
Di ruang itu, nama Roehana Koeddoes disebut berulang-ulang. Bukan sebagai catatan kaki sejarah, melainkan sebagai napas panjang yang masih hidup hingga hari ini. Acara bertajuk “Tiga Wajah Roehana Koeddoes” ini digelar untuk merayakan warisan perempuan yang pada 1911 mendirikan Yayasan Amai Setia di Sumatra Barat, jauh sebelum kata “emansipasi” menjadi jargon nasional.
Roehana Koeddoes hidup di era yang sama dengan Kartini. Namun mengapa nama Roehana tidak seterkenal Kartini, padahal keduanya hidup di era yang sama? Mengapa kita lebih sering mengingat surat-surat, tetapi jarang menyebut ruang-ruang pendidikan dan infrastruktur suara yang dibangun Roehana secara nyata?
Hari Pers Indonesia 9 Februari terasa seperti momentum yang tepat untuk mengajukan pertanyaan itu.
Infrastruktur Emansipasi: Warisan yang Fundamental
Trini Tambu, Ketua Yayasan Amai Setia yang didirikan oleh Roehana Koeddoes, menyampaikan refleksi tentang pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh Roehana. Ia menyebut Roehana bukan sekadar tokoh, melainkan arsitek infrastruktur emansipasi perempuan.
“Ia membuka pintu bagi suara perempuan. Ia menciptakan ruangan di mana perempuan adalah narator kisahnya sendiri,” ujarnya.
Roehana tidak hanya menulis. Ia membangun sekolah kerajinan bagi perempuan, mengajarkan keterampilan dan literasi sebagai jalan menuju kemandirian. Pendidikan, bagi Roehana, bukan hanya soal membaca dan menulis; tetapi soal menciptakan daya tawar.
“Kita semua adalah buah dari perjuangan struktural itu,” lanjut Trini. Ia menyebut bagaimana hari ini kita memiliki presiden perempuan, serta figur-figur seperti Meutya Hafid (Menteri Komunikasi Digital) dan Uni Lubis (Pemimpin Redaksi, IDN Times) di puncak jurnalistik. Namun pertanyaannya tetap menggantung: apakah ini sudah cukup?
Sebagai perempuan yang bekerja di media, saya merasakan pertanyaan itu seperti cermin. Kita mungkin telah melangkah jauh, tetapi ruang belajar, keberanian, dan kerja keras tetap menjadi tugas harian.
“Warisan terbesar Roehana adalah keyakinan bahwa pena dan pikiran seorang perempuan dari manapun bisa menggerakkan perubahan. Sekarang, pena dan pikiran itu ada di tangan kita semua. Pertanyaannya adalah bagaimana kita akan menggunakannya?”
Kalimat itu tidak terdengar seperti nostalgia. Ia terdengar seperti mandat.
Jurnalisme di Era Disrupsi

Dalam acara yang sama, Najwa Shihab, jurnalis dan pendiri Narasi, berbicara tentang tantangan jurnalisme hari ini. Menurutnya, disrupsi membuat industri ini harus terus menyesuaikan diri.
“Kita berebut perhatian bukan hanya dari orang-orang yang memegang kartu pers, tetapi juga dari content creator,” ujarnya.
lebih lanjut, ia menyebut bahwa saat ini masih ada pewarta yang tetap memegang prinsip jurnalisme. Di saat yang sama, ada pula yang mengejar viralitas, sering kali bertolak belakang dengan fakta.
“Industri ini dinamis, bahkan rapuh,” katanya lagi.
Namun di tengah perubahan itu, Najwa mengingatkan satu hal penting: jika ruang tidak bisa dipertahankan, minimal keberaniannya yang harus dijaga. Dan jika medium berubah, carilah medium baru, seperti yang dicontohkan Roehana lebih dari seabad lalu.
“Jika ruang tidak bisa dipertahankan, minimal keberaniannya yang harus dijaga.”
Najwa Shihab
Roehana hidup di masa kolonial, dengan keterbatasan akses dan ruang publik yang sempit. Tetapi ia menciptakan medianya sendiri. Ia menulis, mendidik, membangun jaringan. Ia tidak menunggu ruang diberikan; ia membangunnya.
Tiga Wajah, Satu Warisan

“Tiga Wajah Roehana Koeddoes” bukan sekadar tema acara. Ia adalah refleksi tentang tiga lapisan: Roehana sebagai jurnalis, Roehana sebagai pendidik, dan Roehana sebagai pembangun ekosistem.
Sebagai jurnalis perempuan hari ini, saya berdiri di atas jejak itu. Kita mungkin bekerja dengan perangkat digital, algoritma, dan tenggat waktu yang lebih cepat. Tetapi esensinya tetap sama: pena dan pikiran.
Hari Pers Indonesia sering kali dirayakan dengan angka dan penghargaan. Namun hari itu, saya pulang dengan kesadaran yang lebih sederhana: bahwa sejarah jurnalisme perempuan di Indonesia tidak hanya dimulai dari surat-surat Kartini, tetapi juga dari ruang-ruang yang dibangun Roehana.
Dan mungkin, tugas kita hari ini bukan sekadar merayakan namanya. Melainkan memastikan bahwa suara perempuan terus memiliki ruang—di media, di ruang publik, dan di setiap cerita yang kita pilih untuk dituliskan.