Opini: Holiday Humble Bragging, Saat Liburan Tak Sesederhana Dulu
Joanita Roesmana dan Nadia Mulya mengenang kembali masa liburan sebelum masa media sosial ketika semua masih sederhana dan hustle-free.

Caption

 
Liburan zaman nowberbeda 180 derajat dari liburan masa lalu. Demi posting-an yang menarik ribuan likesdi media sosial, persiapan liburan tak kalah dengan momen liburannya.
 
Maybe the best moment in life will be on your next adventure. Ah, kutipanyang sangat tepat. Liburan memang menyenangkan apalagi travelingke lokasi eksotis dan belum pasaran, sebut saja Bhutan, Montenegro, atau Rumania. Dijamin akan mencetak momen dan pengalaman tak terlupakan.
 
Di era media sosial, masa iya momen seperti itu tidak diabadikan kemudian dibagikan? Foto-foto liburan di lokasi cantik tak biasa ini dijamin membuahkan banyak apresiasi. Dari mulai, “Juara! Nemu aja tempat bagus banget. Di mana, nih?”, sampai “Panutanku! Elo memang trendsetter traveling ibukota!“ dengan bonus ratusan hingga ribuan likes di Instagram (padahal postingan ulang tahun saja likes-nya mentok di angka 100). Tanpa disadari, instant gratification(atau cocoknya Instagratification) menjadi semacam prestasi membanggakan sekaligus candu. 
 
Alhasil, makna liburan menjadi sedikit bergeser. Memburu lokasi Instragrammablemenjadi tujuan yang kian prioritas. Dimulai dengan pemilihan negara serta tujuan wisata yang picture perfect. Dilanjutkan dengan riset penuh effort demi deretan to do list serta bookingsana sini, poin ekstra kalau bisa mendapat reservasi di restoran Michelin-star dan menjadi food bloggerdadakan. 
 
Nyatanya, ini sudah menjadi hal standar dari perencanaan liburan zaman now. Kalau sebatas browsing lokasi foto Instagramable, merancang jadwal kostum (baju-sepatu-tas) agar tidak kelihatan berulang kalau posting, latihanpose-pose candidselebgram hits, copy-pastekutipan untuk stok caption inspiratif nan intelek; itu masih tahapan lumrah. Ada, loh, yang sudah sampai tahap ekstrim demi foto paripurna. Beberapa minggu sebelum liburan ikut program diet, filler, dan perawatan lain untuk mengoptimalkan holiday glow, memesan makeup artistdi destinasi liburan, genggesinsuami untuk ikut kursus fotografi, sampai menggunakan jasa fotografer profesional hanya untuk latihan pose dan angleciamik supaya tidak gagap gaya saat pemotretan nanti. Belum lagi mempersiapkan wardrobe(baca: busana custom designdari desainer up-and-comingibukota yang tak segan postingfoto di akun Instagramnya pula) layaknya fashion spreaddan bela-belain menenteng baju ke dalam kabin pesawat. Ngalah-ngalahinstylistmajalah Dewi!

Itu baru persiapan. Saat liburan, itulah saat keremponganhakiki terjadi. Kalau fotografer adalah suami tercinta alias Instagram Husband, si dia harus punya kesabaran seluas samudra. Menjepret entah puluhan kali di satu lokasi yang artinya bisa ratusan kali kalau pindah ke empat atau lima lokasi diiringi tatapan penasaran puluhan pasang mata seperti berkata, “Who is thatShe must be a celebrity.” ‘Penderitaan’ suami pun lengkap dengan complainmengapa hasil fotonya tidak sebagus impian, donderan segera transfer dari kamera ke ponsel, permintaan untuk edit pipi tirus, pinggang kecil, kaki jenjang, dan pertanyaan tiada akhir mana yang paling kece untuk di-posting.

Lelah, ya? What happen withliving in the now”? Coba kilas balik ke saat masih kecil pergi road tripdengan orangtua. Bermodalkan peta, mainan seadanya, dan imajinasi untuk menemani waktu berjam-jam di perjalanan. Mata memandang ke luar jendala dan merekam pemandangan ke dalam ingatan. Sesekali berhenti di obyek wisata dan meminta tolong turis lain untuk mengambil foto menggunakan tustel. Seminggu kemudian kumpul di meja makan melihat kembali foto yang baru selesai dicuci cetak dan kemudian ditata ke dalam album foto. Ah, senyumku begitu bahagia. Liburan yang sederhana dan berkesan.
 
Memang zaman sudah berubah dan tidak ada salahnya berbagi euforia di media sosial. Tapi jangan sampai menggeser makna liburan sesungguhnya. Waktu berkualitas dengan orang tercinta bersama menciptakan kenangan dan terpana pada keindahan ciptaan Tuhan. Dan sesekali #latepost won’t hurt. Selamat liburan! (Teks: Joanita Roesmana dan Nadia Mulya)
 
 
 

 


Topic

Opinion



JOIN OUR COMMUNITY