The Bimasena Hadirkan Wellness Week, Program Tujuh Hari Menuju Peluncuran Wellness Club
Pulang ke Diri Sendiri: Tiga Pelajaran dari Praktik Womb Healing bersama Mira Madjid

Pulang ke Diri Sendiri: Tiga Pelajaran dari Praktik Womb Healing bersama Mira Madjid

Dari simbolisme rahim sebagai ruang yang menerima dan menumbuhkan, ada tiga pelajaran tentang kesadaran, welas asih, dan ketidakkekalan yang dapat membantu kita merawat diri tanpa kehilangan kemampuan untuk merawat orang lain.
Mengenal Womb Healing
Melalui praktik womb healing, Mira Madjid mengajak perempuan kembali memperhatikan tubuh dan emosi, melatih kesadaran, serta menerima diri dengan lebih welas asih. Sebab, merawat diri bukan berarti berhenti peduli kepada orang lain, melainkan belajar memberi tanpa kehilangan diri sendiri.

Perempuan kerap terbiasa menjadi sosok yang bisa diandalkan. Di rumah, di tempat kerja, maupun dalam lingkaran pertemanan, mereka sering mengambil peran sebagai pendengar, pengasuh, dan orang yang memastikan kebutuhan orang lain terpenuhi. Namun, ketika harus menerima bantuan, mengakui kelelahan, atau menyediakan waktu bagi diri sendiri, hal itu tidak selalu terasa mudah. Ada rasa bersalah ketika beristirahat, kecenderungan menolak pujian, atau dorongan untuk terus memberi sekalipun diri sendiri sedang membutuhkan perhatian.

Melalui sesi Pulang ke Rahim: Menerima, Melepaskan, Terlahir Kembali yang diselenggarakan Boddhicitta Circle, Mira Madjid, dokter gigi spesialis periodontologi sekaligus pendiri Bodhicitta Circle, mengajak peserta meninjau kembali kebiasaan tersebut melalui praktik womb healing. Dalam pendekatan womb healing, rahim dipandang secara simbolis sebagai ruang yang menerima dan menumbuhkan. Simbolisme tersebut membuka ruang refleksi tentang kemampuan menerima yang kerap terlupakan, mulai dari bantuan dan kasih sayang orang lain hingga kebutuhan tubuh untuk beristirahat.

Praktik ini juga mengajak peserta kembali memperhatikan tubuh dan emosi melalui latihan pernapasan, meditasi, dan kesadaran diri. Tujuannya adalah mengenali apa yang sedang dirasakan, alih-alih terus bergerak secara otomatis dan mengabaikan kebutuhan pribadi. Dari pendekatan ini, ada tiga pelajaran sederhana yang dapat diterapkan dalam keseharian, tanpa harus memandang womb healing sebagai sesuatu yang harus diyakini secara spiritual.

Advertisement

1. Kesadaran: Tidak Semua Pikiran Harus Dipercaya

Pikiran dapat bergerak begitu cepat, terutama ketika kita sedang cemas, lelah, atau menghadapi ketidakpastian. Pikiran kita bisa dengan cepat mengembangkan satu saja kekhawatiran menjadi berbagai skenario buruk, sementara asumsi tentang diri sendiri (seperti bahwa diri ini pemalas dan kurang bekerja keras) lama-lama terinternalisasi hingga terasa seperti kebenaran. Tanpa disadari, kita bisa menghabiskan banyak energi untuk merespons sesuatu yang belum tentu terjadi.

“Setiap kali memulai kelas, saya selalu mengingatkan peserta untuk sadar, sadar, sadar,” jelas Mira. “Sebab, ketika kita memiliki kesadaran, kita punya pilihan untuk menentukan kapasitas mana yang ingin kita kembangkan, apakah kapasitas kebaikan atau justru sebaliknya.”

