
Nama John Galliano kembali menjadi sorotan menjelang Met Gala 2027. Costume Institute di The Metropolitan Museum of Art telah mengumumkan John Galliano: Horizons sebagai pameran pendamping Met Gala 2027. Dibuka untuk publik pada 9 Mei 2027, pameran ini akan membawa pengunjung menelusuri perjalanan kreatif Galliano selama hampir empat dekade.
Sepanjang kariernya, Galliano dikenal sebagai desainer yang gemar melihat kembali sejarah, seni, budaya, hingga tokoh-tokoh dari masa lalu untuk kemudian menerjemahkannya ke dalam busana. Ketertarikan tersebut sudah terlihat sejak koleksi kelulusannya di Central Saint Martins pada 1984, Les Incroyables, yang mengantarkan namanya ke perhatian industri mode.

Perjalanan tersebut kemudian membawanya mendirikan label atas namanya sendiri sebelum dipercaya memimpin rumah mode seperti Givenchy, Christian Dior, dan Maison Margiela. Di setiap rumah mode, Galliano menghadirkan pendekatan yang berbeda, tetapi tetap mempertahankan satu hal yang menjadi cirinya: kemampuan mengubah sebuah referensi menjadi dunia yang terasa utuh di atas runway.
John Galliano: Horizons, Melihat Cara Sebuah Ide Menjadi Busana

Alih-alih menyusun perjalanan Galliano semata berdasarkan urutan waktu, John Galliano: Horizons memilih pendekatan yang lebih dekat dengan cara sang desainer bekerja. Pameran ini mengajak pengunjung melihat dari mana sebuah ide berasal, bagaimana ide tersebut dikembangkan, hingga akhirnya hadir sebagai sebuah koleksi.
Dikuratori oleh Andrew Bolton, pameran ini terbagi menjadi tiga bagian: Bearings, Horizons, dan Atlas of Transformation. Bagian Bearings melihat perjalanan Galliano dalam konteks sejarah sekaligus menyentuh kontroversi yang pernah menjadi titik balik dalam kariernya. Sementara itu, Horizons mengeksplorasi berbagai sumber yang membentuk imajinasinya, dari sejarah, geografi, seni, literatur, hingga pertunjukan.
Bagian terakhir, Atlas of Transformation, membawa pengunjung lebih dekat pada proses di balik sebuah busana. Riset, sketsa, toile, fitting, hingga hasil akhir ditampilkan untuk memperlihatkan bagaimana sebuah gagasan terus berubah sebelum menemukan bentuk akhirnya.

Lebih dari 200 tampilan akan hadir bersama sketsa, fotografi arsip, aksesori, serta dokumentasi peragaan busana. Dengan demikian, yang ditampilkan bukan hanya busana yang telah selesai, tetapi juga jejak pemikiran yang mengantarkan Galliano menuju karya tersebut.
Les Incroyables et Merveilleuses di Givenchy

Salah satu contoh bagaimana Galliano mengolah sejarah menjadi busana dapat ditemukan dalam koleksinya untuk Givenchy. Setelah bergabung sebagai creative director pada 1995, Galliano membawa pendekatan yang lebih teatrikal ke dalam couture rumah mode tersebut.
Untuk koleksi Haute Couture Fall/Winter 1996, ia melihat kembali Les Incroyables et Merveilleuses, kelompok sosial di Prancis yang muncul setelah Revolusi Prancis. Dikenal melalui cara berpakaian yang berlebihan, eksentrik, dan penuh pernyataan, kelompok tersebut menjadi sumber inspirasi yang sesuai dengan ketertarikan Galliano terhadap karakter dan periode sejarah yang kuat.
Alih-alih menerjemahkannya secara harfiah, Galliano mengambil semangat dari era tersebut dan mengembangkannya melalui siluet, proporsi, serta detail couture. Hasilnya adalah koleksi yang membawa nuansa akhir abad ke-18 ke dalam perspektif yang lebih teatrikal.
Di sinilah salah satu kekuatan Galliano terlihat. Ia tidak hanya mengambil gambar dari masa lalu untuk dijadikan inspirasi, tetapi mencari karakter dan cerita di baliknya. Dari sana, referensi tersebut diolah kembali hingga terasa relevan dalam bahasa mode yang ia bangun sendiri.
Marchesa Casati dalam Dior Haute Couture Spring 1998

Ketertarikan Galliano terhadap karakter sejarah kembali terlihat ketika ia merancang Christian Dior Haute Couture Spring 1998. Kali ini, inspirasinya datang dari Marchesa Luisa Casati, sosialita dan patron seni Italia yang dikenal dengan penampilan serta gaya hidupnya yang teatrikal.
Pertunjukan koleksi tersebut berlangsung di Palais Garnier, Paris, menjadikan arsitektur gedung opera sebagai bagian dari pengalaman runway. Di atas panggung, Galliano menghadirkan gaun beludru, opera coat, lace dress, hingga aksesori kepala dengan detail yang mencuri perhatian.
Sosok Casati terasa kuat dalam keseluruhan koleksi. Karakternya yang eksentrik dan kecintaannya pada seni diterjemahkan melalui siluet yang dramatis serta detail couture yang kaya. Busana pun terasa seperti bagian dari sebuah karakter, bukan sekadar pakaian.
Pertunjukan tersebut bahkan ditutup dengan konfeti berbentuk kupu-kupu yang memenuhi runway, memperkuat atmosfer teatrikal yang sejak awal dibangun Galliano. Bagi sang desainer, presentasi tidak berhenti pada busana. Musik, lokasi, tata panggung, hingga cara seorang model bergerak menjadi bagian dari cerita yang ingin disampaikan.
Ketika Sejarah Menjadi Bahasa Mode

Melihat kembali koleksi-koleksi tersebut, terlihat bagaimana Galliano memiliki cara tersendiri dalam membaca masa lalu. Ia dapat mengambil satu periode, tokoh, atau karakter, kemudian mengembangkannya menjadi sebuah dunia yang baru.
Itulah yang membuat karya John Galliano memiliki daya tarik yang terus bertahan. Dari Les Incroyables di Central Saint Martins, karya-karyanya untuk Givenchy dan Dior, hingga eksplorasinya bersama Maison Margiela, Galliano tidak pernah berhenti mencari kemungkinan baru dari sebuah gagasan.
Melalui John Galliano: Horizons, perjalanan tersebut akan dilihat dari sudut yang lebih dekat. Pengunjung tidak hanya diajak mengenali karya-karya yang pernah menghiasi runway, tetapi juga melihat referensi, riset, sketsa, dan berbagai tahapan yang berada di baliknya.
Menjelang Met Gala 2027, pameran ini menjadi kesempatan untuk kembali memahami mengapa karya John Galliano begitu berpengaruh. Bukan semata karena busananya yang dramatis, tetapi karena kemampuannya menemukan cerita di balik sebuah referensi, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang dapat dikenakan, dipertunjukkan, dan diingat.