Mengagumi Estetika Karpet Eksklusif Moire Bespoke Rugs
Peran Seorang Ibu di Film Esok Tanpa Ibu di Mata Dian Sastrowardoyo

Peran Seorang Ibu di Film Esok Tanpa Ibu di Mata Dian Sastrowardoyo

Menurut Dian Sastrowardoyo, di balik peran ibu yang kerap dianggap “sudah seharusnya”, tersimpan kelelahan emosional yang jarang dibicarakan dan lebih jarang lagi divalidasi.
Dian Sastrowardoyo merefleksikan peran ibu, kerja emosional perempuan, dan batas teknologi dalam menggantikan kehadiran manusia dalam film terbarunya, Esok Tanpa Ibu

Dalam film Esok Tanpa Ibu (Mothernet), kehilangan tidak hadir sebagai ledakan emosi, melainkan sebagai kekosongan yang pelan-pelan mengubah ritme hidup sebuah keluarga. Film ini mengikuti Rama atau Cimot (Ali Fikri), seorang remaja yang harus tumbuh tanpa kehadiran ibu, serta Ayah (Ringgo Agus Rahman) yang kesulitan menata ulang kehidupan rumah tangga setelah sosok penopang emosional keluarga itu tiada.

Di balik cerita tersebut, terdapat pembacaan personal dari Dian Sastrowardoyo—produser sekaligus pemeran Ibu dalam film ini—tentang makna menjadi ibu di tengah tuntutan yang sering tak terlihat. Bagi Dian, Esok Tanpa Ibu bukan sekadar drama keluarga. Ia membacanya sebagai potret realitas yang sangat dekat dengan kehidupan perempuan, terutama mereka yang menjalani peran sebagai ibu.

“Film ini bicara tentang sesuatu yang sering dianggap sudah seharusnya,” ujarnya di acara press screening film ini. “Kehadiran ibu kerap dipahami sebagai kepastian, hingga akhirnya ia absen dan rumah kehilangan porosnya.”

Advertisement

Ibu sebagai Penjaga Keseimbangan Rumah

Dalam pandangan Dian, peran ibu di dalam keluarga jauh melampaui urusan domestik yang kasatmata. Ibu sering kali menjadi pihak yang paling diandalkan untuk menjaga stabilitas: dari kebersihan rumah, kecukupan nutrisi, hingga kesehatan emosional setiap anggota keluarga.

“Kita tuh sebagai istri sering banget diandalkan oleh suami untuk mengurusi kestabilan rumah tangga,” jelasnya. “Dari segi kebersihan, kecukupan nutrisi setiap anggota keluarga, sampai kesehatan emosional anggota keluarga. Itu kita yang mengurusi.”

Ia menyebut ibu sebagai “MC keluarga”—sosok yang mengatur alur, waktu, dan suasana, memastikan semuanya berjalan tanpa terasa dipaksakan. Peran ini sering kali dianggap remeh justru karena dijalani dalam diam, tanpa banyak keluhan. Esok Tanpa Ibu memperlihatkan apa yang terjadi ketika peran itu mendadak hilang: rutinitas menjadi kaku, komunikasi terputus, dan relasi ayah-anak kehilangan jembatan emosionalnya.

Kerja Emosional yang Baru Terlihat Saat Hilang

Film ini, bagi Dian, adalah pengakuan atas kerja emosional perempuan yang selama ini berjalan di latar belakang kehidupan keluarga. Tanpa kehadiran ibu sebagai penyeimbang, perbedaan cara merespons antara ayah dan anak menjadi semakin kentara. Di titik inilah film ini terasa personal. Bukan karena melodrama, melainkan karena kejujurannya dalam menampilkan ketidaksiapan sebuah keluarga menghadapi kehilangan.

Namun Esok Tanpa Ibu tidak berhenti pada pengakuan. Dian juga menyampaikan ajakan yang bersifat reflektif, terutama bagi para ibu. “Mari kita menjaga kesehatan mental maupun fisik masing-masing,” katanya. “Karena kita memang menjadi andalan sekali di dalam keluarga.” Pernyataan ini terdengar sederhana, tetapi mengandung validasi penting: bahwa ibu juga manusia, dengan batas, kebutuhan, dan kerentanan.

Mengajak Ayah untuk Hadir Lebih Penuh

Di sisi lain, film ini juga membuka ruang percakapan bagi para ayah. Dian berharap kisah Cimot dan ayahnya dapat mengingatkan bahwa emotional bonding dengan anak bukanlah tugas satu pihak saja. Kehadiran ayah—bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional—menjadi krusial ketika ibu tidak lagi bisa menjalankan perannya.

Menariknya, kehadiran teknologi i-BU dalam film ini justru mempertegas pesan tersebut. Alih-alih menjadi solusi, i-BU menegaskan batas teknologi dalam menggantikan empati, kehangatan, dan rasa aman yang lahir dari relasi hidup. Mesin dapat meniru fungsi, tetapi tidak pernah benar-benar menggantikan kehadiran.

Film Esok Tanpa Ibu tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 22 Januari 2026. Melalui film ini, Dian Sastrowardoyo tidak hanya memerankan sosok ibu, tetapi juga mengajak penonton—terutama perempuan—untuk melihat kembali peran yang selama ini dijalani dalam diam. Film ini menjadi pengingat lembut bahwa keluarga sering kali berdiri di atas kerja emosional yang tak terlihat, dan bahwa merawat diri adalah bagian dari merawat mereka yang kita cintai.

Teks: Kinar Laimaura
Editor: Mardyana Ulva

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Mengagumi Estetika Karpet Eksklusif Moire Bespoke Rugs

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.