
Di ruang yang kerap menjadi persinggahan bagi kegelisahan dan eksperimen artistik, Teater Salihara kembali membuka pintu bagi sebuah penjelajahan yang jarang disentuh: dunia geisha, dengan segala paradoks dan keheningannya. Pada 15–16 November, “The Last Geishas: Re-Creation” karya sutradara Shingo Ōta bersama aktris Kyoko Takenaka dari Jepang, hadir di Teater Salihara. Pertunjukan ini menghadirkan pengalaman yang mengajak penonton menelusuri tradisi yang selama berabad-abad dijaga oleh perempuan—tradisi yang sering dirangkum secara simplistik sebagai ikon budaya, hingga lapisan sejarah dan tubuh yang menopangnya luput terbaca.
Keterbukaan ini berangkat dari kegelisahan terhadap cara publik memandang geisha. Selama bertahun-tahun, mereka dilekatkan pada imajinasi eksotis yang mereduksi profesi ini menjadi simbol budaya yang statis. Maka, pementasan ini bergerak dari kebutuhan untuk mengajukan ulang pertanyaan: siapakah geisha sebenarnya? Apakah mereka sekadar ikon wisata yang dipertontonkan, atau justru pelaku seni yang menjaga tradisi ratusan tahun di tengah modernitas yang tak berhenti bergerak?
Untuk menjawab pertanyaan itu, Ōta dan Takenaka menempuh proses riset yang intens. Mereka menyelami dunia ini dari dalam—mengikuti kelas-kelas seni, mempelajari tari, mengenakan kimono, dan mengamati suasana ozashiki, jamuan tradisional tempat geisha menampilkan keahlian mereka. Pengalaman-pengalaman ini tidak berhenti sebagai dokumentasi, tetapi diolah menjadi bahasa teater dokumenter yang memadukan gerak, teks, dan video; satu bentuk kontemporer yang tetap menjaga hormat pada tradisi yang menjadi pijakannya.
Penelusuran tersebut kemudian berpusat pada perjumpaan Ōta dengan Hidemi, geisha terakhir di kawasan Kinosaki. Dari sosok inilah ia menyadari bahwa inti keindahan tidak terletak pada citra maupun profesi, melainkan pada cara seseorang menjalani hidupnya. Kesadaran ini menuntun proses kreatif menuju karya yang intim, reflektif, dan terbangun dari rangkaian penjelajahan yang cermat dan berlapis. Dari sana, pertunjukan bergerak bebas di antara rekonstruksi tradisi dan pencarian bentuk baru sehingga menghadirkan karya hibrida yang memadukan dokumentasi, pengalaman, dan interpretasi sebagai satu kesatuan yang terus berdialog satu sama lain.

The Last Geishas: Re-Creation mengundang penonton untuk memikirkan kembali bagaimana praktik budaya diwariskan di tengah dunia yang berubah cepat. Karya ini membuka ruang untuk mempertanyakan kembali representasi perempuan, relasi kuasa, serta cara kita membaca ulang tradisi—isu-isu yang tidak hanya melekat pada dunia geisha, tetapi juga pada banyak praktik kebudayaan yang terus berhadapan dengan modernitas.
Refleksi tersebut menemukan bentuk yang lebih kuat melalui pendekatan dokumenter, sebuah karakter khas Hydroblast, kolektif seni silang medium yang berorientasi pada riset dan eksplorasi narasi. Dengan fondasi yang dibangun oleh Ōta dan fokus pada proyek film serta teater, Hydroblast menghadirkan karya-karya yang tidak berhenti pada estetika, tetapi menghubungkannya dengan konteks sosial, sejarah, dan emosi personal. Kehadiran Kyoko Takenaka sebagai produser sejak 2022 turut memperluas perspektif penciptaan, memperkaya cara karya ini memandang tubuh, tradisi, dan pengalaman perempuan.
Di panggung Salihara, The Last Geishas: Re-Creation dipentaskan dalam bahasa Jepang dengan terjemahan teks bahasa Indonesia, membuka akses bagi penonton lintas latar untuk memasuki dunia yang mereka bangun. Cara penyajian ini memperkuat sifat dokumenter karya—membiarkan bahasa sumber tetap hidup sambil menghadirkan jembatan bagi penonton lokal untuk memahami nuansanya.
Pada akhirnya, karya ini tidak sekadar mengajak kita menengok masa lalu, tetapi juga mempertimbangkan masa depan: bagaimana tradisi dapat tetap bernapas tanpa kehilangan kepekaan terhadap perubahan? Bagaimana tubuh perempuan—sering kali menjadi medium sekaligus beban representasi budaya—dapat berbicara dengan caranya sendiri? The Last Geishas: Re-Creation menjawabnya dengan menghadirkan pertunjukan yang bukan hanya menceritakan sebuah dunia, tetapi juga mengingatkan kita akan pentingnya terus merawat cara kita memandangnya.
Teks: Aqeela Hamarthya Czecheska Humayra
Editor: Mardyana Ulva