Membaca “Suwung: A Space of Her Own”, Pameran Koleksi Busana Pribadi Gusti Nurul di Museum Nasional

Menelusuri perjalanan Gusti Nurul, sang Bunga Mangkunegaran, melalui busana, tradisi keraton, dan filosofi Jawa dalam pameran Suwung.
1

Dalam Waves of Weave, selembar kain dipahami sebagai medium yang menyimpan kisah tentang masyarakat pembuatnya. Material, teknik, dan motifnya menghadirkan petunjuk mengenai sejarah, kepercayaan, serta hubungan budaya yang terbentuk lintas generasi. Perspektif ini juga dapat diterapkan pada koleksi personal, ketika busana menjadi pintu masuk untuk memahami individu di baliknya.

Gagasan itulah yang mendasari “Suwung”, pameran yang menelusuri kehidupan Gusti Raden Ayu Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Kusumawardhani, yang dikenal sebagai Gusti Nurul, sang “Bunga Mangkunegaran”. Putri bangsawan Pura Mangkunegaran ini dikenang karena kecantikan, kecerdasan, dan kemandiriannya. Melalui kebaya, kain panjang batik, perhiasan, serta benda-benda personalnya, pengunjung diajak mengenal kehidupan seorang perempuan yang tumbuh dalam tradisi keraton Jawa.

Membaca Kisah di Balik Busana

2

Kurator Benny Gratha menjelaskan bahwa material, motif, dan teknik pembuatan wastra dapat membantu mengungkap sejarah, sistem kepercayaan, identitas, serta status sosial masyarakat pembuatnya. Prinsip pembacaan yang sama memberi sudut pandang menarik ketika diterapkan pada koleksi personal.

Advertisement

Busana tidak hanya menunjukkan selera berpakaian, tetapi juga memperlihatkan norma dan kebiasaan pada masa tertentu. Dalam Suwung, kebaya, kain batik panjang, perhiasan, serta benda-benda pribadi Gusti Nurul menjadi petunjuk untuk memahami lingkungan budaya yang membentuk kehidupannya. Potongan busana, pilihan kain, dan cara mengenakannya dapat dibaca dalam hubungannya dengan tradisi keraton Jawa serta kedudukan sosial seorang perempuan bangsawan pada zamannya.

Bagi Museum dan Cagar Budaya, menghadirkan koleksi semacam ini merupakan bagian dari upaya pelestarian yang mencakup aspek fisik sekaligus pengetahuan dan nilai yang melekat pada setiap benda. Indira Esti Nurjadin, Kepala Museum dan Cagar Budaya, menjelaskan bahwa pelestarian perlu memastikan nilai, pengetahuan, dan makna warisan budaya terus dipahami serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Melalui pameran ini, kami ingin mempertemukan warisan budaya dengan perspektif kontemporer, salah satunya melalui dunia mode,” tuturnya.

Kolaborasi dengan industri kreatif, menurutnya, membuka cara baru untuk memperkenalkan warisan budaya kepada masyarakat masa kini, khususnya generasi muda, tanpa melepaskan konteks sejarah yang mendasarinya.

Pendekatan tersebut terasa relevan dalam Suwung, ketika busana dan benda-benda personal Gusti Nurul dihadirkan sebagai medium untuk mengenal kehidupan, nilai, dan perubahan sosial pada masanya. Indira memandang museum sebagai ruang yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Warisan budaya, ujarnya, dapat terus menjadi sumber pengetahuan, inspirasi, dan pembelajaran, alih-alih berhenti sebagai peninggalan yang hanya dilihat atau dikagumi.

Melalui kisah Gusti Nurul, koleksi yang tersimpan di museum memperoleh konteks kehidupan yang lebih dekat dengan pengunjung, sekaligus membuka ruang untuk memahami bagaimana tradisi dan pengalaman personal saling membentuk.

