
Film drama politik Yellow Letters (2026) arahan sutradara Jerman-Turki Ilker Catak memenangkan Golden Bear, penghargaan tertinggi di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026, Sabtu (21/2) malam waktu setempat.
Çatak sebelumnya dikenal lewat The Teachers’ Lounge (2023) yang masuk nominasi Oscar. Namun melalui Yellow Letters, ia tampil lebih lantang. Film ini disebut sebagai karya paling politis dari 22 judul dalam kompetisi utama tahun ini—sebuah penutup yang terasa relevan di tengah perdebatan politik dunia yang membayangi perhelatan festival.
Alegori tentang Represi Otoritarian
Film ini mengikuti pasangan seniman yang pernikahannya diuji ketika mereka menjadi target pengawasan negara. Berlatar Turki kontemporer, syuting dilakukan di Berlin dan Hamburg yang “menjelma” sebagai Ankara dan Istanbul.Yellow Letters menyuguhkan alegori tentang represi otoritarian dan rapuhnya ruang privat.
Presiden juri tahun ini, Wim Wenders, sempat menuai sorotan saat menyatakan sineas “harus menjauh dari politik.” Namun saat menyerahkan penghargaan, ia memuji film tersebut karena dengan jelas menyoroti “bahasa totalitarianisme yang berlawanan dengan bahasa empatik sinema.”
Dalam pidato kemenangannya, Çatak menyerukan solidaritas lintas perbedaan: “Yang harus kita lawan adalah para otokrat dunia ini, bukan para seniman dengan opini politik berbeda. Jangan saling melawan, mari melawan mereka.”
“Kami melihat film ini sebagai sebuah firasat yang menakutkan—seperti gambaran tentang masa depan yang tidak terlalu jauh, yang sangat mungkin terjadi di negara kami juga,” katanya lagi. Menurutnya, film ini terasa begitu dekat dan mengusik, terutama bagi siapa pun yang mulai melihat tanda-tanda kekuasaan yang sewenang-wenang di negaranya sendiri atau bahkan di lingkungan terdekatnya.
Karya Indonesia di Berlinale 2026
Selain kemenangan Yellow Letters, Berlinale ke-76 juga menghadirkan film Indonesia dalam program festival. Ada Ghost in the Cell yang disutradarai oleh Joko Anwar, yang mengisahkan teror hantu di dalam penjara yang membunuh tahanan satu per satu, memaksa para narapidana mencari cara untuk bertahan hidup.
Ada pula film Monster Pabrik Rambut (Sleep No More ) arahan sutradara Edwin di Berlinale 2026 ini. Ceritanya menyoroti tiga bersaudara yang menghadapi kematian misterius sang ibu di pabrik rambut, dengan atmosfer mencekam yang menyinggung isu eksploitasi dan kerja tanpa henti.
Selain itu, ada pula Fanfictie: Volcanology dari Riar Rizaldi mengusung pendekatan eksperimental, menghadirkan sosok Franz Wilhelm Junghuhn sebagai figur zombie—simbol kritik atas cara pengetahuan kolonial kerap mengabaikan kepercayaan lokal.
Kehadiran ketiga karya tersebut menunjukkan betapa talenta kreatif Indonesia terus mengeksplorasi horor dan eksperimentasi sebagai medium refleksi sosial.
Di tengah perdebatan tentang batas antara seni dan politik, Berlinale tahun ini menegaskan satu hal: sinema tetap menjadi ruang untuk merawat empati. Dan, ketika perlu, menyuarakan perlawanan.
Foto: dok. Berlinale