Keberlanjutan Dunia Mode Bersama ESMOD Jakarta

Menelusuri keberlanjutan mode bersama ESMOD Jakarta. Dari ruang kelas hingga panggung Jakarta Fashion Week.
ESMOD Jakarta menelusuri autentisitas diri dan pendidikan kritis dalam menciptakan keberlanjutan di samping hadirnya dinamika tren.

Industri mode terus berubah, tetapi sebuah warisan selalu menemukan caranya untuk bertahan. Sesi diskusi bersama ESMOD Jakarta (Creative Polytechnic) di JFW Center Stage membawa topik “ESMOD: The Legacy of Authenticity: How Education Empowers the Future of Fashion“, mengajak audiens menelusuri bagaimana pendidikan menjadi medium paling kuat untuk menjaga autentisitas, merawat craftsmanship, dan menumbuhkan praktik kreatif yang lebih sadar di tengah arus tren yang dinamis.

Dialog ini dipandu oleh moderator Rossy Adhystia (Pengajar ESMOD Jakarta, Pakar Komunikasi), serta diisi langsung oleh empat pemateri dengan perspektif yang unik:

  • Mega Saffira (Pengajar di ESMOD Jakarta, Peneliti di bidang Warisan Tekstil, Pendiri The Textile Map),
  • Stella Budiarjo (Kepala Program Studi Fashion Design di ESMOD Jakarta),
  • Larasati Dewangga (Alumni dari ESMOD Jakarta, Pendiri dan Direktur Kreatif Dewangga)
  • Marco Sianturi (Kepala Program Studi Bisnis Kreatif di ESMOD Jakarta, Pendiri Smartgoing).

Legacy: Mewariskan Manfaat

Warisan bukan sekadar menjaga artefak masa lalu tetap utuh; di ESMOD, konsep legacy dipahami dengan cara yang jauh lebih dinamis. Mega menjelaskan bahwa pelestarian tidak berhenti pada tindakan menyimpan, melainkan pada kemampuan sebuah nilai, pengetahuan, atau praktik untuk terus relevan dan memberi manfaat bagi generasi berikutnya.

Advertisement

Diskusi ini juga menyinggung bahwa salah satu bentuk warisan yang paling nyata ada pada kehidupan tradisional masyarakat. Namun, dalam teori pelestarian budaya, menjaga warisan tidak cukup hanya dengan menyimpannya apa adanya. Sebuah legacy tidak pernah diwariskan dalam bentuk yang statis—ia selalu bergerak dan berkembang mengikuti zaman.

Pandangan ini menekankan bahwa warisan bukan benda mati, melainkan proses hidup yang terus mengalami perubahan. Para pengajar menegaskan bahwa kunci menjaga keberlanjutan legacy terletak pada kesetiaan terhadap diri sendiri—pada nilai, praktik, dan integritas yang terus dibawa ke depan.

“Anda harus percaya terhadap identitas Anda, dengan begitu suatu ‘legacy‘ dapat hadir.” ucap Stella Budiarjo, menegaskan bahwa dampak abadi selalu berakar dari keaslian diri.

Ruang Regenerasi

Dengan dinamika dunia mode yang terus berubah, peran institusi pendidikan menjadi vital. ESMOD Jakarta memandang sekolah sebagai ruang di mana kita saling belajar, transfer ilmu pengetahuan dan berbagi antar satu sama lain. Sebuah tempat yang esensial dalam membentuk perancang masa depan.

Stella Budiarjo menyatakan filosofi di balik kurikulum ESMOD Jakarta, “Kami selalu mendorong siswa untuk bertanya, mengemukakan pendapat, bahkan memperdebatkan pandangan yang berbeda dari pengajar. Dari proses ini, kami yakin identitas dan rasa percaya diri dapat terbentuk, menjadi dasar dari ‘legacy’ yang mereka bangun.”

Sistem ini mendorong komunikasi dua arah yang memperkaya diskusi. Pendidikan merupakan agenda yang melibatkan komunikasi dua arah. Para pengajar pun mengakui bahwa mereka ikut belajar dari murid-murid mereka. Pengetahuan yang awalnya hanya dari satu pandangan, melebur menjadi dialog yang menyajikan sumber pandangan lainnya, mempersiapkan siswa untuk menghadapi realitas industri yang kompleks dan beragam.

Autentisitas Sebagai Akar Keberlanjutan

Para panelis menutup diskusi dengan konsep utama dari autentisitas. Bagaimana keaslian diri berkaitan dengan keberlanjutan. Menurut ESMOD Jakarta, perancang yang autentik adalah perancang yang bertanggung jawab sekaligus seorang visioner.

“Pada akhirnya yang membuat kita baik sebagai manusia dan perancang bisa menghadirkan keberlanjutan adalah dengan mengenal keaslian diri sendiri.” simpul Mega Saffira.

Dari perspektif bisnis, Marco Sianturi juga menekankan pentingnya mempertahankan idealisme dalam berbisnis. Ktika perancang menghadapi banyak permintaan harian, mereka tetap harus memberikan identitas mereka sendiri dalam setiap karya, sehingga memiliki merek dagang.

***

Keberlanjutan bukan sekadar tentang material ramah lingkunan atau proses produksi yang etis, tetapi juga tentang memiliki karakter merancang yang jujur, unik, dan tak lekang oleh waktu. Dengan memegang tegus otentisitas, seorang perancang akan menghasilkan karya yang relevan, bertahan lama, dan pada akhirnya menurunkan warisan yang sesungguhnya.

Teks dan foto: Nadia Indah
Editor: Mardyana Ulva

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Merayakan Keberagaman Desain Grafis Lewat ADGI Design Week 2025

Next Post

Natasha Luxe di JFW 2026: Transformasi Kecantikan Bertemu Adibusana

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.