Revitalitasi Pusaka Rumah Rinjani
Rumah Rinjani di Malang beralih rupa dengan mengekspansi fungsi dari rumah tua bergaya kolonial menjadi sebuah tempat tinggal yang memaksimalkan derajat keelokan estetika interior dan kenyamanan hunian.


1 / 12
Merenovasi bangunan tempat tinggal bukanlah sekadar mengubah tampilannya menjadi lebih cantik, tetapi lebih kepada menyuntikkan aliran kehidupan yang baru untuk meningkatkan pengalaman visual, emosi, hingga spiritual. Ketika sebuah rumah tua dengan arsitektur dan interior kolonial kembali dihidupkan dengan sentuhan kontemporer dan modernitas, ia tidak lantas tercerabut dari identitas aslinya. Meski kini hadir dengan wajah dan spirit baru, Rumah Rinjani masih melestarikan elemen-elemen masa lampau yang masih relevan dengan situasi kini.

Proses renovasi rumah dengan luas tanah 2.083 meter persegi dan luas bangunan 2.437 meter persegi ini mulai dilakukan sejak 2012 dan berakhir pada 2018 silam, dengan penataan interior yang dipercayakan kepada Severiano dari Domus Living. Kini rumah ini terdiri dari dua bagian. Rumah utama yang merupakan bangunan asli, terletak di bagian depan. Terbagi menjadi dua bangunan di sisi kanan dan kiri yang terpisah lima meter dan terhubungkan oleh sebuah jembatan. Sementara rumah kedua terletak di bagian belakang dan baru dibangun pada saat proses renovasi. Di antara rumah utama dan rumah kedua terdapat taman dalam ruang dan kolam renang.

Sesuatu yang sudah lama tidak selalu berarti tidak bagus lagi. Banyak sekali bangunan yang tetap berdiri kokoh, bahkan lebih kuat dari bangunan yang usianya masih seumur jagung. Bangunan lama tersebut justru memiliki daya tarik tersendiri karena telah menjadi saksi bisu atas ribuan bahkan jutaan cerita kehidupan. Seperti juga dengan hunian ini. Bentuk asli bangunan rumah ini tetap dipertahankan. Namun upaya pembaharuan dan peremajaan harus tetap dilaksanakan agar penghuninya dapat memiliki kenyamanan yang ditawarkan di era modern. Upaya-upaya tersebut lebih difokuskan pada penggantian bagian-bagian yang sudah usang dan tidak layak. Mulai dari mengganti lantai, atap, pintu, jendela, hingga furnitur.

Rumah utama di sisi kanan terdiri dari dua lantai. Di sinilah ruang kehidupan utama bagi keluarga inti. Terdiri dari living room yang luas dengan pemandangan ke arah taman dalam ruang, kamar tidur utama, ruang makan, dan dapur bersih. Pada living room terdapat sebuah cermin raksasa berukuran 50 meter x 3,5 meter di sepanjang dinding dengan LED tertanam di dalamnya, memberi kesan ruangan luas ini menjadi lebih luas lagi. Sofa yang nyaman berwarna krim dan bantal-bantal bernuansa kekuningan menambah kehangatan yang biasanya sudah secara otomatis terpancar pada sebuah ruang keluarga. Pintu kaca yang mengambil satu bagian dinding dapat dibuka seluruhnya sehingga udara segar dan pemandangan meneduhkan dari kolam renang dapat terasa hingga ke dalam rumah.

Kamar tidur utama dirancang dengan istimewa, menampilkan dinding dengan wallpaper memukau oleh de Gournay yang dilukis tangan. Dinding dan pintu kaca pada kamar ini menjadikan ruang ini kaya akan cahaya pada siang hari. Saat matahari terbenam, kamar pun akan dihiasi cahaya lembut yang intim, siap mengantar sang penghuni beristirahat. Sistem pencahayaan di kamar tidur ini diletakkan secara ‘tersembunyi’. Mereka ada di bagian samping langit-langit, di sisi tempat tidur, dan juga di sekeliling bawah tempat tidur. Di belakang tempat tidur terdapat sebuah meja yang bisa digunakan untuk bekerja, terpisahkan oleh screen divider ukiran yang menerawang sehingga tidak ‘menodai’ ruang istirahat.

Dengan luasnya hunian ini, para tamu yang bermalam pun mendapatkan ruang pribadi yang mungkin tidak didapat di tempat lain. Rumah utama di sisi kiri juga dilengkapi dengan living room dan tiga kamar tidur diperuntukkan bagi para tamu tersebut.

Bersantap biasanya berfungsi sebagai perekat. Banyak kegiatan antara keluarga dan kerabat dekat terjadi di sekitar dapur dan ruang makan. Hunian ini pun seperti sebuah ‘surga’ untuk berkumpul. Selain dapur yang luas, terdapat beberapa area makan yang bisa menjadi area bercengkrama. Di dalam rumah untuk pertemuan yang lebih serius atau di luar rumah, menghadap kolam renang, untuk saat-saat lebih santai. Sementara itu, beranjak ke rumah di bagian belakang, bangunan ini lebih difungsikan sebagai area komunal dan dilengkapi dengan sarana peribadatan.

Menelusuri sudut-sudut hunian, nuansa masa lalu masih begitu kental terasa di Rumah Rinjani, berkelindan dengan imbuhan modernitas seperti pilihan furnitur dan lampu yang mengedepankan desain khas Italia. Di sini, romantisme masa lalu turut mengontribusikan kehangatan bagi ruang kehidupan.
 
(Hermawan Kurnianto) Foto: Fernando Gomulya
Artikel ini pertama kali ditayangkan di sugarandcream.co dengan judul Revivalitas Estetika Masa Lampau
 

 


Topic

Home & Architecture

Author

DEWI INDONESIA