
Berangkat dari eksplorasi tentang budaya yang membentuk persepsi kita tentang ‘modesty’ dalam mode, Scarf Media mengajak kita menelaah cara nilai budaya, agama, hingga norma sosial membentuk pemahaman seseorang tentang batasan dan kesopanan. Temi Sumarlin, CEO Scarf Media Indonesia, bersama Shelly Wira dari Islamic Fashion Institute hadir di panggung JFW Center Stage untuk berdiskusi dan membuka ruang untuk membahas toleransi, penghargaan atas keberagaman, serta cara setiap individu mengekspresikan dirinya tanpa melepaskan nilai-nilai yang mengakar.
Dari perbedaan istilah modest wear dan muslim wear, hingga bagaimana spiritualitas dan budaya digital memengaruhi standar berpakaian dan berperilaku, forum ini menjadi undangan untuk melihat bahwa modesty selalu lebih luas daripada apa yang tampak. Diskusi ini juga membahas bahwa cara pandang terhadap modesty dalam berpakaian tidak dapat dilepaskan dari akar budaya dan nilai yang diusung oleh masyarakatnya.
Antara Muslim Wear dan Modest Wear
Ada stigma tersendiri mengenai konsep ‘modest’ di mata publik. Mode berpakaian tertutup ini kerap dianggap identik dengan muslim wear.
“Presepsi seperti ini bisa muncul dipengaruhi oleh faktor budaya yang yang dipegang masyarakat, mengingat Indonesia merupakan negara dengan mayoritas muslim, maka pakaian yang tertutup cenderung dilihat sebagai muslim wear” ungkap Temi Sumarlin.
Di balik itu, modesty sebenarnya memiliki makna yang lebih luas, bukan hanya sekadar mode yang dipandang lekat dengan agama. Nilai-nilai kesopanan yang timbul bisa diterjemahkan dengan berbagai cara, mengikuti budaya dan konteks sosialnya. Bahkan di berbagai negara, khususnya negara dengan suhu yang cenderung rendah, modest fashion berkembang menjadi ekspresi nilai, kenyamanan, dan estetika personal.
Budaya Tak Selalu Soal Batik
Di saat yang sama, jika kita bicara tentan budaya dan mode, masyarakat masih kerap mengaitkannya dengan batik, padahal budaya bukan hanya mengenai motif batik atau tenun. Menurut Temi, budaya mencermikan perilaku, kepercayaan serta nilai hidup masyarakat. Indonesia dengan kekayaan budaya dari Sabang sampai Merauke, memiliki warisan ragam busana diiringi dengan siratan makna yang mendalam, seperti Baju Kurung Minangkabau dan Sasirangan Kalimantan.
Lebih lanjut, Temi juga menyatakan bahwa budaya seharusnya tidak sekadar dijadikan simbol visual. Sebaliknya budaya harusnya menjadi identitas yang dihidupkan kembali oleh generasi muda.
“Kalau kita tidak menggali budaya kita, lama-lama budaya itu akan hilang dari diri kita sendiri. Sedangkan budaya inilah yang justru menjadi kekuatan kita di kancah global.” ujar Temi menegaskan nilai budaya sebagai warisan.
Di era yang serba digital ini, generasi muda memiliki peran penting untuk memperkenalkan budaya melalui inovasi dan teknologi yang semakin maju. Media sosial dan ruang digital dilihat sebagai jembatan untuk memperluas pemahaman tentang mode lokal dan nilai-nilai budaya yang membalutnya.
***
Diskusi ini kembali menyoroti bahwa modesty tidak dapat dilepaskan dari konteks budaya dan identitas bangsa. Maraknya arus globalisasi, memberikan mode lokal kesempatan besar untuk dapat dikenal melalui kekayaan budayanya. Bahwa budaya adalah identitas, dan identitas adalah sumber kekuatan.
Teks: Nadia Indah
Editor: Mardyana Ulva
Foto: dok. Jakarta Fashion Week