Dior Hadirkan Subkultur Era 1950-an Lewat Koleksi Musim Gugur 2019
Terinspirasi dari subkultur Teddy Girls, versi perempuan dari Teddy Boys, Dior melakukan napak tilas akan sejarah pemberdayaan perempuan Inggris


1 / 6
 
Untuk koleksi musim gugur 2019 Dior, Maria Grazia Chiuri mengambil inspirasi dari era 1950. Tepatnya dari subkultur Teddy Girls, versi perempuan dari Teddy Boys. Grazia Chiuri membawa kembali gaya Teddy Girls yang klasik sekaligus subversif pada masanya.
 
Grazia Chiuri pun mengambil banyak inspirasi dari arsip-arip desain rumah mode Perancis itu dan memberikan sentuhan modern lewat teknik dan material baru. Ia misalnya memodifikasi desain jaket kulit yang dibuat Yves Saint Laurent untuk Dior sebagai homage untuk budaya bawah tanah era ’50-’60.
 
Sang pengarah kreatif juga mengeksplorasi kembali siluet gaun Miss Dior yang ikonis. Hasilnya adalah gaun malam yang terdiri dari kombinasi bodysuit dan rok dengan aplikasi bordiran.
 
Tidak hanya terinspirasi oleh subkultur Teddy Girls dan arsip-arsip desain Dior pasca-Perang Dunia II. Grazia Chiuri juga mengasosiasikan koleksi musim gugurnya ini dengan figur Putri Margaret, adik dari Ratu Elizabeth II yang dikenal pemberontak. Salah satu “pemberontakannya” misal bagaimana memilih gaun dari Dior untuk ulang tahunnya ke-21 alih-alih gaun buatan desainer Inggris.
 
Menyambut perilisannya musim gugur ini, Grazia Chiuri menggandeng fotografer Brigitte Niedermair dan model Selena Forrest serta Ruth Bell untuk mewujudkan visi kreatifnya. Deretan visual yang hadir dalam kampanye ini merupakan ode untuk persaudaraan perempuan yang tampak percaya diri dengan feminitasnya. (Teks: Shuliya Ratanavara/Foto: Dior.)
 

 


Topic

Fashion

Author

DEWI INDONESIA