Biophilia: Membayangkan Ulang Hubungan Kita dengan Bumi dalam Tiga Babak
In Situ / In Vitro, tentang Ekologi, Mitologi, dan Harapan

In Situ / In Vitro, tentang Ekologi, Mitologi, dan Harapan

Pada akhirnya, seni di sini bukan tentang keindahan semata.
Ia tentang bagaimana kita memilih untuk hidup: apakah sebagai pengambil,
atau sebagai penjaga.
Digambar di atas bubble wrap yang menjadi simbol perdagangan global dan praktik jual beli, karya Rega Ayundya ini menjadi kritik atas bagaimana spesies bisa ‘dibungkus’ dan dipindahkan demi kepentingan manusia.

YIRI Arts Jakarta membuka tahun 2026 dengan pameran “In Situ/ In Vitro” yang menghadirkan Tsai Pou-Ching dari Taiwan dan Rega Ayunda dari Bandung. Judul pameran ini meminjam istilah konservasi. In situ merujuk pada penelitian di habitat asli, sementara in vitro dilakukan di laboratorium.

“Kami meminjam istilah itu karena menurut saya mewakili praktik kedua seniman ini,” kata Ari Anugrah, Program & Project Development YIRI Arts Jakarta. In situ berarti penelitian di habitat asli, sementara in vitro dilakukan di laboratorium. “Dua praktik yang berbeda, namun sama-sama berangkat dari kecemasan ekologis, serta dari keyakinan bahwa seni bisa ikut merawat kehidupan.”

Tsai Pou-Ching: Mitologi sebagai Ingatan Ekologis

Perupa asal Taiwan Tsai Pou-Ching memilih untuk bergerak langsung ke habitat. Ia melakukan kiat-kiat konservasi terhadap satu spesies burung pipit gunung yang hampir punah. Sejak 2022, Pou-Ching melakukan riset di habitatnya yang jauh dari pusat kota, di dekat wilayah adat suku Tsou. Di sanalah ia menemukan bahwa burung pipit bukan sekadar spesies, melainkan bagian dari mitologi.

Advertisement

“Spesies ini masih satu keluarga dengan burung gereja yang kita kenal di Indonesia, tetapi memiliki ciri khas merah di ekornya. Cantik, eksotik, dan—dengan populasi kurang dari 10.000 dari 2.000 spesies di Taiwan—berstatus langka,” jelas Ari.

Dalam kisah masyarakat Tsou, burung pipit ini adalah penyelamat manusia. Suatu ketika, banjir besar melanda akibat seekor belut raksasa yang menutup aliran air. Manusia kedinginan dan membutuhkan api. Beberapa hewan diutus ke alam baka untuk mengambil api: rusa gunung, hingga burung kiwi. Namun api terlalu panas; tanduk rusa meleleh, paruh burung kiwi memendek.

Hanya burung pipit ini yang akhirnya berhasil membawa api. Satu bulunya terbakar, menjadi merah; warna yang kini menjadi ciri khas pipit gunung Taiwan.

Kisah ini bukan dongeng kosong. Ia adalah cara masyarakat mengingat kedekatan dengan spesies lain. Mitologi ini ibarat arsip emosional tentang relasi manusia dan alam.

Sarang yang Hilang, Sarang yang Dibuat Kembali

Pou-Ching menghadirkan instalasi terakota yang dibuat dari campuran tanah habitat aslinya. Di dekat wilayah adat suku Tsou, ia menemukan bahwa burung ini bukan sekadar spesies, melainkan bagian dari mitologi.

Pipit gunung yang hidup di tengah masyarakat suku Tsou ini tidak membuat sarang sendiri; ia menggunakan sarang burung lain yang ditinggalkan. Namun kini, pohon-pohon berkurang. Banyak burung bertengger di kabel listrik, bukan di cabang gunung. Pou-Ching mencampur tanah liat dengan tanah dari habitat asli, membentuk instalasi terakota menyerupai gunung kecil, tempat burung bisa kembali bersarang.

“Dan ternyata banyak sekali yang ditempati,” kata Ari. Beberapa bahkan beranak pinak di dalam karya tersebut.

