Menikmati Wisata Pesona Eksotisme di Sumba Timur
Sejauh mata memandang hamparan savana di Sumba Timur.

2 / 5
Terbang dari Pulau Dewata menuju Pulau Sumba memakan waktu hampir dua jam dengan pesawat yang lebih kecil. Jangan menutup mata sekedippun, coba lihat daratan dan lautan melalui jendela pesawat, terhamparlah sebuah oase tak terlupakan. Laut biru, pulau-pulau kecil, tebing, hingga sampai di Pulau Sumba mata pun disambut dengan hamparan savana luas. Kuning kecoklatan, pertanda musim kemarau sedang mampir ke pulau ini. Tak lama pesawat semakin rendah, pertanda siap untuk mendarat di Bandar Udara Mau Hau, kota Waingapu, Sumba Timur,  bandara kecil dengan lintasan pendek yang hanya menerima dan melakukan penerbangan tiga hingga lima penerbangan setiap harinya. Tentu saja turun dari pesawat, matahari terik turut menyambut kedatangan. Aroma segar rerumputan tercium dari angin yang berhembus.

Tujuan pertama kami adalah kampung Adat Praiyawang yang terletak di Desa Rindi, sebelah Timur kota Waingapu. Kampung Praiyawang merupakan kampung kerajaan tertua di Sumba Timur yang dikelilingi oleh pagar batu dan berbetuk seperti komplek. Rumah-rumah adat berjajar rapih. Rumah adat Sumba Timur disebut dengan uma bakulu (rumah besar) atau uma mbatangu (rumah menara). Rumah-rumah tradisional ini memiliki ciri khas atap bagian tengah yang menjulang tinggi. Juga mendapati setiap rumah yang memiliki kepala kerbau tepat dibawah pintu. Kepala kerbau ini tak melambangkan apa pun, justru digunakan penduduk sebagai pijakan untuk masuk ke dalam rumah. Selain itu, pemandangan yang tidak biasa melihat anak-anak berlarian dengan telanjang kaki, perempuan-perempuan adat yang menggunakan tenun, dan babi yang berkeliaran. Sejenak hati terenyuh akan kedamaian yang diberikan kampung ini. Jauh berbeda dengan kepadatan di kota besar.

Di tengah Kampung Praiyawang ini berjajar barisan kuburan megalitik para bangsawan. Kuburan ini memiiki pahatan-pahatan sarat makna. Melirik ke bagian atas kuburan, Anda akan menemukan sebuah ukiran simbol hewan tinggi menjuntai ke atas. Ukiran simbol ini bermakna perilaku sang empu kuburan selama masa kehidupannya. Tak jarang dalam satu kuburan terdapat berbagai ukiran berbagai hewan karena sang empu tentu saja memiliki sifat yang beragam.

Hari pertama telah berakhir dan hari kedua pun segera menanti untuk kunjungan berikutnya. Kali ini kami menuju tempat penenun Mama Alan. Apalagi yang dicari dari Timur Indonesia jika bukan kain. Tenun ikat di Sumba Timur sendiri digunakan untuk sebagai pakaian adat, pakaian sehari-hari, juga untuk membungkus jenazah. Prosesnya memakan waktu yang lama, bahkan hingga berbulan-bulan. Mata kami tak bisa berhenti lepas dari tenun ikat khas Suma Timur yang didominasi warna merah dan biru indigo. Semua warna ini terbuat dari bahan alami, ditenun dengan keterampilan, membubuhkan motif khas Sumba Timur, dan kemudian siap untuk dikenakan.

Usai melihat tenun rupanya kami disambut secara adat Sumba Timur oleh kepala adat dan mendapatkan kesempatan untuk melihat langsung Tari Kabokang. Tari tradisional ini merupakan tarian untuk menghormati raja agar selalu jujur dan adil memimpin, bisa pula sebagai tarian untuk upacara persiapan menuju medan perang. Selain itu tari Kabokang juga termasuk tarian upacara kemasyarakatan yang bersifat sakral untuk menyambut kelahiran bayi. Terpana pada tarian, namun pakaian adat yang digunakan penari juga tak kalah menarik. Mereka menggunakan kain hinggi kombu, selembar untuk menutup badan, selembar untuk lain untuk selendang.

Dua hari saja berada di Sumba Timur rasanya tak cukup. Ada hal yang membekas benar hingga rasanya ingin terus kembali ke tanah savana ini. Sepanjang perjalanan savana menyambut terik namun sejuk. Lalu masyarakat yang ramah dan gemar berbagi cerita tentang tanah mereka Sumba Timur. Keadatan yang terus dipegang teguh oleh masyarakat juga tentu tak terlupa. Terlebih keelokan tenun ikat yang mencuri hati. Menutup kebahagiaan perjalanan ini, Idenesia membawa dewi menuju Pantai Walakiri. Pantai pasir putih dengan lautan biru. Sudah terpikat oleh dataran Sumba Timur, kini pun terpikat keelokan pantai. Menuju Timur adalah sebuah adiksi yang sulit hilang. (IL) Foto : Dok. Idenesia , Dok. Dewi
 

 



JOIN OUR COMMUNITY