
Wuthering Heights, novel karya Emily Brontë, kembali diadaptasi ke layar lebar. Versi terbaru yang disutradarai oleh Emerald Fennell (Saltburn (2023), Promising Young Woman (2020)) ini membuka dirinya dengan satu hal yang sulit dibantah: ia indah. Sejak adegan awal, film ini menawarkan dunia yang terkurasi dengan sangat sadar: latar Yorkshire yang nyaris terasa seperti panggung teater. Set-nya rapi, komposisinya presisi, hampir terlalu sadar akan estetika yang ingin ditampilkan.
Keindahan ini terasa memikat sekaligus mengganggu. Ada nuansa teatrikal yang kuat, bahkan erotis secara grotesk, seolah setiap tubuh, tatapan, dan jarak antar karakter disusun sebagai performa emosi. Ini bukan alam liar yang kasar dan tak terkontrol seperti dalam imajinasi banyak pembaca Brontë, melainkan lanskap yang telah dijinakkan oleh gaya visual.
Dari sinilah perdebatan bermula.
Tubuh Heathcliff dan Hilangnya ‘Liyan‘

Salah satu kontroversi muncul dari pilihan Jacob Elordi sebagai Heathcliff. Emily Brontë memang tidak memberi deskripsi fisik yang rinci, tetapi novel secara konsisten memosisikan Heathcliff sebagai sosok ‘liyan‘: berkulit gelap, asing, dan tidak sepenuhnya diterima secara sosial.
Dalam novel, penolakan terhadap karakter Heathcliff bukan hanya personal, tetapi sistemik. Ia dirasisasi, diklasifikasikan, dan sejak awal ditempatkan di luar lingkaran mereka yang dianggap pantas mencintai dan dicintai. Ketika lapisan ‘liyan‘ tersebut dalam diri Heathcliff ini dilembutkan, bahkan dihapus, maka luka yang membentuk kemarahannya ikut teredam. Yang hilang bukan sekadar representasi, melainkan konteks sosial yang membuat kisah ini begitu tajam.
Ketika lapisan ‘liyan‘ dalam diri Heathcliff ini dilembutkan, bahkan dihapus, maka luka yang membentuk kemarahannya ikut teredam.
Di sisi lain, pemilihan Margot Robbie sebagai Catherine Earnshaw juga menuai pertanyaan. Catherine dalam novel digambarkan berada di usia 18–19 tahun—seorang perempuan muda yang impulsif, rapuh, dan masih dalam proses mengenali batas hasrat dan ambisinya. Dengan usia dan aura Margot Robbie yang matang, Catherine terasa lebih sadar diri, lebih terkontrol, dan secara emosional berada di fase yang berbeda. Perubahan ini menggeser dinamika relasi yang seharusnya penuh kegamangan menjadi sesuatu yang lebih kalkulatif.
Lalu, perkara klaim bahwa Wuthering Heights adalah kisah cinta terbesar sepanjang masa—benarkah demikian? Sulit rasanya menjawab “ya” tanpa rasa tidak nyaman.
Kisah Cinta Terbesar Sepanjang Masa?

Heathcliff, dalam banyak aspek, menunjukkan ciri-ciri pelaku kekerasan domestik, terutama dalam relasinya dengan Isabella Linton (Alison Oliver). Pernikahan mereka bukan ruang cinta, melainkan arena dominasi. Kekerasan yang ia lakukan bukanlah produk gairah yang tak terkendali, melainkan ekspresi keinginan untuk menguasai dan menghukum. Ini bukan cinta yang melukai secara tidak sengaja; ini adalah cinta yang dengan sadar menyakiti.
Sementara itu, Catherine sendiri perlahan menyadari sesuatu yang penting: bukan kebersamaannya dengan Heathcliff yang akan merendahkannya, melainkan pilihannya sebagai perempuan yang telah menikah untuk tetap terlibat secara romantis dengannya. Di titik ini, Wuthering Heights justru berbicara tentang agensi—tentang kesadaran bahwa hasrat pun memiliki konsekuensi sosial, terutama bagi tubuh perempuan.
Catherine dan Heathcliff dalam kisah ini sejatinya bukan dua kekasih yang sekadar gagal bersatu. Mereka adalah dua individu yang dibentuk oleh hierarki: kelas, ras, dan kepemilikan. Dalam dunia mereka, cinta bukan tempat berlindung, melainkan medan perang. Hasrat tidak hadir sebagai penyelamat, melainkan sebagai sesuatu yang menelan, menguasai, dan menghancurkan.
Cinta dalam semesta Catherine dan Heathcliff bukan tempat berlindung, melainkan medan perang.
Adaptasi yang Lebih Sensual

Penting untuk diakui: Wuthering Heights versi layar lebar ini berbeda dari novelnya. Ini adalah sebuah adaptasi. Dan adaptasi bukanlah salinan, melainkan tafsir. Film ini bebas, berani, dan memilih sensualitas untuk menuturkan kisahnya—lebih eksplisit, lebih panas, dan lebih sadar akan tubuh dibandingkan teks Brontë.
Namun, sama seperti di semesta Brontë, satu hal tetap tak berubah. Di dunia Wuthering Heights, cinta selalu bersyarat. Ia sosial. Ia politis.
Dan mungkin, justru karena itulah kisah ini terus hidup lintas zaman. Bukan karena ia menenangkan, melainkan karena ia memaksa kita berhadapan dengan kebenaran yang tidak ingin kita akui: bahwa tidak semua orang diberi hak yang sama untuk mencintai dan dicintai.
Dan Wuthering Heights—dalam bentuk apa pun—akan selalu menolak untuk menjadi kisah cinta yang jinak.