AMAPOLA

Di bawah label AMAPOLA, Paula Verhoeven mempersembahkan Desert Series, yang memadukan atmosfer gurun dengan tekstur wastra. Babak ini memusatkan perhatian pada hubungan emosional ibu dan anak melalui gerak teatrikal yang hangat.

Para penampil termasuk Veranica Tio bersama Jasmine dan Janice Tio, disusul Kaemita Boediono, Ririn Nasution, Clafita Witoko, Elsa Dewi, serta Mut’iah dan putrinya Malika Abiya.

4. “WASTRA” oleh PENDOPO

Sebagai penutup, PENDOPO merayakan kekayaan Tenun Umalulu dan Buna dari Timor yang mengandung nilai luhur Marapu. Babak ini menonjolkan keberagaman melalui model lintas generasi dan kemampuan.

Sorotan khusus hadir dari seniman muda penyandang disabilitas Jacqueline, diikuti oleh Ajeng Svastiari bersama putri kembarnya Kala dan Kali. Barisan model lainnya meliputi para model kembar Allison, Icha, Ichi, serta adik-adik istimewa Grissandi, Evy, Ruth Stefany, dan Aiko, ditambah Emmy Chaniago, Ena Marscha, Chloe, Bunga Natalia, Maria Christy, Grace Saviour, dan Zoe.

Pesan Penutup: Menghidupkan Warisan, Bukan Membiarkannya Membeku

Pagelaran ini ditutup dengan pesan kuat dari Laura Muljadi. Ia menegaskan bahwa wastra adalah jiwa warisan yang harus dirawat dan dihidupkan, melampaui sekadar statusnya sebagai artefak. Baginya, kita adalah Generasi Berbudaya yang memegang tanggung jawab untuk masa depan Indonesia.

Editor: Aldi Indrajaya
Teks: Aqeela Hamarthya Czecheska Humayra

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Peggy Hartanto Luncurkan Koleksi Kapsul untuk Wicked: For Good

Next Post

Antara Budaya dan Presepsi: Dialog bersama Scarf Media dan Islamic Fashion Institute.

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.