Instalasi ini bukan sekadar simbol. Ia menjadi habitat yang riil. Menariknya, sistem koleksinya pun dirancang sebagai kontribusi konservasi: kolektor sejatinya membeli dua unit—satu untuk koleksi, satu lagi untuk dipasang di habitat sebagai sarang. Di sini, seni tidak berhenti sebagai objek estetis. Ia menjadi infrastruktur perawatan.

Pou-Ching menghadirkan instalasi terakota yang dibuat dari campuran tanah habitat aslinya. Sistem koleksinya pun dirancang sebagai kontribusi konservasi: satu karya untuk kolektor, satu lagi dikembalikan ke habitat sebagai ruang hidup.

Rega Ayundya: Tubuh Kita, Tubuh Bumi

Dari perspektif Anthropocene, Rega Ayundya membayangkan bagaimana aktivitas manusia memaksa spesies beradaptasi.

Rega Ayundya tidak bekerja langsung di hutan atau sungai. Ia membangun “laboratorium” spekulatifnya sendiri. Ia membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang lahir dari krisis ekologis yang sedang kita alami.

“Karya Rega di ruangan ini, saya sebut sebagai praktik in vitro,” ujar Ari.

Rega bekerja dari perspektif Anthropocene, era ketika aktivitas manusia menentukan nasib ekosistem lain.

“Apa yang kita lakukan, produksi, dan konsumsi itu berefek terhadap ekosistem yang lain,” jelas Ari.

Salah satu instalasinya berupa rangkaian animasi manual yang bergerak perlahan. Seekor burung rangkong, yakni spesies endemik Sumatra yang populasinya kini kurang dari 10.000, yang mengalami perubahan dari satu frame ke frame berikutnya. Tanduknya perlahan terkikis, hingga akhirnya hilang.

“Apakah mungkin rangkong suatu hari lahir tanpa tanduk?” tanya Ari.

Pertanyaan itu bukan sekadar biologis. Ia adalah refleksi tentang bagaimana kekerasan manusia memaksa alam mengubah dirinya.

Animasi manual itupun digambar di atas bubble wrap yang merepresentasikan kemasan dalam prakik jual beli. Material itu berubah menjadi simbol perdagangan global: bagaimana spesies ini bisa ‘dibungkus’ dan dipindahkan demi kepentingan manusia.

“Burung rangkong selama ini dieksotisasi. Sangat seksi sekali untuk dihadiahkan sebagai glorifikasi perburuan, sebagai hadiah diplomasi,” ujar Ari.

Gagak, Sampah, dan Kecerdasan yang Bertahan

Dalam residensinya di Jepang, Rega mengamati bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan gagak, burung yang dikenal sangat cerdas.

“Gagak itu bisa mengkategorisasikan benda untuk kebutuhan bertahan hidupnya. Mereka tahu mana yang makanan dan mana yang bukan,” cerita Ari.

Di lingkungan residensinya, jadwal pembuangan sampah elektronik bahkan disesuaikan dengan pola kehadiran gagak. Sampah dibuang ketika burung-burung itu tidak berada di area tersebut, sehingga warga dan koloni burung gagak hidup berdampingan dalam harmoni.

Dari pengalaman itu lahir instalasi yang menempatkan citra gagak di atas rongsokan elektronik. Seolah-olah, burung-burung itu berevolusi bersama limbah manusia. Di sini muncul pertanyaan lagi: jika kita terus memproduksi sampah dan kerusakan, siapa yang sebenarnya lebih siap bertahan, kita atau spesies lain?

***

“In Situ/ In Vitro” mempertemukan laboratorium dan hutan, mitologi dan data ilmiah, spekulasi dan tindakan nyata. Ia mengajak kita bertanya: Jika burung bisa berubah demi bertahan hidup, apakah kita juga bisa berubah demi mereka?

Karena pada akhirnya, seni di sini bukan tentang keindahan semata. Ia tentang bagaimana kita memilih untuk hidup: Apakah sebagai pengambil, atau sebagai penjaga.

“In Situ/ In Vitro”
📍 YIRI Arts Jakarta – Gedung Ranuza, Lantai 2
Jl. Timor No. 10, Gondangdia, Menteng, Central Jakarta
14 Februari – 8 Maret 2026

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Biophilia: Membayangkan Ulang Hubungan Kita dengan Bumi dalam Tiga Babak

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.