
Jenama Kami menyambut Raya 2026 dengan menghadirkan tiga koleksi Ready-to-Wear dalam satu benang merah bertajuk “Titik Temu”, sebuah metafora tentang perjumpaan: antara makna dan perayaan, antara perjalanan dan kepulangan. Melalui rangkaian ini, Kami tidak hanya meluncurkan koleksi busana, tetapi juga membuka pengalaman ritel baru lewat Kami Space di Kemang, Jakarta Selatan. Di ruang inilah cerita Raya mulai dirajut, perlahan namun penuh warna, seolah menjadi jeda hangat di tengah hiruk-pikuk dunia yang terasa berat sepanjang tahun terakhir.

Koleksi perdana Tarini: ASA yang kini telah tersedia secara eksklusif di Kami Space dan platform daring Kami, hadir sebagai “ruang euforia” bagi keluarga. Siluet longgar, material katun bordir yang ringan, serta motif floral cerah menjadi perwujudan kebebasan berekspresi di momen Raya, seperti napas lega setelah perjalanan panjang. Menyusul kemudian Tarini: SOL dan Tarini: OLA, dua koleksi yang melengkapi spektrum aktivitas Raya. Tarini: SOL memancarkan keceriaan lewat warna-warna bold dan permainan volume ekspresif, sementara Tarini: OLA menawarkan ketenangan melalui layering bahan sheer, detail renda, dan palet netral yang lembut, layaknya senja yang menutup hari dengan damai.
Kampanye “Titik Temu” menjadi ajakan untuk kembali pulang, secara fisik maupun emosional. Raya diposisikan sebagai momen bertemunya berbagai rasa: rindu, syukur, dan harapan. Founder Kami, Nadya Karina, menyampaikan bahwa warna cerah, motif playful, dan bentuk yang unik dihadirkan sebagai selebrasi atas kesempatan untuk kembali merayakan Raya bersama, sekaligus sebagai upaya menumbuhkan suasana hati yang lebih bahagia dan positif. Setiap koleksi membawa narasinya sendiri: Tarini: ASA tentang euforia personal, Tarini: SOL tentang cahaya ikatan ibu dan anak yang juga hadir melalui kolaborasi eksklusif dengan Mothercare, serta Tarini: OLA tentang perjalanan bermakna yang selalu berujung pada kebersamaan keluarga.

Kami Space dibuka untuk umum mulai 24 Januari 2026, Kami menjadi simbol bahwa Raya bukan hanya tentang apa yang dikenakan, tetapi tentang siapa saja yang kembali dipertemukan di dalamnya.
Teks: Kinar Laima
Editor: Imam Notonogoro