
Di Jakarta, waktu sering terasa seperti sesuatu yang harus dikejar. Di tengah ritme itu, Janice Tjio Atelier memilih mengambil arah sebaliknya: menciptakan ruang untuk berhenti sejenak. Showroom terbarunya bukan hanya tempat memajang desain, melainkan sebuah pengalaman batin: ruang yang mengajak kita bernapas lebih pelan, duduk lebih lama, dan hadir sepenuhnya.
“Kami mencoba untuk mencipta suasana slow living, salah satunya melalui tea room ini,” ujar Janice sembari menunjukkan ruang berdinding hijau sage nan lembut dengan pencahayaan hangat. Kalimatnya itu terasa sederhana, namun justru di sanalah kekuatannya: keinginan untuk menghadirkan kelambatan sebagai kebutuhan, bukan kemewahan yang tak perlu.
Indonesian Chinoiserie sebagai Bahasa Rasa
Konsep yang dipilih untuk tea room ini adalah Indonesian Chinoiserie, sebuah persilangan budaya yang menyatukan memori, keseharian, dan akar budaya ke dalam satu narasi yang tenang. Janice menjelaskan bagaimana dinding utama ruangan menjadi titik mula cerita. Hijau sage dipilih sebagai warna yang menenangkan sekaligus membumi, menghadirkan rasa teduh yang perlahan menyelimuti ruang.
Di antara lukisan tangan di dinding ruang teh bergaya Chinoiserie itu, burung-burung kecil beterbangan. Inspirasi ini datang bukan dari referensi besar, melainkan dari ritual pagi yang nyaris tak disadari. “Setiap pagi di balkon kantor saya selalu ada burung-burung kecil gereja berhinggap,” tuturnya.
Detail ini menjadi pengingat bahwa keindahan sering hadir dalam hal paling mundane—hal-hal yang kita lihat setiap hari, namun jarang benar-benar kita perhatikan. Di ruang teh ini, burung-burung tersebut menjadi simbol kehadiran, pengulangan, dan ritme alam yang setia.
Kanvas Kreasi sang Perancang Interior
Showroom ini sejatinya juga mencerminkan perjalanan profesional Janice yang telah hampir lima belas tahun berkarya di dunia interior. Di balik ketenangan ruang, tersimpan kegelisahan kreatif: tentang pasar yang kerap membatasi imajinasi, tentang klien yang hanya memilih antara klasik Amerika yang megah atau modern minimalis yang aman.
Janice Tjio Atelier pun tak ayal menjadi kanvas idealisme, ruang eksperimen untuk membayangkan kemungkinan lain. Pertemuan American farmhouse dengan European pied-à-terre, misalnya, disulam sentuhan Indonesia yang jujur dan hangat.
Filosofi desain Janice selaras dengan konsep quiet luxury dalam dunia mode: nyaman, berlapis, dan tidak berteriak. Material lokal seperti marmer Indonesia dan produksi dalam negeri menjadi fondasi utama, menempatkan karya-karyanya di ranah affordable luxury yang sadar konteks dan asal-usul. Bahkan ketika ada kompromi—seperti penggunaan cat dari luar negeri—pendekatan lokal tetap menjadi sikap yang disengaja.
***
Saat ini, ruang minum teh yang menjadi sorotan di showroom-nya tersebut berfungsi sebagai ruang pamer. Namun ke depan, ia akan bertransformasi menjadi ruang pertemuan klien; sebuah ruang yang tidak hanya membicarakan desain, tetapi juga memberi waktu untuk mendengarkan, merenung, dan terhubung.
Seperti secangkir teh yang dibiarkan mendingin sejenak sebelum diteguk, showroom Janice Tjio Atelier ini mengajak siapa pun yang masuk untuk berhenti sejenak, dan mengingat kembali arti hadir sepenuhnya dalam sebuah ruang.