Tradisi Keraton dan Pilihan Personal

3

Di antara koleksi yang ditampilkan, busana yang dikenakan Gusti Nurul ketika membawakan tari Sari Tunggal di Istana Noordeinde, Belanda, pada 1937 menjadi salah satu sorotan. Penampilannya diiringi gamelan dari Pura Mangkunegaran, Solo, yang disiarkan langsung ke Belanda melalui stasiun radio SRV. Pertunjukan tersebut merupakan hadiah dari ayahnya, KGPAA Mangkunegoro VII, untuk merayakan pernikahan Putri Juliana dan Pangeran Bernhard.

Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana tradisi keraton Jawa hadir dalam perjumpaan internasional. Busana dan pertunjukan tersebut membawa ekspresi budaya dari lingkungan Mangkunegaran ke panggung yang lebih luas, sekaligus merekam bagian penting dari perjalanan hidup Gusti Nurul.

Namun, kisahnya tidak hanya berkaitan dengan tradisi dan status yang diwarisinya. Setelah menikah dengan perwira militer R.M. Soerjo Soejarso, Gusti Nurul melepaskan status kebangsawanannya dan memilih menjalani kehidupan sebagai rakyat biasa. Keputusan tersebut membuka ruang refleksi tentang hubungan antara identitas dan kedudukan sosial, serta kemungkinan bagi seseorang untuk menafsirkan ulang peran yang dibentuk oleh lingkungan dan zamannya.

Perjalanan Gusti Nurul memperlihatkan bahwa identitas dapat memiliki banyak lapisan. Ia dibentuk oleh asal-usul, tradisi, dan ekspektasi sosial, tetapi juga berkembang melalui pengalaman serta pilihan personal. Dalam konteks ini, koleksi busananya menjadi lebih dari catatan tentang cara berpakaian seorang perempuan bangsawan; ia turut membantu kita memahami dunia yang membentuk kehidupannya dan perubahan yang menyertainya.

Suwung: Menemukan Ruang bagi Diri Sendiri

Dalam filosofi Jawa, suwung merujuk pada keadaan batin yang jernih, terbebas dari ego dan keterikatan duniawi, tetapi tetap dipenuhi kesadaran sejati. Suwung bukanlah kekosongan tanpa isi, melainkan ruang untuk mengenali diri dan memahami apa yang sungguh bermakna. Gagasan ini mengajak kita melihat melampaui penanda identitas yang tampak, termasuk gelar, kedudukan, dan ekspektasi sosial.

Melalui koleksi busana dan kisah hidup Gusti Nurul, filosofi tersebut menjadi titik refleksi tentang tradisi, identitas perempuan, dan perubahan zaman. Jika wastra menyimpan jejak masyarakat yang membentuknya, koleksi personal juga dapat membuka pemahaman tentang individu di baliknya. Setiap busana menghadirkan bagian dari konteks sosial dan budaya Gusti Nurul, sementara perjalanan hidupnya memperlihatkan bagaimana seseorang menjalani warisan tersebut dengan caranya sendiri.

A Space of Her Own menjadi benang merah dalam membaca kisah ini: ruang bagi seorang perempuan untuk memaknai dirinya di luar status yang diwariskan, tanpa kehilangan hubungan dengan akar budayanya. Kisah Gusti Nurul mengajak kita melihat warisan budaya sebagai sesuatu yang hidup, tidak hanya tersimpan dalam kain dan benda bersejarah, tetapi juga hadir dalam cara seseorang menjalani kehidupan, menentukan pilihan, dan membentuk makna bagi dirinya sendiri.

***

Pameran “Suwung” ini merupakan kolaborasi antara Jakarta Fashion Week, Majalah DEWI, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Indonesian Heritage Agency, Adhvan Media, dan ASA. Perhelatan ini juga didukung oleh FFFAAARRR, Pan Pacific Jakarta, dan Visual Merchandising Indonesia (VMID)

“Waves of Weave” dan “Suwung” hadir di Museum Nasional Indonesia, 26 Oktober 2026 hingga 8 Januari 2027.

Previous Post
LPMM Cover Image

Lomba Perancang Mode Menswear (LPMM) 2026 Rayakan Kreativitas Perancang Muda Busana Pria

Next Post
3

Glashka, Natalia Kiantoro, dan Suedeson Rayakan Beragam Sisi Perempuan di Jakarta Fashion Week 2027

Advertisement
Sign in