
Ada satu hal yang hampir selalu mengundang senyum ketika melihat karya-karya Adi Gunawan untuk pertama kalinya. Patung-patung perunggunya menghadirkan figur-figur bertubuh bulat dengan pipi tembam, rambut keriting, lengan yang kokoh, dan gestur yang terasa hangat.
Ada yang saling berpelukan, bermeditasi, melakukan pose yoga, hingga mengepalkan tangan. Bentuknya jauh dari citra tubuh ideal yang kerap kita temui di media, namun justru di situlah letak kekuatannya. Melihatnya pun membuat para pemirsa karyanya bertanya-tanya, “Mengapa hampir semua figur perempuan ciptaannya memiliki tubuh yang jauh dari standar kecantikan yang kita kenal?”
Lahir dari Kegelisahan

Ternyata, bentuk tubuh yang kini menjadi ciri khas patung-patung Adi Gunawan lahir dari sebuah kegelisahan. Saat mempersiapkan pameran tunggalnya di Yogyakarta pada 2007, ia mulai mempertanyakan bagaimana media membentuk persepsi tentang perempuan cantik.
“Waktu itu saya mengangkat isu tentang perempuan. Cantik dibentuk oleh media, televisi, koran. Cantik itu tinggi, langsing, kurus, rambutnya lurus. Saya ingin melawan itu,” ujarnya saat ditemui DEWI di pameran “Alaya Kala”, sebuah pameran kolaboratif bersama SANKHARA Art, Quatro Design Studio, Theory of Living, dan POLA Studio di Astha District 8, Jakarta.
Ia bercerita bahwa cantik versinya justru berbeda. “Cantik versi saya ya gendut, bulat, kribo. Itu yang saya wujudkan dalam karya-karya, dan dari situ akhirnya berkembang dan secara tidak langsung saya menemukan gaya patung saya.”
Tubuh, Hewan, dan Metafora Kehidupan
Lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini dikenal melalui patung-patung perunggu yang mengeksplorasi relasi manusia, emosi, dan kehidupan sosial. Selain figur manusia, ia juga kerap menghadirkan sapi, banteng, atau babi sebagai metafora yang terinspirasi dari novel Animal Farm karya George Orwell. Melalui simbol-simbol tersebut, Adi mengajak penonton membaca kembali persoalan tentang kekuasaan, relasi sosial, hingga sifat-sifat manusia.
Meski mengangkat tema-tema yang serius, karya-karyanya sama sekali tidak terasa menggurui. Sebaliknya, gestur para figur yang saling memeluk, duduk berdampingan, atau bergerak bersama menghadirkan kesan akrab dan hangat, bahkan jenaka. Patung-patung itu terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, seolah sedang merayakan tubuh apa adanya beserta hubungan yang dibangunnya dengan orang lain.
***
Ruang pamerannya di Ashta kali ini pun dirancang secara kolaboratif sebagai sebuah pengalaman yang menggabungkan seni, desain interior, furnitur, dan elemen botani; mengimplementasikan elemen-elemen arsitektur rumah Jjawa khususnya Joglo. “Alaya kala” sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, dari kata alaya yang berarti tempat bernaung serta kala yang berarti waktu, sehingga secara keseluruhan mempresentasikan sebuah ruang yang menampung perjalanan, jejak dan ingatan.
Hasilnya, pengunjung dapat menikmati karya-karya Adi dalam konteks yang menyerupai ruang hidup. Di sini, patung-patung perunggunya tidak berdiri sebagai objek yang terpisah dari ruang, melainkan menjadi bagian dari percakapan tentang rumah, ingatan, dan keseharian.