Manusia Setengah Burung di “Garden of Delight”
Biasa Art Space Jakarta menggelar pameran karya Arya Panjalu.
9 Oct 2013


Seniman muda ini terkenal dengan ikon kepala burung dalam figur-figur di karya seninya. Jalu, begitu Arya Panjalu dipanggil, punya alasan yang cukup personal ketika memutuskan memakai sosok manusia berkepala burung atau disebut avian humanoid oleh Asmujo Jono Irianto, kurator pameran ini. Ketika kecil, Jalu kerap berburu burung dan menembaki mereka hingga mati dengan senapan anginnya. Beranjak dewasa, ia ternyata menyesali kebiasaan itu. Rasa bersalahnya pada hewan bersayap itu belakangan menumbuhkan perhatian dan empatinya. Di satu titik, ia memutuskan untuk menciptakan makhluk hibrida, manusia berkepala burung.

Seiring leburnya Jalu dalam sosok alter ego ciptaannya, terjadi pula perubahan sudut pandang sang seniman tentang alam dan lingkungan. Jalu yang kini berkepala burung, melihat alam tak hanya bagian di luar dirinya, tapi menjadi bagian yang menyatu karena pada pinggang alam, tumbuh pepohonan yang menjadi habitat burung dan hewan-hewan lain. Itu sebabnya, dalam Garden of Delight, Jalu mengkamuflasekan manusia burungnya itu dengan jajaran rak tanaman. Ia sengaja mengambil taman dan bukan hutan untuk menarik isu besar tentang lingkungan ke ruang yang lebih sempit: ruang domestik.

“Instalasi ini adalah bagian dari riset yang saya lakukan dalam mencari relasi pertentangan antara lingkungan, ekologi perkotaan dengan taktik social, budaya, dan ekonomi yang dilakukan manusia dalam menjaga kelangsungan hidupnya,” kata Jalu. Ia mengaku sangat tertarik untuk menemukan dan menghidupkan kembali tradisi yang telah diabaikan karena tuntutan hidup di masa kini yang serba cepat dan berbagai kecemasan-kesenangan terhadap berbagai hal baru yang hadir di dalamnya seperti inovasi teknologi dan sebagainya.

“Melalui Garden of Delight, seperti juga yang pernah ia lakukan pada rangkaian karya lainnya, Brave New World, Arya seolah menyuarakan keyakinannya bahwa untuk bersikap ramah lingkungan, setiap manusia bisa memulainya lewat aktivitas yang paling sederhana,” kata Asmujo membahas penggunaan material papier mache–limbah kertas atau tekstil yang dijadikan potongan kecil atau direndam dalam air dan menjadi bubur- yang dipakai Arya dalam pamerannya. “Ada gesture mendaur ulang pada figur yang ia ciptakan,” tambah Asmujo lagi. Menanggapi ini, Arya berkata,” “Bagi saya, tujuan berkarya bukan semata perkara mengkonsumsi, membuang-buang dan menghambur-hamburkan. Daripada menciptakan sampah, saya lebih tertarik mengubahnya menjadi keindahan.”

Jika penasaran keindahan apa yang disajikan Jalu dalam Garden of Delight, masih ada waktu untuk bertandang dan berbincang tentang alam lewat visualisasi yang dihadirkannya di Biasa Art Space yang berada di Kemang. Pameran ini diawali sejak September lalu dan akan berakhir pada 29 Oktober 2013 nanti. (ISA), Foto: Dok. Biasa Art Space

 

Author

DEWI INDONESIA