
Musikal Perahu Kertas resmi memasuki rangkaian pementasannya di Ciputra Artpreneur, Jakarta. Dipersembahkan oleh Indonesia Kaya dan Trinity Entertainment Network berkolaborasi dengan Trinity Youth Symphony Orchestra (TRUST), musikal ini akan berlangsung hingga 15 Februari 2026 dengan total 21 pertunjukan.
Di panggung Ciputra Artpreneur, Musikal Perahu Kertas tidak hanya menandai peralihan medium dari novel ke pertunjukan teater, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan emosional antara sebuah kisah, penciptanya, dan generasi baru yang meneruskannya. Pada malam pertunjukkan perdana Musikal Perahu Kertas, Dee Lestari menutup pertunjukan dengan sebuah refleksi jujur: tentang waktu, kedewasaan, dan keberanian untuk terus bermimpi, meski hidup tak lagi sesederhana dulu.
Dewasa dan Kejujuran yang Pelan-Pelan Datang
Dee mengakui sesuatu yang jarang diucapkan oleh penulis yang karyanya lekat dengan romantisisme dan idealisme. “Jujur, kalau di usia sekarang saya belum tentu berani menulis kisah yang begitu mengagumkan mimpi, idealisme, cita-cita, menemukan cinta dan tambatan hati,” ujarnya.
Ia menyebut bahwa hidup, seiring waktu, mengumpulkan terlalu banyak ‘asam garam’. Pengalaman-pengalaman itu membuat seseorang lebih berhati-hati, lebih sadar akan luka, dan pada akhirnya tak selalu berani menulis dengan kepolosan yang sama seperti di usia dua puluhan. Namun pengakuan itu tidak hadir sebagai penyesalan, melainkan sebagai penanda perjalanan. Bahwa keberanian bermimpi pun memiliki musimnya sendiri.
Tongkat Estafet Keberanian Bermimpi
Alih-alih menyimpan kisah Perahu Kertas sebagai nostalgia personal, Dee justru memilih melepaskannya. “Umur dua puluhan saya serahkan tongkat-tongkat estafet keberanian bermimpi tadi kepada Kugi dan Kinan,” katanya, sambil berterima kasih karena dua karakter itu kini hidup kembali. Bukan hanya di atas panggung, tetapi juga di hati para pemirsanya, terutama mereka yang masih berani jatuh cinta pada kemungkinan, pada cita-cita, dan pada hidup itu sendiri.
Pesan yang Tak Mengenal Usia
Dee kemudian memperluas pesannya, menembus batas generasi. Katanya, berapa pun usia kita, jangan takut untuk bermimpi, jangan takut untuk mewujudkan cita-cita, impian yang tertunda, cinta yang belum tercapai. Ia mengajak para penonton pertunjukan untuk merayakan hidup. Bukan sebagai pencapaian sempurna, melainkan sebagai proses yang terus bergerak, dengan atau tanpa kepastian.
Dalam adaptasi musikal ini, Perahu Kertas tidak hanya berpindah bentuk, tetapi juga memperdalam maknanya. Ia menjadi kisah tentang keberanian yang diwariskan, tentang mimpi yang mungkin berubah rupa, namun tak pernah sepenuhnya hilang.
Dan di antara lampu panggung, musik, dan tepuk tangan, Dee Lestari mengingatkan kita dengan lembut: bahwa merayakan hidup, dengan segala ketidaksempurnaannya, adalah bentuk keberanian yang paling halus, sekaligus paling indah.