Lebih lanjut, menurutnya, melatih kesadaran berarti belajar mengambil jeda sebelum mengikuti arus pikiran tersebut. Melalui pernapasan atau meditasi, kita dapat berlatih mengenali hal yang sedang muncul dalam benak tanpa harus langsung mempercayai atau menindaklanjutinya.

Ketika muncul pikiran bahwa kita harus selalu mengiyakan permintaan orang lain, misalnya, kita bisa berhenti sejenak dan bertanya: apakah ini benar-benar kebutuhan, atau kebiasaan yang selama ini kita pelihara? Menurut Mira, kesadaran memberi kita ruang untuk memilih respons. Kita tetap dapat bertanggung jawab dan peduli kepada orang lain tanpa harus mengikuti setiap tuntutan yang muncul dalam pikiran sendiri.

2. Welas Asih: Mengakui Ketidaknyamanan Tanpa Menyalahkan Diri

Sering kali, ketika tubuh terasa lelah atau emosi sedang tidak stabil, kita justru menambah beban dengan menghakimi diri sendiri. Kita merasa tidak cukup kuat karena membutuhkan istirahat, menganggap diri terlalu sensitif karena merasa sedih, atau menyalahkan diri ketika tidak mampu memenuhi semua harapan.

Welas asih mengajak kita mengubah cara merespons pengalaman tersebut. Merasa lelah tidak membuat kita menjadi pribadi yang malas. Membutuhkan bantuan tidak berarti kita kehilangan kemandirian. Mengalami kesulitan pun tidak serta-merta menjadikan diri kita gagal.

Alih-alih menyangkal ketidaknyamanan atau memaksa diri segera merasa baik-baik saja, kita dapat mulai dengan mengakui apa yang sedang dirasakan. Jika tubuh membutuhkan istirahat, berikan ruang untuk beristirahat. Jika sedang kewalahan, izinkan diri meminta pertolongan. Jika mengalami rasa sakit yang menetap atau mengganggu aktivitas, menyikapinya dengan welas asih juga berarti mencari bantuan profesional ketika diperlukan.

Merawat diri bukan tentang menghindari segala hal yang tidak menyenangkan, melainkan belajar menghadapi pengalaman tersebut tanpa menambah penderitaan melalui penilaian yang keras terhadap diri sendiri.

3. Ketidakkekalan: Apa yang Kita Rasakan Hari Ini Tidak Mendefinisikan Selamanya

Emosi, kondisi tubuh, dan situasi kehidupan terus berubah. Namun, ketika sedang berada dalam masa sulit, kita mudah menganggap keadaan saat ini akan berlangsung selamanya. Kecemasan dapat membuat masa depan terasa menakutkan, sementara kegagalan membuat kita mempertanyakan seluruh kemampuan diri.

Memahami ketidakkekalan mengajak kita melihat pengalaman dengan perspektif yang lebih luas. Perasaan tidak nyaman tetap layak diperhatikan, tetapi tidak harus menjadi satu-satunya cara kita memandang diri sendiri. Kita bisa mengakui bahwa hari ini terasa berat tanpa menyimpulkan bahwa hidup akan selalu seperti ini.

Bagi perempuan yang terbiasa memikul banyak tanggung jawab, kesadaran ini juga dapat menjadi pengingat bahwa peran yang dijalani bukanlah keseluruhan identitasnya. Kita tidak harus selalu menjadi orang yang kuat, produktif, atau mampu menyelesaikan semuanya. Ada ruang untuk berubah, beristirahat, meminta bantuan, dan memulai kembali.

Ketidakkekalan bukan alasan untuk mengabaikan masalah atau menunda mencari pertolongan. Sebaliknya, pemahaman ini membantu kita menghadapi keadaan sebagaimana adanya, sembari mengingat bahwa pengalaman saat ini tidak menentukan seluruh perjalanan hidup.

Previous Post
BIMASENA

The Bimasena Hadirkan Wellness Week, Program Tujuh Hari Menuju Peluncuran Wellness Club

Advertisement
Sign in