“Basukarna” dan Kembalinya Sebuah Tradisi Kontemporer

Satya Budaya Indonesia mengangkat kisah pahlawan tragis Kakawin Bharatayuddha, Karna, dalam pementasan di Gedung Kesenian Jakarta, 17 Januari 2026.
Salah satu adegan dalam pementasan “Basukarna” dari Satya Budaya Indonesia di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu, 17 Januari 2026.

Panggung gulita mendadak terang. Dua sosok, saling berpunggung-punggungan, dibelit oleh warna selendang yang saling berlawanan; satu merah, satu hijau. Adalah Adipati Karna dari bala Kurawa yang menjadi asal nama lakon malam itu, Basukarna; dengan saudara tiri sekaligus rivalnya, Arjuna yang masyhur dari Pandawa. Adegan pembuka Basukarna yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu, 17 Januari 2026, seakan menyetel langgam pertunjukan pada petang hari itu: peraduan antara tradisi silam dan inovasi kontemporer, yang mengundang refleksi batiniah.

Kembalinya sebuah tradisi kontemporer

Pagelaran wayang orang Basukarna dibesut oleh Yayasan Satya Budaya Indonesia, kelompok tari yang beranggotakan punggawa-punggawa multi-profesi. Tidak ada yang menekuni seni pertunjukan sebagai penampil professional; justru, kebanyakan belajar menari khusus untuk pertunjukan semalam.

Ini mungkin jarang didengar sekarang, tetapi sejatinya adalah sebuah format yang populer di Jakarta pada masa pra-pandemi: mangku-mangku kenamaan Ibukota, yang memegang kursi-kursi terhormat dalam institusi besar, turun dari singgasana selama satu malam, dengan kerendahan hati tulus mengabdi bagi keberlangsungan tradisi.

Advertisement

Yayasan Satya Budaya, sejak pertama kali dibentuk pada 1 Maret 2026 oleh Ibu Endang Purnomo, telah menggelar 23 pagelaran. Tradisi yang dihelat setidaknya setahun sekali ini sempat terhenti selama pandemi COVID-19. Pementasan ke-24 ini, diresmikan oleh Retno Setiawati, Sekretaris Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, menjadi pentas pertama Yayasan Satya Budaya sejak beberapa waktu berselang. Demikianlah pementasan Basukarna bak menandai kembalinya tradisi kontemporer ini.

DR. (HC) Noni Sri Ayati Purnomo, B.Eng, M.B.A., L.H.D (HC), Ketua Umum Satya Budaya Indonesia yang baru saja diangkat memimpin kelompok ini, menjelaskan kepada DEWI. “Satya Budaya Indonesia ini, kan, perkumpulan lintas profesi; bukan melulu penari Jawa. Seperti saya, saya bukan penari Jawa,” jelas Noni.

“Topik yang kami angkat disesuaikan dengan topik yang bergaung di masyarakat… Kami ingin budaya Jawa pakem seperti ini bisa terus lestari. Saya pribadi ingin mengajak generasi muda untuk ikut belajar seperti saya.”

Sinopsis Basukarna

Basukarna adalah sebuah banjaran: memoar pendek tentang riwayat seorang karakter pewayangan. Dalam Basukarna, tokoh tersebut adalah Adipati Karna, pahlawan tragis dalam epos Bharatayuddha.

Alkisah Dewi Kunthi (Exacty Sukamdani) dari wangsa Pandawa gelisah karena mengandung dalam kerahasiaan. Ketika semedi di Taman Mandura, Batara Surya (Dewan) datang dan membantunya melahirkan lewat lubang telinga, yang dalam Bahasa Jawi Kawi disebut karna; demikianlah Basukarna (Miki Setio Utomo) alias Adipati Karna lahir. Untuk menjaga kehormatan, Dewi Kunthi melarung Basukarna ke samudra.

Tahun-tahun berlalu; lima pangeran wangsa Pandawa, anak-anak Kunthi, kini bermusuhan dengan sepupu-sepupunya, ratusan anak-anak klan Kurawa. Dalam sebuah laga yang dipimpin guru kedua keluarga, Resi Durna (Aris Mukadi), sang pangeran Arjuna (Aryo Saloko) dari Pandawa tampil tak tertandingi. Majulah Basukarna sebagai penantang; ia telah diadopsi oleh kusir klan Kurawata, Adirata, dan kini tumbuh menjadi ksatria yang sama mumpuninya dengan Arjuna.

