Dominasi Maskulin di Ranah Feminin
Secara global, desainer perempuan masih menjadi pelaku minoritas dalam industri mode yang secara mayoritas menyasar perempuan sebagai konsumen utama. Kemampuan berbagi peran dalam skala domestik, manajemen stres dan pekerjaan, serta pengembangan tim pendu
16 Mar 2020




Nama Non Kawilarang, Elsa Sunarya, dan Elsie Iskandar relatif tidak lagi dikenal pecinta mode Indonesia saat ini. Pada era 1960-an hingga 1980-an, nama-nama itu merupakan perwakilan dari desainer-desainer perempuan Indonesia yang muncul dengan beragam karya dan gaya.

“Mereka merupakan desainer yang cukup diperhitungkan pada masa itu,” kata Ketua Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) Sjamsidar Isa pada Dewi. Non Kawilarang misalnya, memilih untuk menjadi desainer made to order. “Dulu, belum ada ready to wear. Mereka yang menginginkan baju Tante Non harus mendatangi butiknya,” kata Sjamsidar. Irma Hardisurya menjadi salah satu orang yang pernah mengenakan gaun karya Non Kawilarang yang punya latar pendidikan mode di Belanda dan Hong Kong. Dalam ajang Miss International 1969 di Tokyo, Irma yang mewakili Indonesia di ajang itu terlihat mengenakan gaun empire, dengan sentuhan bahan chiffon dan manik-manik pada pinggang rancangan Non Kawilarang.

Non Kawilarang pada masanya, merupakan desainer Indonesia yang menjadi tempat berguru banyak tokoh mode Indonesia sekaligus pionir dunia mode Indonesia selepas era Peter Sie. Tercatat Ramli, Poppy Dharsono, hingga Iwan Tirta pernah menjadi desainer yang dibimbing oleh Non Kawilarang. Sedangkan Elsa Sunarya dan Elsie Iskandar masing-masing dikenal sebagai desainer Indonesia yang memadukan wastra Indonesia dengan desain modern dan juga koleksi bridal kualitas ekspor.

 


Menurut Sjamsidar, jumlah desainer perempuan di Indonesia sejak sejak periode Non Kawilarang memang tidak banyak. “Selalu lebih timpang dibanding yang pria,” kata dia. Fenomena ini sejalan dengan temuan global Business of Fashion pada 2016. Dari empat pekan mode dunia pada musim semi dan musim panas 2017, tercatat ada 371 desainer yang menangani 313 jenama mode. Dari jumlah itu, hanya 40% desainer wanita yang tercatat.

Temuan menarik lainnya juga dirilis oleh Council Fashion Designer of America, Glamour, dan McKinsey pada 2018. Dalam laporan bertajuk The Glass Runway, terungkap bahwa 100 persen perempuan yang diwawancarai mengatakan kalau ada permasalahan yang tidak berimbang dalam industri mode. Di sisi lain, tak sampai setengah responden pria yang mengafirmasi hal serupa.

Padahal, jumlah lulusan sekolah mode didominasi oleh perempuan. Di Parsons School of Design New York, 85% lulusan mode merupakan perempuan. Jumlah serupa juga ditemui di Fashion Institute of Technology (86%), dan Pratt Institute yang meluluskan 54 perempuan dari 58 peserta jurusan mode pada 2018. Sayangnya, banyak dari lulusan tersebut yang tidak mampu mencapai puncak kariernya, entah dalam perusahaan mode global ataupun dalam pendirian label mode independen, rasio perempuan sebagai pucuk pimpinan dirasa kurang jika dibandingkan laki-laki.

 


Topic

Culture

Author

DEWI INDONESIA