
Industri mode yang bergerak cepat menuntut para pelaku kreatif memahami bukan hanya estetika, tetapi juga strategi bisnis yang visioner. Sebuah diskusi yang dihelat oleh Jakarta Fashion Future bersama Produksi Media Universitas Indonesia (UI) pun berupaya merespons kebutuhan ini.
Pertemuan ini membuka dialog antar pelaku ekosistem mode Indonesia, dari Svida Alisjahbana (CEO GCM Group dan Chairwoman Jakarta Fashion Week), Katharina Inkiriwang (CEO dan Co-Founder Mashiro&Co., serta RD. Andandika Surasetja (Editor in Chief DEWI Magazine dan Creative Director Jakarta Fashion Week). Diskusi ini dimoderatori oleh Edo Zen (Direktur Bisnis), menelaah bersama tantangan yang dihadapi produk lokal di era yang serba dinamis.
Fondasi untuk Keberlanjutan
Menurut Katharina, kunci untuk bertahan dalam jangka waktu yang panjang adalah dengan menguatkan fokus, konsistensi, serta kualitas. Pandangan ini merujuk pada siklus bisnis yang memposisiskan seorang pemimpin untuk terus menggodok visi dan pembaharuan. Salah satunya ia alami ketika persiapan perayaan 10 tahun Mashiro&Co. Mereka melakukan evaluasi yang menyoroti “What are people see about us?“
“Kita bekerja dalam sebuah sistem, dengan adanya pelanggan sebagai salah satu key stakeholders. Jadi kita harus tahu juga apa yang mereka inginkan, dan apa yang mereka suka ataupun tidak suka mengenai brand kita.” tegas Katharina.
Setelah mendapatkan tanggapan, tim akan melakukan perbaikan besar untuk bersiap menghadapi tantangan lima hingga 10 tahun ke depan. Ia menggaris bawahi pentingnya menganalisis penilaian pelanggan untuk membangun fondasi yang kuat dalam keberlanjutan suatu jenama.
Di samping itu, ikut hadir dilema antara mempertahankan identitas dan mengikuti perkembangan tren. Sebuah jenama tidak bisa menutup mata dari hadirnya tren, dinamika perubahan ini dianggap sebagai sebuah tantangan untuk terus berinovasi.
“Kita menganalisis tren yang ada, dari semua tren yang sedang marak, manakah yang paling relevan dengan identitas kita. Kita bisa sukses karena identitas itu.” Ujar Katharina, ia percaya bahwa jenama bisa bekerja dengan tren terbaru seiring dengan mempertahankan identitas. Ia juga menyarankan pentingnya memiliki partner dalam menjalankan proses ini.
“Kita harus memahami ide bahwa tidak semuanya harus dikerjakan sendiri, kita bisa bergerak bersama partner dan komunitas, dengan begitu rasa sepi dalam perjalanan ini akan terasa sedikit berkurang.” ujar Katharina, menyoroti peran dalam memperkuat identitas.
Kesiapan Memasuki Pasar Global
Mengenai langkah jenama lokal dalam menuju pasar global, para panelis menyampaikan aspek serta usaha yang dijalankan untuk mendorong harapan ini. Hadirnya JFW sendiri ikut membantu pemantauan kapasitas, koleksi, serta pasar suatu jenama, apakah mereka mempunyai kapabilitas untuk mengikuti tren. Para alumni Fashion Force juga seringkali diberikan kesempatan untuk melihat pasar global.
“Kami memberikan kesempatan untuk menilai capacity building dan partisipasi jenama di pasar dunia. Hal ini tentu perlu latihan yang mendalam” ungkap Svida.
Andandika juga menambahkan bahwa untuk masuk ke pasar global, jenama harus melihat arah dan tujuan dengan jelas. Di sisi yang lain, Katharina sebagai pemilik sebuah jenama lokal merasa proses masuk ke pasar global merupakan pengalaman yang unik. Ketika mendapatkan kesempatan untuk masuk ke ruang itu, pertanyaan mengenai kesiapan dan kesanggupan akan muncul menarik diri pada kebingungan.
“Saya merasa kita tidak merasa sepenuhnya siap untuk masuk ke pasar global, tetapi kita berusaha untuk siap. Jadi kita yang memutuskan, kapan kita akan siap.” tutur Katharina.
***
Diskusi ini menggaris bawahi bahwa industri mode Indonesia sedang berada di titik balik yang dinamis. Transformasi ekosistem menjadi salah satu bukti bahwa pasar lokal saat ini bergerak menemukan posisinya. Untuk benar-benar mendapatkan posisi di panggung dunia, kuncinya bukan hanya bergantung pada kreativitas, tetapi juga pada fokus, konsistensi, seta kualitas. Masa depan mode Indonesia berada di tangan para visioner yang berani mendefenisikan identitasnya dan siap menghadapi tantangan untuk menciptakan ‘legacy‘ yang mendunia.
Teks: Nadia Indah
Editor: Mardyana Ulva