Arsitektur Indonesia di Mata Andra Matin
Kepekaan akan apa yang ragam dan apa yang seragam menjadi kunci pengembangan arsitektur Indonesia




Sebagaimana hal lain tentang kebudayaan ktia, sulit menentukan apa yang paling Indonesia. Keberagaman adalah hal yang mutlak di negeri ini. Tak seperti negara-negara tetangga atau mungkin Eropa di mana elemen-elemen kebudayaannya cenderung homogen, di negeri ini setiap kota memiliki cerita, cara, dan budaya sendiri-sendiri yang tak bisa dinilai mana yang “paling Indonesia”.

Begitu pula halnya dengan budaya arsitektur. Tidak ada satu bentuk yang definitif tentang apa yang menajadi identitas arsitektur Indonesia. “Karena Indonesia itu begitu luas dan begitu beragam. Ada rumah Batak, rumah Jawa, terus rumah Bali, beda-beda. Tapi ada satu yang sama, yaitu iklim kita,” jelas Andra Matin sebelum membuka pameran “Prihal: arsitektur andramatin” di Galeri Nasional Indonesia, 27 November 2019.

Alih-alih estetika bentuk luar, menurutnya justru iklim Indonesia yang tropis yang lantas bisa menjadi benang merah arsitektur Indonesia, yakni lewat pemilihan teknik dan material. “Misalnya teboknya tidak begitu tebal karena kita ini negara tropis. Kemudian overstek bangunan dibuat lebar karena cuaca kita yang panas. Jadi yang umum ini bisa digabung jadi satu,” lanjutnya. Sementara itu, tiap-tiap daerah tetap masih bisa mengeksplorasi estetika bentuk luar mereka. Keseimbangan dalam menjaga benang merah inilah yang lantas menjadi ciri khas arsitektur Indonesia.

Pendekatan Publik

 
Maket Masjid As-Sabur & Sessat Agung di Tulang Bawang Barat, Lampung.


Selain pemilihan material. Kesadaran akan fungsi serta kebudayaan masyarakat Indonesia juga menjadi hal yang penting dalam membangun ruang. Terutama saat merancang ruang-ruang publik. Masyarakat Indonesia adalah salah satu kelompok yang paling komunal. Kita terbiasa berkumpul bersama sanak-saudara, tetangga, atau pun para sahabat.

Ruang publik juga menjadi mayoritas proyek-proyeknya, terutama di kota-kota luar Jakarta. Menurutnya kualitas ruang publik menjadi kian penting sekarang ini kala ruang-ruang privat kian menyempit.

“Maka kegiatan dan interaksi masyarakat sekarang bergeser ke ruang publik. Nah, kualitas ruang publik yang baik bisa memberikan inspirasi pengunjungnya dan mempengaruhi kualitas pola pikirnya,” ujarnya.

Salah satu proyeknya yang paling berkesan adalah Masjid As-Sabur & Sessat Agung di Tubaba Bawang Barat, Lampung. Di sana ia merancang masjid dan melihat sendiri bagaimana kemudian area tersebut menjadi lebih dari sekadar tempat beribadah, “Tetapi bagaimana arsitektur juga menjadi magnet,” katanya.

Ia melanjtukan, setelah tempat itu selesai dibangun banyak orang datang berbondong-bondong datang menikmati suasana dan saling berinteraksi satu dengan yang lain. “Menurut saya itu satu keberhasilan dalam menciptakan ruang publik,” tutupnya. (SIR). Foto: Shuliya Ratanavara.



 

 

 


Topic

Architecture

Author

DEWI INDONESIA