Ketika perpecahan tak terelakkan menjadi perang, Prabu Kresna (MARSMA TNI (PUR) H. Mulyono, DS), mediator kedua klan, mengingatkan Basukarna bahwa ia sejatinya adalah bertalian darah seibu dengan Pandawa. Terawang ke masa depan menyuratkan bahwa apabila kedua saudara Arjuna dan Karna berhadapan dalam duel, salah satunya akan tewas. Basukarna, mempertahankan integritasnya sebagai ksatria yang dibesarkan oleh Kurawa, memutuskan tetap berperang di sisi klan yang membesarkannya. Demikianlah Basukarna menghadapi Arjuna—dan sesuai ramalan yang dinujumkan, tewas membela kehormatannya.

Dari masa lalu, untuk masa kini

Pementasan wayang orang Basukarna seakan menjadi pesan dari masa lalu, untuk merespon geliat masa kini. Pentas ini disutradarai Mudjo Setiyo, dengan dalang Undung Wiyono dan koreografi oleh Nanang Ruswandi. Pentas dibuka dengan permainan gamelan oleh pengrawit Sekar Tejo Trah Pakualaman dari dinasti Pakualam, Yogyakarta, dengan pentas diiringi kelompok karawitan dari Bluebird.

Ceritera pagelaran telah disederhanakan dan dimutakhirkan sesuai dramaturgi pementasan modern. Adegan penerawangan ke masa depan di akhir cerita, misalnya, adalah sepenggal pengaruh sinematik dalam pagelaran wayang orang ini. Pun, adegan ini penting untuk memberikan konteks bagi audiens yang belum familiar dengan Kakawin Bharatayuddha. Ringkasan perang Pandawa-Kurawa (yang, sejatinya, berlarut-larut sedemikian rupa) menjadi atraksi panggung yang menarik—dan secara dramaturgi, penting untuk membawa ke adegan klimaks.

Para pemeran juga berhasil membawakan dialog dalam Bahasa Jawa. Adalah sebuah pilihan berani untuk bertahan dengan pakem wayang orang, ketika baik pemeran maupun penonton kentara bukan pembicara asli Bahasa Jawa. Pun, tiap pemeran bisa membawakan Bahasa Jawa dengan luwes, bahkan dalam tataran Krama Inggil menjurus Kawi Kuna. Adegan komedi bergaya sampakan, humor improvisasi khas ketoprak Mataraman, bahkan berhasil mendulang gelak tawa penonton.

Mengingat wayang orang sejatinya adalah sebuah sendratari, koreografi juga menjadi aspek penting. Mengejutkan bahwa sejumlah pemain bahkan baru belajar tari Jawa untuk pertunjukan ini. Detail gestur dikuasai dengan baik, misalnya seperti samparan para putri ketika membuang ekor jarik, autentik khas wayang orang Mataraman. Sejumlah koreografi solo, seperti yang dimainkan Raden Irawan (Nonik Purnomo), Raden Abimanyu (Paramita Chandra Dewi), dan Raden Gatotkaca (Ayok Prasetyo), sarat dengan teatrikalitas yang menguatkan emosi dalam gerak. Dalam sejumlah koreografi kolosal, akrobat bala Kurawa dan para Cakil juga mencuri perhatian.

“Semua gerakan ini dilatih dari awal. Saya latihan privat lima kali, lalu latihan bersama empat kali,” jelas Noni Purnomo, yang juga berperan sebagai Raden Irawan.

“Saya sendiri gugup, sampai sakit perut,” ia berkelakar sambil tergelak.

Mendampingi semua permainan gerak tradisional ini adalah teknis modern. Animasi di layar belakang menambah hidup suasana, pas bagi audiens awam untuk memahami latar cerita; dari pesisir samudra hingga gurun Kuruksetra. Tata busana modern juga menambah nilai artistik, dengan palet warna yang ditata apik, hingga permainan bahan seperti luaran organza dan motif ombre; ornamentasi payet dan prada di kain; yang menguatkan perwatakan cerita.

“Indonesia ini memiliki budaya yang sangat kaya. Kami mewakili wayang orang Jawa pakem. Tetapi, pasti banyak budaya lain yang perlu kita lestarikan,” jelas Noni.

“Budaya bukan sekadar tarian saja, melainkan nilai-nilai yang sarat diajarkan di dalamnya. Misalnya, integritas; ksatriyan, rela berkorban untuk sesuatu yang lebih besar… Saya kira hal-hal ini yang penting untuk kita pelajari dan hargai.”

Kembalinya tradisi wayang orang, lewat pementasan Basukarna, adalah sebuah babak menarik dalam geliat seni pertunjukan Indonesia, kini. Ketika perkara bersuara menjadi makin pelik, telaah kakawin masa lalu nyatanya menjadi medium mumpuni untuk menyikapi lanskap sosial kita kini.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Anashera oleh Heaven Lights: Menyatukan Warisan Timur Tengah dengan Sentuhan Kontemporer

Next Post

KOREA 360 Hadirkan Temu Sapa Hangat Bersama MINHO SHINee dan HIGHLIGHT di Jakarta

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.