Review Film: Joker, Glorifikasi Kekerasan dalam Tameng Kesehatan Mental
Film Joker menuai banyak pujian dan membuka kembali ruang diskusi tentang kesehatan mental


Joaquin Phoenix sebagai Arthur Fleck alias Joker dalam film Joker (2019).


Pasca-penayangannya di Indonesia pada 2 Oktober lalu, film Joker (2019) garapan Todd Philips menarik perhatian dan menuai banyak pujian. Joker memang sudah dinantikan sejak penayangan perdananya dalam gelaran Venice Film Festival pada September silam dan meraih penghargaan Golden Lion di ajang festival film bergengsi itu.

Aktor kawakan Joaquin Phoenix didapuk untuk memerankan salah satu tokoh komik paling ikonis itu. Di film ini, Joker yang biasa dikenal sebagai trickster atau si usil penyuka kekacauan yang melakukan kejahatan hanya untuk kepuasan batinnya itu diberikan cerita latar belakang. Film ini pun mencoba menggambarkan transformasi Arthur Fleck menuju kegilaan dan berubah menjadi tokoh Joker yang dikenal khalayak.

Suasana muram sudah disajikan sejak adegan pertama. Arthur Fleck nampak duduk memulas riasan badut di loteng The Haha’s, agensi hiburan tempatnya bekerja. Dilema Arthur tentang perspektif hidupnya, apakah ini sebuah komedi atau tragedi, nampak kala dia menggunakan jarinya membentuk senyum dan lalu cemberut di bibirnya. Adegan pilu itu dilengkapi dengan tetesan air mata hitam di pipi Arthur.

Adegan berganti menampakkan Arthur tengah bertugas sebagai badut hiburan untuk menarik pengunjung ke sebuah toko. Semua berjalan baik sampai sekelompok anak usil mengganggunya dan membawa lari papan yang ia bawa. Ia lalu mengejar anak-anak itu sampai di sebuah lorong dan berakhir dikeroyok mereka.

Adegan-adegan pembuka itu kurang lebih merangkum jalan cerita Joker. Film ini menceritakan Arthur si orang baik yang dihajar berkali-kali oleh kejam dan kerasnya dunia. Dalam film ini Arthur merupakan seseorang yang mengidap depresi akut dan gangguan saraf yang membuatnya justru tertawa ketika ditempatkan dalam posisi penuh stres. Dan Gotham tidak punya tempat untuk orang “aneh” sepertinya. Padahal ia selalu yakin dirinya hadir untuk membuat orang lain tertawa.

Sejak insiden pemukulannya di lorong jalan, Arthur memang mengalami serentetan peristiwa apes. Mulai dari dipecat dari pekerjaan karena ketahuan membawa pistol yang diberikan rekan sejawatnya untuk menjaga diri, pemutusan program layanan kesehatan mental gratis dari pemerintah, hingga menemukan kebohongan ibunya yang delusional. Sang Ibu diceritakan mengidap skizofrenia akut dan menganggap Thomas Wayne (ayah dari Bruce Wayne alias Batman) sebagai ayah dari Arthur. Padahal Arthur adalah anak yang ia adopsi dan ia biarkan disiksa oleh kekasihnya hingga akhirnya mengalami gangguan saraf.

Saat itulah titik balik kehidupannya. Frustasi Arthur pecah. Ia tak lagi menganggap hidupnya sebagai tragedi. Kini ia hakulyakin bahwa hidup adalah sebuah komedi besar, dan dia tahu punch-line terbaiknya: kekacauan dan kekerasan. Ia pun meminta dipanggil sebagai “Joker” setelah Thomas Wayne mengejek para pencundang sepertinya dengan nama itu.

Meski dieksekusi dengan amat baik—sinematografi film ini dijamin akan memanjakan mata Anda—dan diperankan dengan luar biasa oleh Joaquin Phoenix, namun film Joker (2019) bukan tanpa cela. Joker membuka kembali diskusi tentang kesehatan mental di masyarakat kita yang belum matang soal kesadaran akan keadaan mental individu.

Ada yang lantas menjadikan kekerasan yang dilakukan Joker dalam film sebagai sesutu yang 'romantis' dan mengatakan “Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti.” Hal ini tentu bermasalah sebab gangguan jiwa tak semestinya menjadi alasan seseorang melakukan kejahatan apalagi kekerasan.

Todd memang mencoba membangun empati khalayak dengan memperlihatkan sisi manusiawi Arthur yang bergulat dengan suara-suara negatif dalam dirinya. “I hate when people tell mentally ill people to behave as if we don’t,” kata Arthur dalam salah satu bagian film menunjukkan bagaimana ia berjuang untuk menjadi “normal” dan diterima di masyarakat.

Namun narasi yang ditawarkan Joker sama sekali tak baru. Jika ditilik baik-baik, diskursus yang disajikan Todd dalam film ini tak jauh beda dengan serial Netflix Thirteen Reasons Why yang menceritakan seorang gadis bunuh diri akibat dirundung teman-temannya dan mengedarkan kaset-kaset rekaman yang ia buat sebelumnya tentang seluruh peristiwa dan andil teman-temannya yang memicu ia merenggut nyawanya sendiri. Begitu pula Todd menyajikan berbagai perlakuan buruk yang dihadapi Arthur hingga mendorongnya berubah menjadi Joker si gila, seolah-olah Arthur tak punya pilihan. Keduanya sama-sama mencari justifikasi atas tindakan tak bertanggung jawab, menjadikan mental health sebagai tameng.

Cerita yang dibangunnya itu juga punya tendensi untuk memberikan pembenaran atas tindak kekerasan: bahwa di tengah masyarakat yang kian terpecah dan tekanan untuk menjadi “politically correct” atau "normal", lumrah seseorang bisa menjadi “gila” dan berbuat kasar bahkan hingga mencelakai orang lain.

Bukan berarti film ini tak dapat dinikmati, tetapi tak bisa dipungkiri film Joker perlu ditonton dengan kesadaran penuh bahwa narasi yang dibawanya tak dapat ditelan bulat-bulat. Pun perhatian bagi Anda yang memiliki tendensi gangguan kecemasan dan depresi akut, film ini punya potensi untuk memicu panick attack atau pun pikiran-pikiran negatif. (SIR). Foto: Dok. Istimewa.



 

 


Topic

Review Film

Author

DEWI INDONESIA